Rochajat Harun
Objek Wisata Agro: Objek wisata ini terletak di daerah Puncak kabupaten Bogor Jawa Barat. Terkenal sejak jaman Belanda. Lokasinya mudah dijangkau karena dilintasi jalan antara Bogor- Cianjur. Hawanya yang sejuk, indah dan nyaman jauh dari gangguan polusi, sungguh banyak menarik perhatian para wisatawan asing maupun domestik. Apalagi setelah 4-5 tahun terakhir daerah wisata ini telah banyak dilengkapi dengan berbagai fasilitas bagi kebutuhan wisatawan antara lain penginapan, bungalow, areal kemping, fasilitas olahraga seperti Tea Walk, kolam renang, terbang layang dan lain-lain.
Perkebunan Teh Gunung Mas adalah salah satu unit usaha PT Perkebunan Nusantara VIII (pesero). Terletak di daerah pergunungan yang sejuk di ketinggian 700-1400 m diatas permukaan laut, dengan suhu rata-rata 18-25 derajat celsius. Karenanya Gunung Mas merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat dan rekreasi atau sekadar melepas lelah penat dari perjalanan atau kesibukan sehari-hari. Lokasinya berjarak 100 km dari arah Bandung dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Atau 80 km dari arah Jakarta menuju Puncak dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.
Tidak jauh dari objek wisata agro Gunung Mas ini, sebetulnya masih ada objek wisata lain yang cukup menarik untuk dikunjungi seperti: Taman Safari yang berada di Cisarua, Taman Bunga Nusantara yang berada di Cipanas, Taman Wisata Alam Cibodas, Danau Telaga Warna di Puncak, serta Istana Presiden yang berada di Cipanas. Hampir setiap hari terutama pada hari Sabtu, Minggu dan hari-hari liburan sekolah, lokasi wisata ini banyak dikunjungi wisatawan termasuk anak-anak sekolah.
Objek wisata agro Gunung Mas ini menyediakan berbagai fasilitas wisata antara lain:
· Tea Walk.
Tea walk adalah salah satu objek wisata utama, yaitu kegiatan rekreasi berupa jalan santai mengelilingi areal perkebunan teh. Menikmati hijaunya daun teh yang menghampar laksana permadani , bersatu dengan alam di tengah udara yang sejuk dan jauh dari polusi udara dan kebisingan. Kita juga dapat menyaksikan sendiri bagaimana pemetikan teh. Seorang pemandu akan menemani sebagai guide wisata. Kita bisa memilih rute perjalanan yang diinginkan yaitu 4km, 6km, atau 8 km.Waktu tempuh perjalanan akan berlangsung sekitar 1 sampai 3 jam.
· Areal Kemping (camping ground)
Bagi pengunjung yang ingin berkemah bersama keluarga, handai tolan, maupun para pencinta alam, mereka dapat brkemah di kawasan Gunung Mas ini yang luas (2551 ha.) dan asri disekeliling bukit dan kebun teh.
· Penginapan.
Disamping wisata satu hari (one day tour), bagi anda yang ingin bermalam di kawasan objek wisata agro Gunung Mas ini, disediakan pula penginapan yang berupa: 4 buah kamar standard, 3 unit bungalow, dan 21 unit pondokan. Tiap type memiliki harga yang bervariasi.
· Kolam Renang Anak.
Ini merupakan fasilitas terbaru, yaitu kolam renang untuk anak-anak dimana orang tua bisa asyik menggunakan fasilitas yang lain untuk orang dewasa tanpa diganggu oleh putra-putrinya. Di areal “Tirta Mas” ini tersedia 2 (dua) buah kolam renang berair sejuk dan segar yang berasal dari mata air pegunungan yang menyehatkan.
· Ruang Pertemuan.
Di kawasan Gunung Mas ini juga disediakan ruang pertemuan, yang jumlahnya 3 buah ruang untuk pertemuan, rapat kerja, atau untuk keperluan lainnya. Kapasitas ruang tersebut adalah mulai dari 30 sampai dengan 200 orang.Ruangan ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang pertemuan seperti: OHP, Wireless, sound system, white board dan lain-lain.
· Catering
Bentuk pelayanan lain kepada para pengunjung objek wisata agro Gunung Mas adalah catering service. Melayani pesanan dengan menu pilihan yang beragam, baik berupa box ataupun prasmanan / buffet. Disediakan mulai dari snack, makan pagi, makan siang, makan malam, ataupun untuk acara-acara lainnya.
· Pabrik Teh.
Di pabrik teh Gunung Mas kita dapat pula menyaksikan bagaimana teh diolah sejak dari daun hasil pemetikan, hingga menjadi teh yang telah kita kenal selama ini, yaitu berupa teh curah maupun teh celup. Kita bisa berkunjung ke pabrik teh ini secara perorangan ataupun kelompok. Kunjungan ini pasti bermanfaat, terutama bagi pelajar dan mahasiswa.
· Tea Corner & Tea Café.
Gunung Mas menyediakan pula bagi wisatawan atau pengunjung yang menyukai minum teh. Tersedia 3 (tiga) buah Café kecil dimana kita dapat minum teh asli produk Gunung Mas sambil kita bersantai bercengkrama dengan keluarga atau teman. Tentu kita akan merasakan perbedaan rasa teh di Gunung Mas ini.
· Sarana Olah Raga.
Bagi pengunjung yang senang berolah raga, disini disediakan pula berbagai fasilitas seperti: Lapang Tenis, Terbang Layang, serta Kuda Tumpakan yaitu kuda yang bisa kita tumpangi mengelilingi dan menikmati keindahan panorama kebun teh yang telah ditentukan.
Sampai kini objek wisata agro Gunung Mas telah menarik banyak wisatawan, yang menurut petugas pada tahun 2008 tercatat ada 101141 orang wisatawan domestik, dan 10233 orang wisatawan mancanegara. Diharapkan untuk tahun-tahun berikutnya akan lebih meningkat lagi. Semoga !
Rochajat Harun
Ada sebuah toko obat di jalan Tamblong, kota Bandung, yang cukup menarik perhatian saya. Di tembok toko kecil itu terpampang ngajeblag kalimat: PUTUS ASA ADALAH DOSA. TABIB MAWN. Sejak tahun 50-an sewaktu saya mulai ngumbara sekolah SMA di Bandung, tulisan itu sudah ada. Dan sampai sekarang tulisan tersebut masih tetap utuh. Maksudnya mungkin mengingatkan, agar janganlah berputus asa karena adanya penyakit yang menimpa seseorang.
