Rochajat Harun

Sebagai sebuah Organisasi, Pariwisata merupakan suatu sistem, yang mempunyai unsur-unsur yang satu sama lain saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Keberadaan (eksistensi) dankeeratan hubungan unsur-unsur itu menggambarkan sampai seberapa kuat Sistem Kepariwisataan tersebut. Apabila salah satu unsur tidak ada atau lemah, maka sudah dipastikan kesisteman pariwisata akan terganggu atau tersendat-sendat kegiatannya. Karenanya dalam mengelola kepariwisataan diperlukan Manajemen Pariwisata yang betul-betul handal dan tepat sasaran. 

Implikasinya, Pariwisata merupakan fenomena yang multidimensional dan multisektoral yang harus dilihat dalam satu kesatuan sistem, yang berada di dalam sistem yang lebih luas. Sistem kepariwisataan dapat dilihat dari berbagai aspek:

Melihat pariwisata dari sisi penawaran dan permintaan;
Mempunyai hubungan ketergantungan atau keterkaitan antara destinasi dan sumber pasar yang dihubungkan dengan transportasi;
Didasari oleh arus informasi yang dapat mendorong dan memungkinkan wisatawan datang.
Sistem yang lain melihat keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain antara berbagai komponen kepariwisataan, yang tak dapat dipisah-pisahkan sebagai satu kesatuan produk: transportasi yang menyediakan akses, daya tarik yang menjadi faktor utama kunjungan, amenities yang disiapkan untuk memberikan pelayanan bagi wisatawan.
Dilihat dalam hubungan input-output, sistem ini berada dalam lingkungan yang lebih luas, output-nya akan tergantung bukan hanya kepada input tetapi kepada bekerjanya faktor-faktor strategis lingkungan dan instrumen-instrumen kelembagaan.
 
Salah satu komponen dari kesisteman Pariwisata adalah Prasarana dan Sarana Kepariwisataan, yang merupakan komponen terbesar dan paling menentukan dalam menyukseskan penyelenggaraan Pariwisata. Di dalam komponen ini terdiri dari berbagai subsistem yang memang benar-benar perlu mendapatkan perhatian dan penyediaan serta pemeliharaan yang seksama. 


Wisatawan adalah orang yang pada umumnya melakukan perjalanan untuk sementara waktu ke tempat atau daerah yang sama sekali masih asing baginya. Karena jauh dari tempat tinggalnya, maka ia memerlukan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, yaitu semenjak ia berangkat sampai di tempat tujuan, hingga ia kembali ke rumahnya. Dibutuhkan prasarana dan sarana yang lengkap memberikan kepastian suatu kenyamanan bagi wisatawan. Mereka terlebih dahulu ingin mengetahui: 


Fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang ingin dikunjunginya.
 
Fasilitas akomodasi, yang merupakan tempat dimana yang bersangkutan dapat menginap sementara di DTW.
 
Fasilitas Catering Service, yang dapat memberikan mereka pelayanan sehubungan dengan makanan dan minumannya yang sudah tentu sesuai dengan seleranya.
 
Obyek dan atraksi wisata yang ada pada DTW yang akan dikunjunginya.
 
Aktivitas Rekreasi (Recreation Activities) yang dapat dilakukannya di DTW  yang akan dikunjunginya.
 
Fasilitas Perbelanjaan (Shopping Facilities), dimana ia dapat membeli ataupun juga kadang-kadang juga untuk mereparasi kamera, mencuci cetak film dan lain-lain.
 
Fasilitas Kantor pos (Post office), untuk pengiriman surat-surat bagi sanak keluarga, sahabat atau instansi sehubungan dengan perjalanan yang sedang dilakukan.
 
Fasilitas komunikasi melalui Telephone, telex dan faxcimile serta alat komunikasi lainnya untuk pengiriman informasi yang dibutuhkannya selama melakukan perjalanan.
 
Keseluruhan informasi tersebut di atas adalah menyangkut prasarana dan sarana kepariwisataan yang harus ada atau tersedia sebelum kita mempromosikan suatu daerah seba-gai daerah tujuan wisata. 


Prasarana Kepariwisataan tidak berbeda dengan prasarana dalam perekonomian pada umumnya karena pada dasarnya kegiatan kepariwisataan tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonominya. Yang termasuk ke dalam kategori prasarana umum adalah: Sistem penyediaan air bersih; Pembangkit tenaga listrik; Jaringan jalan raya; Pelabuhan udara, pelabuhan laut; Terminal taxi, terminal bus; Stasiun kereta api; Kapal penyeberangan; Jaringan telekomunikasi. Sedangkan prasarana yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak ialah rumah sakit, apotik, bank dan kantor pos. 


Prasarana (infrastucture) kepariwisataan adalah semua fasilitas yang tersedia serta yang memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya.  


Sedangkan sarana kepariwisataan (tourism superstrucures) adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Kita dapat membagi atas tiga bagian yang penting sarana kepariwisataan yaitu: 1. Sarana pokok kepariwisataan; 2.Sarana pelengkap kepariwisataan; dan 3.Sarana penunjang kepariwisataan.  


Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructures).

Sesuai dengan namanya, sarana ini menyediakan fasilitas pokok yang ikut menentukan keberhasilan sesuatu daerah menjadi daerah tujuan wisata. Banyak perusahaan yang menggantungkan hidupnya dari arus kunjungan wisatawan, atau orang yang melakukan perjalanan wisata, baik wisatawan manca-negara maupun wisatawan nusantara. 


Termasuk juga kedalam kelompok sarana pokok kepariwisataan itu adalah perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas pelayanan kepada para wisatawan di tempat yang dituju: Travel Agent dan Tour Operator; Tourist Transportation; Hotel dan akomodasi lainnya; Catering, Trades; Obyek Wisata dan Atraksi Wisata. 