Memang benar! Mengapa kita biarkan kebimbangan, kecemasan dan putus asa akan masa depan merajalela dalam sanubari kita? Hadapilah hidup hari ini dengan berbagai aktivitas. Termasuk upaya penyembuhan apabila sedang ditimpa penyakit ataupun musibah.
Beberapa psikolog, bahkan kaum agamis telah banyak memberikan cara dan teknik guna menanggulangi kekecewaan yaitu dengan menyarankan metoda Hiduplah Hari Ini. Dale Carnegie misalnya, telah mengadakan sejumlah mercobaan yang melibatkan orang-orang yang berhasil. Orang-orang yang tidak menggantungkan diri pada hari esok yang masih gelap, tetapi hanya sibuk oleh segala kegiatan hari ini. Hasil percobaan itu mereka tuangkan dalam ungkapan berikut: “Our main business is not to see what lies dimly at a distance, but to do what lies clearly at hand”. Ini adalah wejangan Thomas Carlyle.
Dan Dale Carnegie menambahkan bahwa, Doktor Osler telah menghimbau para mahasiswa di Yale University untuk memulai hari ini dengan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa: “Berilah kami rezeki pada hari ini. Ia mengingatkan mereka bahwa do’a tersebut hanya untuk memohon rezeki hari ini.
Do’a ini tidak mengajarkan untuk mengeluh tentang nasi kemarin yang telah basi, dan juga tidak mengatakan: “Oh Tuhan, kemarau sangat panjang, kami kuatir tidak mendapatkan makanan pada musim yang akan datang. Atau bagaimana saya dapat memberi makan istri dan anak-anakku, sedang saya telah kehilangan pekerjaan”. Sesungguhnya ia tidak gentar menghadapi kecemasan-kecemasan yang masih belum dapat dipastikan itu. Do’a tersebut hanya mengajarkan kepada kita untuk rezeki hari ini. Karena rezeki hari ini adalah satu-satunya rezeki yang dapat kita nikmati hari ini.
Hidup pada hari ini adalah sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW: ”Barangsiapa memasuki waktu pagi dengan perasaan aman dalam hatinya, sehat badannya, mempunyai makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia dengan segala isinya digiring kearahnya”. (H.R. al Turmudzi).
Sebetulnya kita telah memiliki dunia seluruhnya, pada hari yang dikumpulkan unsur-unsur ini semuanya di tangan kita. Karena keamanan, kesehatan dan kecukupan merupakan suatu kekuatan yang diberikan kepada akal agar dapat berpikir dengan tenang dan mantap, yang kadang-kadang dapat merubah perjalanan sejarah seluruhnya. Semua nikmat ini adalah jaminan yang besar bagi pemiliknya agar dapat menjalani masa sekarang yang sedang dihadapinya, dengan membawa hasil yang sempurna. Terlepas dari segala kesulitan dan problem.
Sesungguhnya memberati pikiran dengan kesulitan yang belum tiba waktunya itu adalah suatu kebodohan yang nyata. Kebanyakan hal ini merupakan personifikasi daripada keragu-raguan yang ditimbulkan oleh rasa bosan. Walaupun seseorang benar dalam sesuatu yang ia bayangkan, namun masa sekarang dengan suatu hal yang akan berlaku di masa datang merupakan satu kesalahan yang tidak mudah dimanfaatkan. Seharusnya seseorang memulai atau membuka harinya seakan-akan hari itu merupakan satu alam yang terpisah dari himpunan waktu dan tempat.
Seorang ulama Abu Hatim pernah menyatakan: ”Sesungguhnya antara aku dan para raja itu sama-sama berada dalam hari yang sama. Hari kemarin sudah tidak mereka rasakan lagi kelezatannya. Dan hari esok, aku dan mereka sama-sama menguatirkannya.” Jadi yang ada adalah hanya hari ini. Apa gerangan yang bakal terjadi pada hari ini. Kelezatan-kelezatan yang telah lampau sirna bersama lalunya hari kemarin. Tak seorangpun yang bisa mempertahankannya, walaupun hanya sebagian. Sedang esok, masih dalam kandungan gaib. Sama-sama dinanti oleh penguasa dan rakyat jelata.
Kehidupan pada batas-batas hari ini bukanlah berarti sama sekali tidak memikirkan masa yang akan datang atau tidak mempersiapkan diri buat masa depan. Karena menaruh perhatian dan memikirkan hari esok adalah pertanda akal sehat.
Disini terdapat perbedaan antara menaruh perhatian pada masa akan datang dan cemas memikirkannya. Antara mempersiapkan diri bagi masa depan dan hanya tenggelam didalamnya. Antara kesadaran menggunakan hari ini dan ketakutan yang samar-samar yang adakalanya berguna buat hari esok.
Rochajat Harun
Pada tanggal 17 s/d 19 Juli 2008 kami ber-enam dosen pembimbing, ditugaskan dalam rangka field study para mahasiswa pariwisata UPI berkunjung ke beberapa objek wisata pantai di kabupaten Ciamis, antara lain Pangandaran dan pantai Batu Karas. Pantai indah Pangandaran terletak di desa Pananjung, kecamatan Pangandaran, sedangkan pantai Batu Karas terletak di desa Batu Karas, kecamatan Cijulang kurang lebih 34 km dari Pangandaran.
Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata pantai, yang sudah terkenal sejak jaman Belanda, merupakan primadona pantai di Jawa Barat. Bahkan di Jaman Jepang, pantai ini terutama di teluk Pananjung pernah dijadikan tempat pendaratan tentara Jepang, sehingga disana masih terdapat beberapa guha Jepang yang dulu dijadikan tempat-tempat pemukiman / persembunyian tentara Jepang yang berniat menyerang tentara Belanda.
Objek wisata pantai Pangandaran terletak 92 km arah selatan kota Ciamis. Beberapa tahun yang lalu apalagi setelah dilanda oleh gelombang Sunami, sebagian pantai terutama rumah-rumah penduduk, kios dan warung makanan dan lain-lain, banyak yang rusak berat. Bahkan ada beberapa pondok wisata yang masih belum direhabilitasi.