Ada lagi satu kategori yaitu yang termasuk ke dalam kategori "Subvek Sentra" perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha agar orang merasa tertarik akan kebutuhan untuk mengadakan perjalanan atau memberi kesempatan pada mereka untuk menikmati perjalanan apabila mereka sendiri tidak mampu untuk berbuat demikian, yaitu: 


Perusahaan penerbitan kepariwisataan yang memajukan dan mempromosikan pariwisata secara umum ataupun khusus.
Kantor yang membiayai kepariwisataan seperti Bank-bank Pariwisata (Travel Bank), Travel Credit, Social Tourism, Youth Travel.
Asuransi Pariwisata.
 
 
Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Suplementing Tourism Superstructures).

Yang dimaksud dengan sarana pelengkap ini adalah perusahaan perusahaan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak lain hanyalah untuk melengkapi sarana pokok kepariwisataan. Fungsi yang terpenting adalah untuk membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal pada suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Yang termasuk dalam kategori ini adalah Sarana Olah Raga,  Sarana Ketangkasan dll. 
 


Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructures)

Adalah perusahaan yang dapat menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok yang berfungsi bukan saja untuk membuat wisatawan lebih lama tinggal tetapi yang lebih penting adalah untuk membuat wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya atau membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjungi. Sarana penunjang ini baik juga disediakan untuk wisatawan wisatawan yang datang walaupun itu tidak mutlak, karena tidak semua tamu membutuhkan pelayanan tersebut, seperti umpamanya : night club, steambaths, dan casinos. 


Ada beberapa perusahaan yang merupakan perantara atau saluran distribusi yang tentunya memperoleh pendapatan dari hasil komisi penjualan yang dilakukannya. Semakin banyak perusahaan yang diwakilinya akan semakin banyak pula komisi diterimanya. Bila kita perhatikan beberapa perantara yang bertindak dalam rantai distribusi dalam industri pariwisata, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam kondisi yang berbeda-beda. Misalnya suatu Travel Agent biasanya bekerja atas dasar komisi yang besarnya berkisar 5 % s/d 40%. Pada umumnya hotel dan akomodasi lain hanya memberikan komisi 10% dari kamar yang dijualkannya. 


Jadi komisi hanya 10% dari harga kamar yang terjual saja, sedangkan dari penjualan makan dan minuman tidak diberikan komisi. Komisi yang lebih besar biasanya diberikan kalau pihak hotel dalam persaingan sehingga mereka berebutan mendapatkan tamu. Kalau dalam keadaan yang demikian, maka pihak Travel Agent tinggal pilih, logis bila ia akan lari ke hotel yang memberikan komisi yang lebih tinggi. 


Disamping sarana dan prasarana seperti yang telah diuraikan diatas, masih ada berbagai macam bentuk usaha (tourism business) yang ada dalam kegiatan kepariwisataan, baik sebagai distributor maupun perantara, antara lain: 


Tour Operator: Yaitu suatu badan usaha yang merencanakan dan menyelenggarakan paket wisata (packet tour) yang dijual, baik yang dijual sendiri maupun melalui retail Travel Agent lainnya. Dalam industri pariwisata Tour Operator biasa juga disebut sebagai manufacture karena menciptakan dan menghasilkan paket wisata yang siap jual pada wisatawan. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai wholesaler yang bertindak sebagai pedagang besar yang menjual paket wisata pada para retailer Travel Agent atau perantara lainnya.  


Tour Operator-retailer: Adalah Tour Operator biasa, tetapi selain tugasnya sebagai Tour Operator ia juga bertindak sebagai pengecer (retailer) melalui retail outlet atau by Mail order. Contohnya, Neckermann di Jerman yang mempunyai outlet atau retail 150 retail Outlet dan WAGON-LITS di Perancis yang memiliki kira-kira 400 outlet di seluruh dunia. Di Indonesia yang dapat disamakan dengan ini adalah NITOUR yang banyak mempunyai cabang di daerah-daerah tujuan wisata. 


Direct Mail: Adalah cara penjualan secara langsung kepada konsumen dengan mengirimkan brosur tentang paket wisata yang telah dipersiapkan dengan baik. Biasanya dilakukan oleh suatu Tour Operator, seperti halnya dengan Neckermann di Jerman. 


Producer Retailer: Adalah suatu bentuk perusahaan terpadu / integrasi di mana beberapa perusahaan inudstri pariwisata bergabung bersama, soperti: Travel Agent, Transportasi, Hotel, Restoran dan lain-lain. Secara bersama mereka membentuk retail outlet yang berfungsi untuk melakukan penjualan. Contoh yang paling terkenal adalah Club Mediterranea di Eropa dan sepanjang Laut Tengah. 


Institutional Selling: Adalah salah satu bentuk sales dari suatu Tour Operator yang bertugas menjual paket wisata secara langsung pada lembaga, kantor-kantor, jawatan, Bank, departemen departemen dan perusahaan asuransi. Jadi sasarannya adalah kelompok formal dalam masyarakat dan tidak secara individu. 


New Mass Outlets: Adalah bentuk lain dari perusahaan yang menjualkan paket wisata melalui new mass outlet seperti: super market, hypermarket, toko buku, apotik, toko obat, toko alat alat olah raga, pelabuhan udara, stasion dan terminal atau pada arcade di hotel- hotel. 


______________________

 
 

Rochajat Harun

Akomodasi perhotelan tidak dapat dipisahkan dengan pariwisata. Tanpa kegiatan kepariwisataan dapat dikatakan akomodasi perhotelan akan lumpuh. Sebaliknya pariwisata tanpa hotel merupakan suatu hal yang tidak mungkin, apalagi kalau kita berbicara pariwisata sebagai suatu industri. 
Hotel termasuk sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstructures). Ini berarti hidup dan kehidupannya banyak tergantung pada banyak atau sedikitnya wisatawan yang datang. Bila kita umpamakan industri pariwisata itu sebagai suatu bangunan, maka sektor perhotelan merupakan tiangnya.