Tapi kini objek wisata Pangandaran telah menggeliat indah dan rapih. Bagaikan janda kembang yang sedang bersolek yang selalu menanti kedatangan wisatawan baik domestik maupun mancanagara. Banyak hotel-hotel yang sudah dibangun, dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih menyenangkan. Pantainya tidak lagi sekotor seperti tempo dulu, sebab para pedagang kaki lima sudah ditertibkan. Tidak lagi berceceran ditepi pantai, hingga tak enak dipandang dan banyaknya sampah berserakan. Kini mereka ditempatkan berjajar rapih sebelah dalam dari jalan aspal pantai. Sepanjang pinggiran jalan aspal bersebelahan dengan pantai telah pula dibangun pagar tembok yang cukup kuat, sehingga mampu menahan air laut apabila terjadi gelombang pasang.
Ada beberapa hotel yang mempunyai nuansa seperti Bali. Seperti hotel Nyiur Indah, yang berlokasi di Jalan Bulak Laut, dimana kami beserta para mahasiswa pariwisata UPI nginap. Saya punya kesan seperti hotel di pulau Bali. Baik penataan ruangan, kolam renang, pertamanan dan pelayanannya. Cuma tidak ada pura, dupa dan tempat sesajen saja. Kemungkinan arsiteknya orang Bali atau setidak-tidaknya meniru gaya dan arsitektur perhotelan di Bali. Namun demikian, nginap di hotel yang satu ini cukup berkesan, segar dan menyenangkan.
Objek wisata pantai Pangandaran ini memiliki berbagai keistimewaan, antara lain:
· Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama;
· Pantainya landai dengan air laut yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama, sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman;
· Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih;
· Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai;
· Tersedia tim penyelamat wisata pantai;
· Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.
Dengan adanya faktor-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang ke Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam seperti berenang, berselansar, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, parasailing, jetski dan lain-lain.
Ada acara tradisional yang menarik terdapat di Pangandaran ini yaitu Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilakukan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.
Event pariwisata yang bertaraf internasional yang selalu diadakan pada setiap bulan Juni atau Juli yaitu Festival Layang-layang Internasional ( Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kesenian pendukungnya seperti musik tradisional dangdut, wayang golek dan lain-lain. Pada acara ini kami pun beserta seluruh mahasiswa peserta Field Study ikut menyaksikan festival layang-layang ini pada hari Sabtu siang tanggal 19 Juli 2008. Peserta festival, selain dari Indonesia, juga ada yang dari Malaysia dan Singapore. Menarik juga. Apalagi model layang-layangnya berbeda dengan model Indonesia.
Tidak jauh dari objek wisata pantai Pangandaran ini, sebetulnya masih ada beberapa objek wisata pantai lain yang cukup menarik bagi wisatawan. Antara lain Pantai Batukaras, Pantai Batu Hiu, Gua Donan, Green Canyon atau Cukang Taneuh, cagar alam Pananjung, pemandian alam Citumang, Pantai Karang Nini, Pantai Lembah Putri, Pantai Keusik Luhur, dan Pantai Karang Tirta.
Objek wisata pantai Batu Karas, ternyata banyak juga diminati wisatawan asing. Di sana terdapat beberapa pondok wisata dan hotel. Demikian pula camping ground yang cukup luas diminati banyak para pelajar dari berbagai daerah di Jawa Barat. Objek wisata yang satu ini merupakan perpaduan nuansa alam antara objek wisata Pangandaran dan Batu Hiu, dengan suasana alam yang tenang, gelombang laut yang bersahabat. Pantainya landai membuat pengunjung kerasan tinggal di kawasan ini. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan selain berenang antara lain berperahu di bengawan, berkemah, berselancar, serta merenungi dan menikmati keindahan alam yang tenang menentramkan.
Rochajat Harun
Teh impor yang masuk ke Indonesia terus mengalami kenaikan sejak tahun 1999. Berdasarkan data International Tea Comittee London pada tahun 2007, teh impor yang masuk mencapai 9.500 ton. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan dengan tahun 1999 yaitu sebesar 1.600 ton dan kebanyakan dari Kennya, Cina, India, dan Papua Nugini (Pikiran Rakyat, 24 Juli 2008 halaman 8).
Ini sungguh cukup mengejutkan, dimana dulunya kita pernah merupakan salah satu negara penghasil teh terbesar yang mengekspornya ke beberapa negara di Eropah, bahkan sejak jaman Belanda.
Peningkatan impor teh tersebut terutama disebabkan adanya peluang pasar di dalam negeri Indonesia. Teh impor ini ada ang langsung dikonsumsi atau diolah kembali untuk diekspor ulang. Teh yang langsung dikonsumsi biasanya bisa kita lihat di hotel-hotel berbintang, kafe, kedai teh, dan restoran. Hal ini pernah dituturkan oleh Atik Dharmadi, Ketua Asosiasi Teh Indonesia.
Ada juga, walaupun sebagian kecil, produk teh impor tersebut yang dicampur dengan teh lokal yang kemudian diekspor kembali . Misalnya saja campuran 70% teh Indonesia, 10% teh Srilanka, 20% teh Cina. Campuran tersebut diminati juga oleh pasar luar negeri, sehingga diekspor kembali.
Tingginya produk teh impor tersebut dapat mengancam peluang pasar teh lokal di dalam negeri. Saat ini, permintaan pasar jenis teh yang dijual di hotel berbintang dan kafe semakin meningkat. Sementara produk teh lokal pasarnya itu-itu saja. Info ini benar-benar membuat hati semakin terenyuh. Produk teh lokal seperti Teh Hijau Cigasong dari Tasikmalaya dan Garut, semakin terpuruk. Nantinya mungkin tinggal kenangan namanya saja.
Beberapa ahli dan pemasaran teh, sempat menyayangkan terhadap membanjirnya impor teh ini. Ada yang mengatakan kurangnya perhatian terhadap kebijakan ekspor impor termasuk penelitian dan pembahasan mengenai fenomena naiknya impor teh ini. Untuk ekspor saja harus memiliki sertifikasi, namun untuk ekspor teh ke Indonesia persyaratannya kurang dipenuhi secara optimal.
Beberapa minggu yang lalu saya pernah berbelanja buah-buahan di toko swalayan Borma Margahayuraya Kota Bandung.. Tadinya yang saya cari adalah buah-buahan lokal, baik jeruk maupun mangga. Ternyata tidak ada. Yang ada adalah berbagai jenis buah-buahan impor, tentunya dengan harga yang relatif cukup tinggi bila dibanding dengan harga buah-buahan lokal. Sebagai contoh misalnya:
· Jeruk Lookam Mandarin....................... Rp 9.950,-
· Apel Royal Gala Perancis......................Rp19.950,-
· Pear Shandong .......................................Rp 6.950,-
· Jeruk Onkam Taiwan ........................... Rp12.950,-
· Mangga Bangkok ................................. Rp 8.950,-
· Apel Fuji RRC Super ........................... Rp15.950,-
· Jeruk Kino Pakistan ............................. Rp 7.700,-
· Apel Pasific Rose Perancis................... Rp21.950,-
Melihat banyaknya produk buah-buahan luar negeri tersebut, hati semakin terenyuh, dan bertanya-tanya: Kemana atuh itu jeruk Garut, Apel Lembang atau Malang, Mangga Indramayu dan Probolinggo? Apakah stok beras yang tersimpan di BULOG itupun asalnya dari impor luar negeri juga ?.