Kita menyadari bahwa tujuan wisatawan datang berkunjung pada suatu tempat bukanlah untuk tidur di hotel semata-mata. Menginapnya wisatawan di hotel dan akomodasi lainnya selalu dikaitkan dengan keperluan lain dengan motivasi yang beraneka ragam. Dengan perkataan lain, sektor perhotelan bukan suatu hal yang mutlak harus ada. Tanpa hotel orang-orang juga dapat menikmati banyak obyek dan atraksi wisata. 

Anggapan demikian itu dapat kita terima bila kita membicarakan pariwisata bukan sebagai suatu industri, tetapi sebagai suatu aktivitas saja yang tidak ada artinya dalam perkembangan ekonomi daerah sekitarnya, seperti halnya dengan kegiatan "piknik". Piknik dilakukan tidak berapa jauh dari tempat kediaman orang yang melakukannya dan dilakukan kurang dari 24 jam. Segala fasilitas serta keperluan disediakan sendiri, bahkan biayanya dipikul bersama-sama secara gotongroyong.  

Berbeda dengan tour, dimana perjalanannya dilakukan lebih dari 24 jam. Dengan demikian mau tidak mau wisatawan memerlukan tempat tinggal untuk sementara, selama dalam perjalanannya. Dimana ia dapat beristirahat, mandi dan makan.  

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk akomodasi wisatawan tidak mutlak harus berbentuk hotel yang mewah, asal saja memenuhi syarat "comfort" dan kesehatan. Pendapat semacam ini ada benarnya, tetapi hanya terbatas untuk wisatawan secara individu (single-travel) yang tidak direncanakan melalui suatu Travel Agent atau Tour Operator. 

Industri pariwisata dewasa ini sudah memasuki apa yang disebut dengan "mass-tourism". Dimana orang-orang tidak lagi melakukan perjalanan sendiri-sendiri, tetapi berombongan (group). Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya penerbangan borongan (charter flight) dan tersedianya fasilitas akomodasi dalam jumlah kamar yang relatif banyak. Tempo dulu hal seperti ini telah dilakukan oleh Thomas Cook pada tahun 1841, yaitu dengan mencarter kereta api untuk membawa wisatawan sebanyak lebih kurang 500 orang dalam excursion yang dilakukan antara kota Leicester dan kota Loughborough.

Sekarang pesawat yang digunakan untuk rombongan wisatawan sekaligus dapat membawa penumpang dalam jumlah besar, mencapai 300 - 400 penumpang. Selain itu kecepatan terbangnya ada yang melebihi kecepatan suara, seperti Concorde buatan bersama Inggris - Perancis. Bila dengan kondisi semacam ini tidak disiapkan sarana perhotelan dengan segala fasilitasnya, dapat dibayangkan bahwa akan terjadi stagnasi dalam penerimaan kunjungan wisatawan yang hari demi hari meningkat terus. Apalagi sekarang sedang berkembang suatu jenis pariwisata yang pasaran potensialnya adalah orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan komperensi, seminar, simposium, loka karya, musyawarah nasional dan kegiatan lain semacam itu yang tentunya membutuhkan fasilitas dan sarana yang lengkap. 

Itu semua hanya dapat disediakan oleh hotel-hotel yang bertaraf internasional dan bukan oleh rumah-rumah penginapan atau perumahan rakyat (home stay) yang kini sedang berkembang di Bali dan Yogyakarta. Bagi wisatawan yang bepergian secara perorangan tanpa bantuan Tour Operator, memang kebanyakan tidak memerlukan hotel mewah bertaraf internasional semacam itu. Atas dasar pemikiran ini, dalam kegiatan pariwisata sebagai suatu industri, sektor perhotelan adalah mutlak. dan bahkan dunia perhotelan telah berkembang menjadi industri tersendiri. Karena itu sekarang kita juga mengenal istilah "hotel industry".  

Sampai seberapa jauh peranan industri perhotelan dalam industri pariwisata dapat kita lihat dari pengeluaran wisatawan bila datang pada suatu tempat atau daerah tujuan wisata. Berdasarkan suatu penelitian yang pernah dilakukan, lebih dari 50% uang yang dikeluarkan wisatawan disedot oleh industri perhotelan. Berapa besarnya volume uang yang beredar dalam sektor industri perhotelan? Di Amerika Serikat saja dalam tahun 1969 tercatat sebesar US $ 7,25 milyar, termasuk untuk pengeluaran makanan dan minuman (food and beverages). Sedang dalam sektor industri pariwisata secara keseluruhan berjumlah sebesar US $ 35 -US $ 45 milyar setahun. 

Jumlah hotel di Amerika Serikat dalam tahun 1939 terdaftar sebanyak 41.400 hotel dengan 1.600.000 kamar dan jumlah tersebut meningkat terus sehingga menjadi 65.350 hotel dengan 2.600.000 kamar dalam tahun 1969. Dengan jumlah wisatawan sebanyak 400 juta (business and pleasure travellers) dalam tahun 1969, industri perhotelan dapat menampung tenaga kerja sebanyak 600.000 orang dengan bermacam macam keahlian dan untuk itu telah dikeluarkan upah dan gaji sebesar US $ 3 milyar setiap tahunnya. 

Dewasa ini industri perhotelan sudah sangat maju, banyak perusahaan raksasa yang memasuki usaha yang menarik ini. Satu di antara yang terbesar adalah Holyday Inn, yang dalam tahun 1975 sudah mempunyai 274.000 kamar yang tersebar luas di seluruh dunia, belum termasuk yang di Indonesia. Perusahaan perhotelan yang besar lainnya ialah Sheraton, Inter-continental, Hilton International, Trust Houses Forte dan Ramada Inn. Adapun pemilikan hotel-hotel tersebut ternyata banyak kaitannya dengan perusahaan industri pariwisata secara keseluruhan. Hotel Hilton misalnya, dimiliki oleh Trans World Airlines, Inter-continental Hotel oleh Pan American Airways dan Sheraton Hotel dimiliki oleh ITT. 

Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan memasuki usaha industri perhotelan, kelihatannya seperti melakukan usaha terpadu (integrasi) atas pertimbangan efisiensi perusahaan dan keuntungan promosi di samping segi praktis lainnya. Di antara perusahaan tersebut adalah : Japan Airlines dengan Jal Hotel System-nya, Federal Hotel, Port Dicson di Kuala Lumpur, Hotel Plaza di Hongkong; Presedent Hotel di Jakarta; KLM dengan Golden Tulip Group; Cathay Pacific dengan Indra Regent atau Ambassador di Bangkok dan Hongkong; Thay International Airways dengan Mandarin Hotel dan lain-lain.  

Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tetapi masih banyak akomodasi lain yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation). Hotel adalah sebuah gedung / bangunan yang menyediakan penginapan , makanan dan pelayanan yang bersangkutan dengan menginap serta makan bagi mereka yang mengadakan perjalanan. Hotel merupakan bangunan akomodasi yang menyediakan kenyamanan lebih tinggi dan status tertentu bagi mereka yang menginap disitu. 

Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI No. SK.241/H/70 tahun 1970 menyatakan: "Hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan (akomodasi) serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum , yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Bentuk, susunan, tata ruangan, dekorasi, peralatan dan perlengkapan bangunan hotel dan akomodasi, sanitasi, hygiene, estetika, keamanan dan ketentraman, serta secara umum dapat memberikan sasaran nyaman (comfort). Dan khusus untuk kamar-kamar tamu dapat menjamin adanya ketenangan pribadi (privacy) untuk para tamu hotel”.

Penentuan golongan hotel-hotel menurut tanda bintang dinyatakan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, yang dilakukan 3 (tiga) tahun sekali. Diklasifikasi menjadi 5 golongan, yang dinyatakan dengan tanda bintang. Golongan tertinggi dengan tanda bintang lima. Sedangkan yang terendah dengan tanda bintang satu. Tanpa bintang disebut Hotel Melati. Di dalam industri pariwisata, hotel bukanlah satu-satunya bentuk bagi akomodasi wisatawan dan traveller lainnya. Tapi masih banyak akomodasi yang dikenal dengan sebutan akomodasi tambahan (supplementary accomodation), diantaranya:  1. Motel (Motor Hotel); 2. APOTEL (Apartmen Hotel); 3.Youth Hostel; 4.  Apartment; 5. Inn; 6. Pension; 7. Bungalow; 8. Ryokan; 9. Mess; 10.Home Stay.

____________________________________

 
 

Rochajat Harun

Ditinjau dari segi pemasaran pariwisata, terutama dalam usaha mengembangkan produk baru, sesungguhnya suatu daerah tujuan wisata mempunyai banyak hal yang dapat ditawarkan sebagai daya tarik wisatawan kepada pasar yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana mengolah bahan baku yang ada sehingga sesuai dengan minat dan selera wisatawan.  
Dalam pengembangan suatu daerah untuk menjadi suatu daerah tujuan wisata, agar ia dapat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan potensial dalam macam-macam pasar, harus memenuhi beberapa syarat yaitu : 


Pertama, daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai suatu"something to see". Artinya di tempat tersebut harus ada obyek wisata dan atraksi wisata, yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain. Dengan perkataan lain, di daerah itu harus mempunyai daya tarik yang khusus dimana tersedia atraksi wisata yang dapat dijadikan sebagai bahan "entertainments" bila orang datang ke sana.  


Kedua, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah "something to do". Artinya, di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan fasilitas pendukung untuk melakukan aktifitasnya untuk mengisi waktu, berupa rekreasi atau amusements yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama.  


Ketiga, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah something to know". Artinya, di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat, disaksikan, serta vang dilakukan, maka harus pula disediakan fasilitas informasi yang dapat menjelaskan tentang arti dan makna obyek atau atraksi wisata tersebut dengan jelas melalui tour operator atau yang dipandu oleh pramuwisata (tourist guide) yang berkualitas atau yang menguasai bidangnya. 


Keempat, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah ".something to buy". Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja (shopping), terutama barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing. Fasilitas untuk berbelanja ini tidak hanya menyediakan barang-barang yang dapat dibeli, tetapi harus pula tersedia sarana - sarana pembantu lain untuk lebih memperlancar seperti money changers, bank, kantor pos, kantor tilpon dan lain-lain. 


Ke empat syarat tersebut di atas, kiranya sejalan dengan pola tujuan pemasaran pariwisata, yaitu dengan promosi yang dilakukan adalah usaha untuk mencapai sasaran sehingga lebih banyak wisatawan datang ke suatu daerah, lebih lama tinggal dan lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat yang mereka kunjungi. 


Dari uraian tadi kita selalu menggunakan istilah "obyek wisata" dan "atraksi wisata". Hal ini bukannya tidak beralasan. Di dalam literatur kepariwisataan di luar negeri kita menjumpai istilah itu. Menurut hemat kita justru ada perbedaan yang asasi antara kedua istilah tersebut.  


Kita hanya akan menyebut sesuatu itu sebagai obyek wisata, bila untuk melihat obyek itu tidak perlu ada persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Dengan perkataan lain, kita dapat melihatnya secara langsung tanpa bantuan orang lain, seperti misalnya : pemandangan alam, gunung, sungai, danau, lembah, ngarai, candi, bangunan, monumen, gereja, masjid, tugu peringatan dan lain-lain. Semuanya ini dapat kita lihat secara langsung tanpa bantuan orang lain, walaupun kadang-kadang kita harus membayar sekedar tanda masuk saja. 


Lain halnya dengan "atraksi wisata"yang dalam hal ini merupakan sinonim dengan pengertian "entertainments". Yaitu sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati dan yang termasuk dalam pengertian ini adalah, tari-tarian, nyanyian, kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan lain-lain. Tanpa ada suatu persiapan yang matang maka ia tidak akan merupakan atraksi vang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Mungkin perbedaan kedua istilah ini merupakan sesuatu yang sifatnya "is a matter of feeling or taste" saja. 