Beberapa bulan yang lalu Menteri Pertanian dengan penuh optimisme menyatakan bahwa Indonesia nanti akan mengekspor beras. Namun apa yang dipidatokan dengan kenyataan sekarang sangat berbeda. Pada bulan-bulan ini, hampir diseluruh kabupaten di Jawa Barat mengalami kekeringan atau banyaknya gangguan hama penyakit yang menyerang padi sehingga gagal panen atau puso. Terutama di kawasan lumbung padi jalur pantura seperti Subang, Karawang, Bekasi dan Cirebon. Dilaporkan produksi padi menurun, hingga bisa mengganggu ketahanan pangan secara nasional. Bukan mustahil impor beraspun akan mulai dilakukan lagi.
Fenomena-fenomena kenaikan impor beberapa komoditas pertanian tersebut, kini malahan telah dijadikan isue-isue nasional maupun regional, dalam rangka kampanye PilPres, PilGub maupun PilKab, yang kini sudah mulai memanas. Saya jadi teringat pada ucapan lugu dari mang Ade dari Ujungberung penjaja kurupuk aci kawung asal Leuwi Munding Majalengka yang mnyatakan: Kurupuk ieu teh dingaranan kurupuk Malarat, karena tidak digoreng nganggo minyak kalapa, namung digarang diluhureun keusik panas. Langkung aman jalaran teu ngandung kolesterol sinareng minyak. Nu mawi dingaranan Kurupuk Malarat teh, margi seueur dipaleseran ku jalmi-jalmi nu malarat sareng miskin, margi kiwari sagala awis sareng sagala sesah. Kanggo meser kurupuk ieu mah cekap ku Rp3.000,- sa’os na. Kantun lep we dituang. Aman geura !
Oleh Endang A. Sutisnadi Hiji desa di kota Kuningan..desa anu kungsi (Insya Allah saterasna) kapatri dina ati..nya di ieu desa kuring kungsi ngarasa bangga jadi budak leuweng atawa gunung nu kiwari geus teu bisa kaalaman ku genersai ayeuna, dina samemeh usum panen kacipta kuring sarengsena sakola nya ka sawah bari mawa bekel saayana nungguan manuk pi’it anu nyerang pare nu keur memejeuhna paneneun, hoyah..hoyah..halik siah..minggat mun geus seubeuh” gorowok teh baru rikat ngabetot tali nu nalian bebegig..berrrr si pi’it saparakanca teh hiber ka sawah nu sejen (pinter nya) duka ayeuna aya keneh kitu manuk pi’it teh, aya deui manuk heulang (elang jawa kituh) muih di luhur bari panon ngawaskeun anak hayam nu misah jeung bikangna..aya keneh heulang teh kitu ayeuna????? ret kana munding hmmm coba rasakeun kulit leungen jeung kulit bitis mun urang pas aya dina luhur awak munding.hiyyy ginggiapeun tuda tapi da teu kapok hayang deui-hayang deui numpak munding teh..aya keneh munding di lembur??? nu bedas ngagaru sawah teu pernah ngarasa cape!! aya keneh kitu ayeuna munding nu ngawuluku atawa geus di ganti ku munding Jeoang atawa mesin traktor nu pasti bahan bakarna ku bensin anu matak jadi polusi jeung racun kana sawah!!! saha anu pernah nyieun sasaungan di pasir sisi gunung??? hmmm bari meuleum sampeu atawa jagong nepi ka tutung tapu da rasana edot bae..kungsi baheula kuring jang pada batur ulin di sasaungan di sisi gunung can ge meuleum jagung da kaburu aya bagong!!! aya keneh kituh bagong teh di lembur kuring, sakapeung kungsi aya kidang lumpat ka lembur di berik ku sadesa tapi sang kidang lumpatna taya tandingna (pantes mobil jepang aya ni di merekkan Kijang “memang tiada duanya” aya keneh kitu kidang di lembur kuring..monyet!! kamana eta kunyuk teh nu baheula ting gurawil dina tangkal di Pamalayan kamarana atuh silaing teh..sieun ku manungsa anu jahat atawa geus teu aya nu bisa di lebok..duka kamarana ayeuna moyet di lembur kuring teh?? Gatrik, adu pinci,gepak sodor, bebentengan, jiglong..ayeuna masih keneh aya kituh barudah dina mangsa caang bulan ulin babarengan uucingan??? kamana kabogoh kuring nu baheula nu geulis ku ambucuy meni pikaedaneun..Kiwari desa kuring loba nu ngajugjug reh ayeuna aya tempat rekreasi nu karek kapanggih nyaeta “lembah cilengkrang” kade kuring amanat ulah ngaruksak nu geus jadi hak!! ulah nambahan sangsara kana sasatoan, tatangkalan jeung nu sejenna!! cag ah sakieu heula coretan Budak Pajambon, salam ka N. Gunadi, kang Ajun sareng ka sadayana baraya di tatar Kuningan.
Sumber Lembur Kuring
Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad ke-7 hingga abad ke-16) pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang. Hampir secara umum penduduk Bogor mempunyai keyakinan bahwa Kota Bogor mempunyai hubungan lokatif dengan Kota Pakuan, ibukota Pajajaran.
Asal-usul dan arti Pakuan terdapat dalam berbagai sumber. Di bawah ini adalah hasil penelusuran dari sumber-sumber tersebut berdasarkan urutan waktu: Naskah Carita Waruga Guru (1750-an). Dalam naskah berbahasa Sunda Kuna ini diterangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat pohon Pakujajar. K.F. Holle (1869). Dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku, beserta sungai yang memiliki nama yang sama. Di sana banyak ditemukan pohon paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar ("op rijen staande pakoe bomen"). G.P. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian "paku", akan tetapi harus diartikan "paku jagat" (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. "Pakuan" menurut Fouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai "berdiri sejajar" atau "imbangan" (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti "Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit". Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433. R. Ng. Poerbatjaraka (1921). Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata "Pakuan" mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno "pakwwan" yang kemudian dieja "pakwan" (satu "w", ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan "pakuan". Kata "pakwan" berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti "istana yang berjajar"(aanrijen staande hoven). H. Ten Dam (1957). Sebagai Insinyur Pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian "Pakuan" ada hubungannya dengan "lingga" (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian "paku". Ia berpendapat bahwa "pakuan" bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata "pajajaran" ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara Sungai Besar dengan Sungai Tanggerang (disebut juga Ciliwung dan Cisadane). Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama "Pajajaran" muncul karena untuk beberapa kilometer Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau "Dayeuh Pajajaran".
Sebutan "Pakuan", "Pajajaran", dan "Pakuan Pajajaran" dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.
Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi "Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).
Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut "pakuan" itu adalah "kadaton" yang bernama Sri Bima dan seterunya. "Pakuan" adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu "istana yang berjajar". Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri. Diperkirakan ada lima (5) bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin yang biasa disebut dalam peristilahan klasik "panca persada" (lima keraton). Suradipati adalah nama keraton induk. Hal ini dapat dibandingkan dengan nama-nama keraton lain, yaitu Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam.
Karena nama yang panjang itulah mungkin orang lebih senang meringkasnya, Pakuan Pajajaran atau Pakuan atau Pajajaran. Nama keraton dapat meluas menjadi nama ibukota dan akhirnya menjadi nama negara. Contohnya : Nama keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang meluas menjadi nama ibukota dan nama daerah. Ngayogyakarta Hadiningrat dalam bahasa sehari-hari cukup disebut Yogya.
Pendapat Ten Dam (Pakuan = ibukota ) benar dalam penggunaan, tetapi salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa ibukota kerajaan Sunda itu bernama "Dayo" (dayeuh) dan terletak di daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Nama "Dayo" didengarnya dari penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata "dayeuh" (bukan "pakuan") bila bermaksud menyebut ibukota. Dalam percakapan sehari-hari, digunakan kata "dayeuh", sedangkan dalam kesusastraan digunakan "pakuan" untuk menyebut ibukota kerajaan.
Untuk praktisnya, dalam tulisan berikut digunakan "Pakuan" untuk nama ibukota dan "Pajajaran" untuk nama negara, seperti kebiasaan masyarakat Jawa Barat sekarang ini.
Lokasi Pakuan
Naskah kunoDalam kropak (tulisan pada lontar atau daun nipah) yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita Parahiyangan. Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima, Punta, Narayana Madura Suradipati:
"Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Ci Pakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa."(Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai [dibangun] lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Ci Pakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).Dari sumber kuno itu dapat diketahui bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari "hulu Ci Pakancilan". Hulu sungai ini terletak di dekat lokasi kampung Lawanggintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Ci Pakancilan. Hanyalah juru pantun kemudian menerjemahkannya menjadi Ci Peucang. Dalam bahasa Sunda Kuna dan Jawa Kuna kata "kancil" memang berarti "peucang".
Berita-berita VOCLaporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC ("Verenigde Oost Indische Compagnie"/Perserikatan Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni. Karena Inggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC ("East India Company"), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC disebut Kumpeni Inggris.
Setelah mencapai persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.
Laporan ScipioDua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah:
Catatan perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik "Unitex" sekarang. Catatannya adalah sbb.: "Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni". Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat "Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit". Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran. Dari perjalanannya disimpulkan bahwa jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan "kesan wajah" kerajaan hanyalah "Situs Batutulis".
Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, "dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort" (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja "Jawa" Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).
Rupanya laporan penduduk Parung Angsana ada hubungannya dengan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau dan ini telah menumbuhkan khayalan adanya hubungan antara Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau.
Laporan Adolf Winkler (1690)Laporan Scipio menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. Pasukan Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur.
Perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut :
Seperti Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut "twee lanen". Hal ini tidak bertentangan Scipio. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku. Karena itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.
Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi "parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak ("de diepe dwarsgragt van Pakowang") yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.
Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks "Unitex" itu pada jaman Pajajaran merupakan "Kebun Kerajaan". Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti "tanam, tanaman atau kebun". Tajur Agung sama artinya dengan "Kebon Gede atau Kebun Raya". Sebagai kebun kerajaan, Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya.
Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku "Tulus Rejo" sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke "Sekip" dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung. Di Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan ("het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben"). Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan tujuh (7) batang pohon beringin. Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Bautulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca ("Purwa Galih"), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh "Gang Amil". Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Bale kambang ini adalah untuk bercengkrama raja. Contoh bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jalan Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan "benteng batu" yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara). Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang.
Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa "Istana Pakuan" itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8 1/2 baris (Ia menyebut demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup). Yang penting adalah untuk kedua batu itu Winkler menggunakan kata "stond" (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 th (sejak Pajajaran burak, bubar atau hancur, oleh pasukan Banten th 1579), batu-batu itu masih berdiri, masih tetap pada posisi semula.
Dari tempat prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut Purwakalih, 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana terdapat tiga buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara "Kabuyutan" Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad ini, "pohon campaka warna" (sekarang tinggal tunggulnya) terletak tidak jauh dari alun-alun.
Laporan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709)Abraham adalah putera Joan van Riebeeck pendiri Cape Town di Afrika Selatan. Penjelajahannya di daerah Bogor dan sekitarnya dilakukan dalam kedudukan sebagai pegawai tinggi VOC. Dua kali sebagai Inspektur Jenderal dan sekali sebagai Gubernur Jenderal. Kunjungan ke Pakuan tahun 1703 disertai pula oleh istrinya yang digotong dengan tandu.
Rute perjalanan tahun 1703: Benteng - Cililitan - Tanjung - Serengseng - Pondok Cina - Depok - Pondok Pucug (Citayam) - Bojong Manggis (dekat Bojong Gede) - Kedung Halang - Parung Angsana (Tanah Baru).
Rute perjalanan tahun 1704: Benteng - Tanah Abang - Karet - Ragunan - Serengseng - Pondok Cina dan seterusnya sama dengan rute 1703.
Rute perjalanan tahun 1709: Benteng - Tanah Abang - Karet - Serengseng - Pondok Pucung - Bojong Manggis - Pager Wesi - Kedung Badak - Panaragan.