Dalam rangka pengembangan suatu daerah tujuan wisata, macam apa pariwisata yang hendak dikembangkan banyak tergantung dari warisan alam yang dimilikinya atau peninggalan nenek moyangnya. Atas dasar ini pulalah kita akhirnya mengenal bermacam macam bentuk pariwisata seperti pariwisata budaya, pariwisata rekreasi, pariwisata musim dingin, pariwisata kesehatan, dan lain-lain.  


Pada umumnya di Indonesia, jenis pariwisata yang paling menonjol adalah "Pariwisata Budaya". Karena keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat serta kebiasaannya, maka Indonesia banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Sedangkan keindahan alamnya merupakan daya tarik kedua. Karena itu daya tarik wisatawan (tourist heritage) terhadap hasil seni budaya ini sangat perlu ditingkatkan sejalan dengan peningkatan fasilitas lainnya. 


Namun demikian, selain unsur Budaya sebagai objek utama suatu destinasi, objek wisata lainpun seyogianya diperhatikan untuk dikembangkan dan dipromosikan lebih gencar dan terarah. Terutama bagi wisatawan mancanegara. Misalnya saja wisata pertanian (Agro. Tourism), Wisata Kehutanan (Forestry Tourism), Wisata Bahari (Sea Tourism), dan Wisata Rohani (Religious Tourism). Bahkan bukan mustahil Wisata Belanja dan Wisata Kuliner pun bisa dipromosikan lebih gencar, seperti halnya terjadi di Singapore, Thayland dan negara Sakura Jepang. 
 
 
 


______________________


 
 

Rochajat Harun

Indonesia memiliki areal kehutanan & pergunungan yang sangat potensial untuk dilola dan dikembangkan sebagai objek wisata secara baik. Namun memerlukan strategi promosi dan pengembangannya yang tepat sehingga jenis objek wisata yang satu ini lebih dikenal bagi para calon wisatawan, terutama wisatawan luar negeri.  


Tentunya ada pula objek wisata hutan yang memang sudah lama dikenal dan dilola seperti kawasan Puncak Bogor, hutan gunung Tampomas, gunung Gede, gunung Pangrango, gunung Tangkuban Perahu, gunung Patuha, gunung Dieng, gunung Bromo dan lain-lain. Namun demikian masih masih banyak sekali objek wisata kehutanan di Indonesia yang belum seluruhnya dilola secara baik. Bahkan seluruh objek wisata hutan tersebut pada umumnya belum betul-betul mengglobal. 


Apabila kita cermati beberapa produk hukum yang menyangkut pengelolaan hutan seperti Kepres No. 41 tahun 2004 tentang perizinan atau perjanjian di bidang pertambangan yang berada di Kawasan Hutan, terdapat 13 izin / perjanjian dibidang pertambangan. Kepres ini telah ditindak lanjuti dengan Peraturan Menhut No. P.12 / Menhut-II/2004 tentang penggunaan Kawasan Hutan Lindung untuk kegiatan Pertambangan. Demikian pula dengan produk hukum dari Menteri Kehutanan berupa Peraturan Menhut No. P.14 / Menhut-II / 2006 tentang pedoman Pinjam Pakai Kawasan Kehutanan yang kemudian diperbaiki lagi dengan Peraturan Menteri Kehutanan No.P-64 / Menhut-II / 2006. 


Kenyataan di lapangan, sungguh tak bisa dibayangkan mau dibawa kemana arah pelestarian hutan ini. Apalagi kalau dalam operasionalnya masih tersembunyi kepentingan politik dan kepentingan pribadi maupun kelompokan pejabat teras baik eksekutif maupun legislatif. Dari sekian banyak produk hukum tersebut, tidak ada atau sedikit sekali yang berkaitan dengan ”kepariwisataan” sebagai salah satu upaya bisnis, guna perolehan income negara yang sekaligus dalam rangka pelestarian hutan 


Pada tahun 1992, dalam United Nation Conference on Environment and Development -the Earth Summit- di Rio de Janeiro, dirumuskan program tindak yang menyeluruh hingga abad ke-21 yang disebut Agenda 21, yang kemudian diadopsi oleh 182 negara peserta konferensi termasuk Indonesia. Agenda 21 merupakan cetak biru untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan dari planet bumi dan merupakan dokumen semacam itu yang pertama mendapatkan kesepakatan internasional yang sangat luas, menyiratkan konsensus dunia dan komitment politik di tingkat yang paling tinggi. Pertemuan Rio ditindaklanjuti dengan Konferensi Dunia tentang Pariwisata Berkelanjutan pada tahun 1995 yang merekomendasikan agar setiap pemerintahan negara dan daerah, segera menyusun rencana tindak (action plan) pembangunan berkelanjutan dibidang kepariwisataan, serta merumuskan, mempromosikan serta mengusulkan Piagam Pariwisata Berkelanjutan. 


Ada beberapa prinsip yang rumusannya telah disepakati bersama mengenai pengembangan kepariwisataan, termasuk wisata hutan yang di Indonesia sangat potensial untuk segera dikembangkan. Prinsip-prinsip dari piagam tersebut adalah sebagai berikut:

Pembangunan pariwisata kehutanan harus berdasarkan kriteria keberlanjutan -dapat didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat.
Pariwisata kehutanan harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.
Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan  perencanaan pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan, langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata kehutanan yang berkontribusi kepada perbaikan kualitas lingkungan.
Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk pembangunan pariwisata kehutanan yang berkelanjutan.
Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata kehutanan yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan
Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata kehutanan dan teknologi pariwisata kehutanan berkelanjutan.
Penetapan kebijakan pariwisata kehutanan berkelanjutan memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata kehutanan yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor, dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama internasional.
 
Sebagai industri terbesar di dunia, pariwisata memiliki potensi yang sangat besar untuk mempengaruhi -negatif maupun positif- lingkungan, keadaan sosial dan ekonomi dunia. Agar pariwisata dapat secara efektif memberikan kontribusi yang positif, program tindak global Agenda 21, maka diperlukan adanya prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Dengan demikian Piagam Pariwisata Berkelanjutan perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata yang relevan bagi pariwisata kehutanan.  


Pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan wilayah yang didatangi  wisatawan (tourist destination) pada saat ini, sekaligus melindungi dan meningkatkan kesempatan di masa depan. Pengertian tersebut  mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya kehutanan sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sekaligus memelihara integritas kultural, berbagai proses ekologi yang esensial, keanekaragaman hayati dan berbagai sistem pendukung kehidupan.  


Dalam mengembangan kehutanan sebagai objek wisata, ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara serius, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya di lapangan.

1. Kesulitan Transportasi. Masalah trasportasi wisata / jalan merupakan masalah umum yang dihadapi oleh dunia pariwisata di Indonesia, terutama tranportasi dari dan ke lokasi yang terpencil. Sedangkan untuk tranportasi lokal tidak begitu masalah karena dapat diatasi oleh  tranportasi yang disediakan atau dilola oleh masyarakat setempat.

2. Akomodasi penginapan. Terutama di tempat atau lokasi objek wisata kehutanan, terasa masih langka. Kalaupun ada, masih belum terpelihara dengan baik. Sebetulnya, rumah-rumah penduduk setempatpun bisa saja dijadikan tempat nginap wisatawan, seperti halnya yang terjadi di Bali maupun di Pangandaran Jawa Barat. Atau mungkin tersedia tenda-tenda darurat di areal kawasan hutan yang memang cukup kondusip dan aman serta ramah lingkungan.

3. Objek Wisata Hutan. Pada umumnya objek wisata di Indonesia disiapkan oleh pemilik pariwisata untuk ditonton oleh pelancong atau dengan kata lain umumnya adalah sebagai pariwisata budaya yang berpusat pada masyarakat. Dalam pengertian seperti ini maka objek wisata adalah barang yang diolah oleh manusia untuk ditontonkan kepada orang lain. Lain halnya dengan objek wisata kehutanan. Objeknya sudah banyak tersedia di lokasi wisata. Tinggal inventarisasi objek-objek apa saja yang bisa disuguhkan kepada para wisatawan. Apakah flora, fauna, situs purbakala, danau, kawah, air terjun, lingkungan hutan yang indah dan nyaman menyejukan hati dan lain-lain. Dengan demikian obyek wisata hutan harus lebih dulu diinventarisir  dan disiapkan.

4. Sumber Daya Manusia. Bagaimanapun bagusnya objek wisata hutan, namun diperlukan Sumber Daya Manusia yang mampu menggelar, merencanakan serta menpromosikan objek-objek wisata kehutanan secara menyeluruh. Setidak-tidaknya para pemandu turis (tourist guide) betul-betul perlu menguasai hal-hal yang menyangkut kehutanan, dan sekaligus mampu menjaga keselamatan wisatawan baik selama diperjalanan, maupun di kawasan wisata hutan. Ini berarti sumberdaya manusia di bidang wisata hutan menjadi amat menentukan dalam menyiapkan obyek-obyek pariwisata yang ada. Dengan demikian SDM wisata hutan perlu disiapkan baik jumlah, kualitas maupun  kemampuannya sebagai abdi-abdi masyarakat wisata kehutanan. Apalagi objek wisata kehutanan ini memiliki banyak risiko, baik selama perjalanan kunjungan maupun risiko di lokasi wisata kehutanan.

5. Promosi Pariwisata Kehutanan. Perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah, dalam hal ini harus lebih digalakkan. Upaya yang sungguh-sungguh untuk memasarkan obyek-obyek wisata kehutanan di Indonesia, harus seyogianya dilakukan secara gencar dan berkesinambungan. Promosi pariwisata melalui saluran internet, merupakan sarana yang tepat, murah dan workable terutama bagi wisatawan mancanegara. Media komunikasi lainpun kiranya perlu dimanfaatkan secara seksama dan terpadu, baik surat kabar, brosur, radio maupun televisi.

6. Masalah Keamanan (Security). Antara lain masalah keselamatan wisatawan dilokasi wisata, maupun selama perjalanan menuju lokasi wisata. Kemungkinan terjadinya bencana alam, gelombang Sunami, keadaan pisik lapangan, keamanan di perjalanan dan sebagainya. Ini semua memerlukan pemikiran dan penanganan yang cukup serius. Keadaan tekstur dan struktur pergunungan & kehutanan yang bisa menimbulkan penuh risiko, perlu diperhitungkan secara matang, baik oleh pengelola wisata maupun para pemandu.

7. Koordinasi Antar Departemen. Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) departemen yang akan banyak terlibat demi keberhasilan Revitalisasi Hutan Wisata ini, yaitu DEPDIKBUD, DEPNAGRI, dan DEPHUT. Untuk itu koordinasi yang mantap seyogianya segera dilakukan, bahkan bila perlu disediakan landasan hukum yang kuat setidak-tidaknya melalui Keputusan Presiden, sehingga menjamin keberhasilan Revitalisasi Hutan Wisata.

______________________________



 
 

Rochajat Harun

Kota Bandung akhir-akhir ini banyak dikunjungi para wisatawan terutama wisatawan domestik dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bila kita jalan-jalan di akhir minggu, Jum’at, Saptu dan Minggu pasti akan menemukan macetnya jalan-jalan di kota Bandung. Terutama di daerah-daerah yang terdapat pusat perbelanjaan dan makanan alias kuliner. Misalnya jalan Cihampelas, jalan Riau, jalan Sukajadi, Jalan Setiabudhi terus sampai ke Lembang.