Berbeda dengan Scipio dan Winkler, van Riebeeck selalu datang dari arah Empang. Karena itu ia dapat mengetahui bahwa Pakuan terletak pada sebuah dataran tinggi. Hal ini tidak akan tampak oleh mereka yang memasuki Batutulis dari arah Tajur. Yang khusus dari laporan Van Riebeeck adalah ia selalu menulis tentang "de toegang" (jalan masuk) atau "de opgang" (jalan naik) ke Pakuan.
Beberapa hal yang dapat diungkapkan dari ketiga perjalanan Van Riebeeck adalah:
Alun-alun Empang ternyata bekas alun-alun luar pada zaman Pakuan yang dipisahkan dari benteng Pakuan dengan sebuah parit yang dalam (sekarang parit ini membentang dari Kampung Lolongok sampai Ci Pakancilan). Tanjakan Bondongan yang sekarang, pada jaman Pakuan merupakan jalan masuk yang sempit dan mendaki sehingga hanya dapat dilalui seorang penunggang kuda atau dua orang berjalan kaki. Tanah rendah di kedua tepi tanjakan Bondongan dahulu adalah parit-bawah yang terjal dan dasarnya bersambung kepada kaki benteng Pakuan. Jembatan Bondongan yang sekarang dahulunya merupakan pintu gerbang kota. Di belakang benteng Pakuan pada bagian ini terdapat parit atas yang melingkari pinggir kota Pakuan pada sisi Ci Sadane. Pada kunjungan tahun 1704, di seberang "jalan" sebelah barat tempat patung "Purwa Galih" ia telah mendirikan pondok peristirahatan ("somerhuijsje") bernama "Batutulis". Nama ini kemudian melekat menjadi nama tempat di daerah sekitar prasasti tersebut.
Hasil PenelitianPrasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan "cetakan tangan" untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada empat orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.
Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisannya, Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg atau "Angka tahun pada Batutulis di dekat Bogor", Pleyte menjelaskan,
"Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran's koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten".(Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih terpercaya, kampung Batutulis yang sekarang terarah sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran; masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat).Sedikit kotradiksi dari Pleyte: meski di awalnya ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.
Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas "Dalem Kitha" (Jero kuta) dan "Jawi Kitha" (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah "kota dalam" dan "kota luar". Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis.
Peneliti lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa "Leuwi Sipatahunan" yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ci Liwung di dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasik, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi para puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari "Leuwi Sipatahunan" itu.
Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen "Cakrabirawa" (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama "Mila Kencana". Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawanggintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini "Kuta Maneuh".
Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler (kunjungan ke Batutulis 14 Juni 1690). Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata "paseban" dengan tujuh batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas "balay" yang lama.
Panelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawangsaketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, "Lawang Saketeng" berarti "porte brisee, bewaakte in-en uitgang" (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawangsaketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.
Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Ci Pakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang Jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara Jalan Suryakencana dengan Jalan Roda di bagian ini sampai ke Gardu Tinggi sebenarnya didirikan pada bekas pondasi benteng.
Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ci Liwung. Deretan kios dekat simpangan Jalan Siliwangi - Jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ci Liwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyilang Jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jalan Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.
Di Kampung Lawanggintung benteng ini bersambung dengan "benteng alam" yaitu puncak tebing Ci Paku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Ci Pakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Ci Pakancilan memisahkan "ujung benteng" dengan "benteng" pada tebing Kampung Cincaw.
Pemerintahan di Pakuan PajajaranKejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) Raja Majapahit tahun 1478 telah mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi. Ia diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang isterinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah bertunangan.
Dalam Carita Parahiyangan disebutkan "estri larangan ti kaluaran". Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit. Selain itu, menurut "perundang-undangan" waktu itu, seorang wanita yang bertunangan tidak boleh menikah dengan laki-laki lain kecuali bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan.
Dengan demikian, Dewa Niskala telah melanggar dua peraturan sekaligus dan dianggap berdosa besar sebagai raja. Kehebohan pun tak terelakkan. Susuktunggal (Raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala) mengancam memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata).
Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.
Masa akhir kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran berlangsung selama 97 tahun, yang secara berturut-turut dipimpin oleh
Sri Baduga Maharaja (1482 - 1521) Surawisesa (1521 - 1535) Ratu Dewata (1535 - 1534) Ratu Sakti (1543 - 1551) Ratu Nilakendra (1551 - 1567) Raga Mulya (1567 - 1579) Sri Baduga Maharaja
Zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.
Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran
Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).
Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:
"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".
(Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).
Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.
Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):
"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".
Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).
Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).
Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.
Keterangan tetang bubat yang dimuat harian Suara Merdeka adalah sebagai berikut:
"Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda itu terjadi di desa Bubat. Perang ini dipicu oleh ambisi Maha Patih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Pada saat itu sebenarnya antara Kerajaan Sunda dan Majapahit sedang dibangun ikatan persaudaraan, yaitu dengan menjodohkan Dyah Pitaloka dengan Maharaja Hayamwuruk. Nah Rombongan Kerajaan Sunda ini di gempur oleh pasukan Mahapatih Gajah Mada yang menyebabkan semua pasukan Kerajaan Sunda yang ikut rombongan punah. Akibat perang Bubat inipula, maka hubungan antara Mahapatih Gajah Mada dan Maharaja Hayamwuruk menjadi renggang".
Ada sebuah pustaka yang bisa dijadikan rujukan, Guguritan Sunda, yang Mengisahkan gejolak sosial dan pecahnya perang di Desa Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda dan gugurnya Mahapatih Gajah Mada secara misterius. Alih bahasa oleh I Wayan Sutedja (sepertinya pustaka aslinya ditulis dalam Bahasa Bali, 1995. disimpan di Universitas Ohio.
Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan SosialTindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.
Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".
Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.
Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".
Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.
"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.
Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).
Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.
Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.
Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.
Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.
Beberapa peristiwa di masa pemerintahannya menurut sumber-sumber sejarah:
Carita ParahiyanganDalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).
Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.
Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.
Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.