Setiap malam Minggu sudah dipastikan beberapa hotel dipadati pengunjung. Rumah-rumah makan baik yang bertarap internasional, maupun yang bernuansa pedesaan dan jongko-jongko warung makan terbuka seperti di beberapa pertamanan, pasti dipadati oleh para pengunjung. Mereka datang tidak hanya sekadar ingin menikmati kesegaran Kota Bandung diwaktu malam, tapi sekaligus sebagai para wisatawan kuliner maupun wisatawan belanja.

Memang Kota Bandung mempunyai daya tarik tersendiri bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Jawa. Selain cantik dan asri ibarat janda kembang yang selalu bersolek dimalam hari, sangatlah menarik para wisatawan. Namun sekalipun   memiliki banyak potensi wisata yang belum digali, para wisatawan yang masuk ke kota Bandung cenderung untuk melakukan aktifitas belanja maupun kuliner,

Tidak dapat dipungkiri memang untuk Objek Wisata Alam, Kota Bandung tidak memilkikinya, tapi disekitarnya seperti Ciater, Ciwidey, Garut, Pangalengan dan sebagainya dapat ditempuh dari Kota Bandung lebih mudah, karena tersedianya transportasi dan sarana jalan yang cukup memadai. Keunggulan dari Kota Bandung sendiri adalah jumlah akomodasi yang cukup memadai dibandingkan degan wilayah lain disekitarnya yang memiliki banyak Objek Wisata Alam.

Kota Bandung sekarang lebih dikenal sebagai Objek Wisata Belanja dan Kuliner, padahal kecantikan dari gedung-gedung bersejarah sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang lebih untuk menarik wisatawan baik nusantara maupun asing. Pengelolaan terutama aktipitas promosi yang belum maksimal terhadap keberadaan gedung-gedung bersejarah dengan segala kemistikannya ini membuat daya tariknya objek wisata yang satu ini menjadi berkurang.

Padahal salah satu potensi lain yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke kota Bandung adalah Wisata Mistik, atau yang diluar negeri lebih terkenal dengan Spooky Tourism. Potensi wisata ini dapat menjadi salah satu alternatif lain bagi wisatawan, mungkin segmentasi yang tepat adalah para wisatawan minat khusus.

Potensi wisata ini berupa bangunan bersejarah selain memiliki daya tarik yang indah dipandang juga memiliki sesuatu yang lain, yakni suasana mistik dari bangunan-bangunan bersejarah tersebut. Kita dapat melihat fenomena dunia lain itu memalui wisata mistik yang dapat menjadi daya tarik objek wisata baru.

Kota Bandung memang memiliki banyak tempat yang angker untuk mendukung prospek wisata ini. Misalnya saja musium POS yang berada di perempatan jalan R.E.Martadinata Bandung, musium Geologi yang berada di jalan Diponegoro, Patung Pastur yang berada di taman Maluku, Goa Jepang & Goa Belanda di Dago, Gedung Sate, Musium KAA, Musium Mandalawangsit, bangunan sekolah SMA negeri 3 & 5 Bandung, pohon karet di SMA negeri 2 Bandung, Villa Isola di kampus UPI Bandung dan sebagainya. Kesemuanya itu memiliki cerita mistik tersendiri yang memberikan rasa ingin tahu lebih bagi orang-orang yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang alam gaib. 


Ambulance yang terdapat di jalan Bahureksa-pun pernah diangkat ke layar lebar untuk konsumsi publik tentang misteri yang terdapat di Ambulance. Bahkan rumah ber-arsitektur Belanda di jalan Dayang Sumbi, pernah masuk ke dalam sepuluh situs terangker di dunia. Menurut cerita orang-orang tua di rumah ini terjadi pembantaian seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut, dan sampai kini pintu garasi rumah tersebut tidak dapat ditutup oleh siapapun. Malahan ada cerita orang tua yang mengatakan bahwa di menara Gedung Sate pun katanya angker seperti itu.

Melihat fenomena kemistikan yang terdapat di gedung-gedung antik tersebut, bukan mustahil hal ini dapat dijadikan destinasi atau objek wisata dimasa datang. Sampai sekarang memang belum ada yang berbicara tentang itu. Baik pejabat yang menangani kepariwisataan Jawa Barat maupun Kota Bandung sendiri. Bukan mustahil prospek wisata alam gaib atau mistik ini dapat menjadi sesuatu yang baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung. Untuk itu diperlukan perencanaan dan persiapan yang seksama.

Beberapa teman yang pernah berkunjung ke Inggris dan Jerman mengemukan, bahwa disana terdapat istana-istana tua (castle), yang katanya banyak dihuni hantu, tapi laku dikunjungi para wisatawan. Mereka pada ingin menyaksikan keangkerannya. Bahkan ada diantara mereka yang berani nginap, dan bayar. Malahan ada yang berhasil mengabadikan hantu atau mahluk-mahluk halus tersebut dalam bentuk photo maupun Video. Barangkali hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa banyaknya bangunan-bangunan antik yang sampai kini dianggap angker karena dihuni oleh hantu atau mahluk-mahluk halus, kiranya dapat dijadikan Objek Wisata jenis baru yang disebut Wisata Mistik atau Wisata Hantu. Tidak hanya sekadar ditayangkan pada acara Uka-uka di televisi beberapa waktu yang lalu. 


________________________

 
 

Rochajat Harun

Kegemukan atau overweight adalah berat badan yang berlebihan sebagai akibat terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak tubuh. Namun kelebihan berat tidak selalu berarti kebihan lemak tubuh karena pada mereka yang giat berolahraga, kelebihan berat badannya disebabkan oleh pembentukan otot.  

Kegemukan dengan derajat kelebihan berat badan 20% di atas berat badan ideal disebut obesitas. Jika berlebihan sekali hingga mencapai sekitar 100% atau lebih dari berat badan ideal disebut Superobese, sedangkan obesitas yang telah menimbulkan kelainan, keluhan, atau gejala penyakit, disebut Morbidly obese. 

Keadaan gizi seseorang diukur berdasarkan bentuk, ukuran dan struktur tubuh. Ukuran yang sering digunakan dalam ukuran antropometri dengan indikator berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, berat badan menurut tinggi badan, lingkar lengan atas, tebalnya lapisan lemak dan lain sebagainya.  