Surawisesa
Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis Carita Parahiyangan memang berkaitan dengan hal ini. Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d'Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan. Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu) Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangai 21 Agustus 1522. Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan. Namun, sumber Portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan "Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield". Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua "costumodos" (kurang lebih 351 kuintal). Perjanjian Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana, Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Samudra Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan yang menjadi Senapati Demak. Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya Barkta Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah. Selain itu Fadillah masih terhitung cucu Sunan Ampel (Ali Rakhmatullah) sebab buyutnya adalah kakak Ibrahim Zainal Akbar ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I). Barros menyebut Fadillah dengan Faletehan. Ini barangkali lafal orang Portugis untuk Fadillah Khan. Tome Pinto menyebutnya Tagaril untuk Ki Fadil (julukan Fadillah Khan sehari-hari). Kretabhumi I/2 menyebutkan, bahwa makam Fadillah Khan (disebut juga Wong Agung Pase) terletak di puncak Gunung Sembung berdampingan (di sebelah timurnya) dengan makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat (1913) menganggap Fadillah identik dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan Arya Burah] Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh laskar Pajajaran. Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa memancangkan Padrao pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane "Rio de Sa Jorge". Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu. Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana (Walasungsang atau bernama pula Haji Abdullah Iman). Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang. Meskipun, Cirebon sendiri sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan (bahkan Sultan Trenggana tebunuh), kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, maka Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari. Perang Cirebon - Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan Pasukan meriam Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas". Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh. Sumedang masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon dengan dinobatkannya Pangeran Santri menjadi Bupati Sumedang pada tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri adalah cucu Pangeran Panjunan, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah Syekh Datuk Kahfi pendiri pesantren pertama di Cirebon. Ia menjadi bupati karena pernikahannya dengan Satyasih, Pucuk Umum (Unun?) Sumedang. Secara tidak resmi Sumedang menjadi daerah Cirebon. Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten). Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya. Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat sasakala (tanda peringatan) buat ayahnya. Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. Itulah Prasasati Batutulis yang diletakkannya di Kabuyutan tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa lingga batu ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi padatala ukiran jejak kaki. Mungkin pemasangan batutulis itu bertepatan dengan upacara srada yaitu "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi. Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, berasal dari Kerajaan Tanjung Barat yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekarang. Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati yang kesemuanya penguasa di Tanjung Barat. Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu Kawung Pandak). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut jalan Banten lama (oude Bantamsche weg)]. Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai sasakala untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di Padaren. Di antara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babad maupun pantun. Babad Pajajaran atau Babad Pakuan, misalnya, semata mengisahkan "petualangan" Surawisesa (Guru Gantangan) dengan sebuah cerita Panji.
“Hai… masih menunggunya di bawah pohon? Kamu tahu pohon milik siapa? Kamu tahu ikan yang sedang beterleur itu punya siapa? Kamu tahu pasangan ikan itu”, tanya angin pada lelaki yang masih tetap setia menunggu di bawah pohon rindang yang sedang mulai berbunga. Dan lelaki itu asyik melihat ikan yangs edang gemuk karena diperutnya tersimpan telur-telur ikan yang beberapa saat ini akan ditetaskan.
“Aku tahu siapa pemilik semua ini, semuanya adalah milik mahapencipta, kita tidak memilikinya. Aku percaya pohon ini meskipun milik orang lain, tapi dia setia meneduhiku, aku tahu ikan itu milik orang lain dan ikan sudah punya pasangannya, tapi aku percaya ikan itu selalu menemuiku di sini”, kata lelaki itu sambil melihat ikan yang sedanga syik dengan pasangannya menjaga telurnya sedang berada dalam perutnya.
“Kamu tidak bosan, kamu tidak lelah, kamu tidak jenuh? Menunggu dia datang kembali?”, tanya angin pada lelaki itu.
“Aku tidak akan jenuh, tidak akan bosan bahkan senang karena dihatiku masih ada rindu untuknya, dan aku masih merasakan bisikannya yang lembut dan halus
Aku ini orang angkuh Aku ini orang sombong
Aku tidak mau menerima saran orang lain karena aku merasa paling tahu Aku tidak mau menerima kritikan orang lain karena aku tidak siap dikritik Aku tidak mau diajak kerja sama oleh orang lain karena aku merasa bisa sendiri tanpa orang lain Aku tidak mau menerima arahan orang lain karena aku lebih dari dari dia
Aku merasa paling benar, orang lain itu salah Aku merasa paling pertama, orang lain hanya mengikuti Aku merasa paling segalanya, orang lain banyak kelemahannya
Jika aku tidak berhasil, aku suka menyalahkan orang lain Jika aku gagal, aku suka menuduh orang lain yang bukan-bukan Jika aku berhasil, aku suka meremehkan orang lain
Aku adalah orang yang paling tahu dari orang lain
Aku adalah orang yang paling sombong dan paling angkuh
[aku merenung: jika aku tanpa orang lain, akan bisakah seperti hari ini?]
Huruf-huruf akan memiliki arti apabila dirangkai menjadi sebuah kata. Biasanya huruf-huruf konsonan dan vokal bila bersatu akan memiliki arti khusus. Sebuah kata tidak selamanya dibentuk oleh 4 huruf atau lebih, tapi bisa juga dengan 2 huruf, seperti kata “oh”.
Kata “oh” bisa bermakna “(i)ya”, “aku tahu”, atau makna lain yang lebih dalam.
Suatu ketika saya mengirimkan pesan yang agak panjang…, tiba-tiba balasannya hanya kata “oh”.
Meskipun hanya kata “oh” saya bahagia karena dia masih tetap respon… coba kalau tidak respon atau balasannya yang menyakitkan…..? Apa jadinya?
Terima kasih, meskipun dirimu hanya mengirimkan kata “oh” aku tetap bahagia
Rochajat Harun
Geus lawas teu balik ka lembur, alatan ku kasibukan ngajar. Minggu ieu mah maksakeun maneh lunta, kabeneran rada nyalse. Sanajan ari narima SMS mah mani kring deui kring deui. Utamana ti mahasiswa tingkat akhir nu tatanya ngeunaan bimbingan skripsina. ”Ah keun heula eta mah, ayeuna mah rek mudik heula we, pulang kampung”, ceuk pikiran teh. Maksud teh rek niiskeun pikir, sakalian rek ngalongok sobat nu geus lawas teu panggih.
Mapay jalan satapak, ngajugjug ka hiji lembur......... (punten ieu mah sanes dangding Mawar Bodas Dety Kurnia). Baheula mah ngaran lemburna teh Babakan Lentud. Jalaran rupina kadanguna rada porno, kiwari gentos nami janten Babakan Jaksi, pacaket sareng kampung Nagrak. Tah ka lembur eta sim kuring ngajugjug, nepungan mang Uyuh, sobat dalit baheula keur budak tahun 50-an. Batur sare babarengan ngaji di Masjid Doyong.
Barang amprok ge, ujug-ujug der we ngobrol ngaler ngidul. Tanpa teks jeung basa basi, beda pisan jeung obrolan ngajar di Fakultas. Geuning ngajar mah make kudu disiapkeun heula LPM na sagala. Ieu mah kecemplang kecemplung we sangeunahna. Ti mimiti obrolan nostalgia jaman keur budak ngadu kaleci, ngadu jangkrik, silih sered mun tarawehan di masjid jeung sajabana. Pamungkas, ceplas ceplos ngeunaan politik jaman kiwari.
”Abdi mah rada baluweng teu ngarti ku pajamanan kiwari A. (Ti keur budak keneh ari nyebat pribados teh cekap ku Aa we). Kaayaan ekonomi, ku sagala marahal, hararese deuih. Eta we geuning contona ku minyak tanah, aya ku ayana, hayoh make kudu ngantay meulina, nepi ka jam-jaman ngantri. Sedihna teh eta, ari tepi ka hareupeun nu ngaladangan, ari pok teh minyakna seep. Ah, na bet kacida teuing”.
”Minggu tukang mah aya deui kajadian nini-nini kapaksa kudu ngantri di desa, jalaran kudu narima langsung BLT jatahna. Keur mah nini-nini teh gering, pek kudu lila ngantri, sanajan bari diparayang ge. Atuh ari balik ka imahna teh ujug-ujug bru deui nambru, da geringna beuki ripuh”.
”Sarua di kota Bandung ge kitu, bah”. Ceuk kuring ngilu nimbrung. ”Lain saukur dipadesaan bae. Malahan, sababaraha bulan katukang mah angot, basa harga BBM diributkeun rek naek. Na da eta mah di unggal POM Bensin mani panjang antrian mobil jeung motor. Malahan loba nu kukulutus sagala, pedah jatahna cenah dibatasi.”
”Ana kitu mah A, atuh budaya ngantay teh dimana-mana nya. Kunaon A?”. Ceuk mang Uyuh bari rada ngahuleng. Ngomongna kitu teh bari teu kaliwat udud kawungna diseuseup lila, mani jiga nu nikmat naker. ”Uyuh mah sok emut jaman kapungkur tahun 60-an, waktos Aa ngawitan kuliah di Bogor tea. Harita ge kungsi ngalaman antri meser beas bulgur. Cenah mah bantuan ti Amrika. Oge Uyuh sakulawarga ngalaman neda beas jagong, atanapi neda sangu campur kacang beureum atawa jagong. Eta jaman Orde Lama akhir nu presidenna pak Karno.”
”Ganti presiden, ngaran ordena diganti jadi Orde Baru nu dipimpin ku pak Harto. Program utamana nyeta ningkatkeun kabutuhan sandang pangan. Alhamdulillah sukses nepi ka Indonesia diakui ku lembaga dunia FAO salaku nagara nu tos sukses swasembada pangan, tahun 1984. Nanging katompernakeun kakuasaan pak Harto, kaayaan ekonomi balik deui amburadul. Liren mantenna digentos ku pak Habibi. Kaayaan ekonomi tambih amburadul. Pamimpin jeung para inohong silih tuduh, silih kiritik jeung salahkeun. Pajar cenah pak Harto jeung kroni-kronina loba hutang jeung korupsi. Jeung rea-rea deui. Terang kitu teh pedah eta we beja ti pun incu nu kabeneran resep macaan koran”.
Kuring teu nembalan. Bingung mere komentar jeung pijawabeun. Da memang kitu kanyataannana. Teu lila, sabari ngalinting daun kawungna nu diasupan bako tampang bawa kuring, geus pok deui we mang Uyuh nyarita: ”Saparantos gunta ganti presiden, nyeta ku Gus Dur, Ibu Mega, akhirna dugi ka ayeuna ku pak Susilo Bambang Yudoyono, karaosna ku Uyuh mah asa tambah ripuh. Sagala kudu ngantay. Nu beunghar beuki beunghar, nu miskin beuki mariskin. Nu korupsi tambah meuweuh jeung mahabu. Malahan cenah, aya beja didaerah Pameungpeuk mah tos aya nu teu daang kejo-kejo acan. Na nu kieu kitu nu disebut subur makmur loh jinawi tata tentrem kerta raharja teh?. Bru di juru bro dipanto, ngalayah ditengah imah.”
”Saleupasna ti pak Habibi, geuning tara kasebat-sebat deui jenengan ordena. Ngan aya eta ge nu ngalandi era Demokrasi, aya deui nu nyebat era Reformasi. Naon hartosna eta teh A?, Era teh hartosna dina basa Sunda mah sanes Isin? Isin ku polahna para pajabat kitu? Uyuh mah asa hemeng naker jeung teu ngarti. Maklum sakola ukur ti SD lulus ge hanteu. Aa onaman ngalaman sakola di luar nagari, di Amerika jeung Pilipina. Cenah, boga gelarna ge Doktor lin?”.
Sakali deui kuring ngabigeug teu nembalan. Saterusna mang Uyuh geus nyorocos deui bae, neruskeun caritaannana: ”Ceuk jenatna pun bapa mah, baheula di jaman Walanda, aya nu disebut jaman Normal. Nu kumaha eta kaayaan pajamanan, Uyuh teu pati paham da teu ngalaman hirup di jama normal”.
”Tah kukituna, mun baheula aya nu disebut jaman Normal, sanggeus merdeka aya jaman Kamerdekaan, terus aya jaman orde Lama, aya orde Baru, aya era Demokrasi, aya era Reformasi. Atuh kuma upami jaman kiwari mah urang landi we ku Jaman Sagala Ngantay. Kira-kirana Aa satuju? Ha..........3x.”.
Mang Uyuh seuri ngagakgak, katempona bungah jiga nu nikmat pisan kadengena. Kuring ge milu seuri, tapi ukur seuri koneng. Kawasna alatan kuring loba ngabigeugna, tinimbang mere komentar. Rumasa eleh jajaten, kapeupeuh ku urang kampung. Geuningan jalma handap ge geus papada ngarti kana kaayaan politik jeung ekonomi kiwari. Moal gampang dibobodo jeung dipaksa kawas bareto pajamanan orde-ordean.
Ras nyawang ka tahun 2009, pan rek aya pesta rongkah pamilihan Presiden. Saha atuh nu bakal kapilih, rada hese diramalkeun. Rahayat leutik geus pada ngarti politik, jeung nyaho mana pamimipin nu pinunjul bakal dipilih. Lobana Baliho rapang diunggal kota jaman kiwari, oge kampanye kiwari di sababaraha media TV, can jadi jaminan bakal kapilih dina engke pamilihan presiden tahun 2009.
______________
|