Salah satu cara ukuran yang dipergunakan orang untuk menentukan kegemukan adalah Body Mass Index (BMI). BMI adalah indeks yang diperoleh dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2). Seseorang disebut gemuk, bila BMI-nya sebesar 24-30 kg/m2 dan disebut obesitas bila lebih besar dari 30 kg/m2. 

Ada bermacam-macam teori yang dikemukakan tentang bagaimana terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan tersebut. Obesitas pada umumnya terjadi jika asupan (masukan) energi melebihi keluaran energi dalam jangka waktu yang lama. Hal ini bisa disebabkun oleh asupan energi makanan yang berlebihan, karena keluaran yang kurang, atau karena keduanya, seperti yang sering ditemukan pada keluarga yang mapan dengan kondisi sosial ekonomi yang baik serta gaya hidup yang santai. 

Obesitas sebenarnya berkaitan dengan berbagai macam faktor, seperti (1) daya beli yang cukup atau berlebih, (2) ketersediaan makanan yang berenergi tinggi dan rendah serat seperti berbagai jenis.fast food yang sekarang menjamur di kota-kota besar, (3) kurangnya aktivitas fisik karena ketersediaan berbagai jenis fasilitas yang tidak memerlukan banyak energi, serta (4) kurangnya pengetahuan tentang nilai gizi yang baik. 

Masalah kegemukan terutama terjadi karena kesalahan dalam memilih makanan akibat salah menilai. Misalnya "salah" menilai makanan yang gurih dan enak sebagai makanan yang baik, atau "salah" menilai kegemukan sebagai indikator kesuksesan seseorang. Demikian pula halnya "salah" menilai makanan bayi. Susu buatan yang harganya mahal dinilai lebih baik daripada tindakan menyusui sendiri sampai umur dua tahun. Salah menilai tidak hanya terjadi dalam memilih makanan, namun juga dalam memilih jenis olahraga yang bergengsi dan yang memberi kenikmatan tanpa disadari perhitungan keseimbangan energi. 

Faktor lain yang menimbulkan kegemukan adalah akibat kelemahan dalam arti tidak memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" pada acara makan yang berlebihan, misalnya pada rapat, jamuan bisnis atau pesta. Bagi para eksekutif, rapat merupakan acara rutin yang tidak bisa dihindari. Pada rapat selalu diselipkan acara coffee break yang menyajikan kue-kue berkalori tinggi, yang dalam sehari kadang-kadang terjadi beberapa kali. Dapat dibayangkan, berapa kalori yang akan ditimbun tubuh kita bila hal ini terjadi hampir tiap hari ? 

Perubahan perilaku keluarga merupakan komponen yang paling penting dalam upaya penanggulangan dan pencegahan kegemukan. Keluarga harus memiliki keberanian dalam memilih gaya hidup dan menentukan jenis makanan yang sehat. Salah satu gaya hidup sehat adalah tekad untuk menurunkan berat badan sampai ke berat badan ideal untuk selanjutnya mempertahankan agar dapat memberikan kualitas hidup yang optimal bagi mereka yang kegemukan. Bagi mereka yang berat badannya normal ialah dengan menjaga agar tidak kegemukan. 

Mengenali metabolisme tubuh juga merupakan hal yang sangat perlu dilakukan dalam upaya mengatasi kegemukan. Metabolisme adalah upaya badan dalam menggunakan zat gizi yang berasal dari makanan untuk diubah menjadi energi, yang diperlukan untuk pembentukan otot, tulang, dan tenaga yang kita butuhkan sehari-hari. Metabolisme tubuh setiap orang tidaklah sama. Ada orang yang metabolisme tubuhnya tinggi, namun ada pula yang rendah.  

Seseorang dengan metabolisme tubuh yang tinggi boleh merasa lega karena tetap akan terhindar dari kegemukan walaupun ia mengkonsumsi makanan melebihi porsi. Termasuk dalam kelompok ini adalah para olahragawan yang masih aktif berlatih. Sebaliknya, mereka dengan metabolisme tubuh yang rendah harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan, karena tubuhnya hanya membutuhkan sedikit energi untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Kelebihan makanan hanya akan ditimbunnya dalam bentuk lemak. 

Jangan menurunkan berat badan secara drastis dengan diet yang ketat. Imbangilah diet kita dengan olahraga. Makanlah tetap secara teratur pada jam-jam makan, namun dengan porsi yang lebih kecil. Ingatlah bahwa diet yang terlalu ketat hanya akan menurunkan metabolisme tubuh, sehingga tubuh akan dengan cepat kembali seperti semula, bahkan menjadi semakin tambun bila diet dihentikan.
_____________________


 
Anger Management 11/20/2008
 

Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.- Efesus 4:26

Amarah memang reaksi alamiah manusia yang sangat wajar. Hampir setiap orang pernah melepaskan energi yang disebut dengan kemarahan ini. Meski sangat manusiawi untuk marah, kita tahu bahwa seringkali amarah menimbulkan hal-hal yang destruktif (merusak), mengakibatkan hal-hal yang fatal bahkan menyebabkan serangkaian akibat yang menuntut penyesalan tanpa henti. Hanya karena amarah ada orang tua yang kemudian menghajar anaknya sampai anak itu meninggal. Hanya karena amarah beberapa orang menjadi mata gelap dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Bukankah saat emosi kita disulut kemarahan, kita juga melakukan hal-hal konyol yang seharusnya tak kita buat?
Belajar mengenai kemarahan, saya sangat tertarik dengan buku yang ditulis oleh David Augsburger dalam Be All That You Can Be. Ia menyarankan cara-cara berikut ini untuk “marah dengan baik”. Setiap orang haruslah menyadari bahwa marah itu penting, sah dan alamiah. Benar atau salahnya kemarahan itu tergantung cara kita meresponi suatu keadaan dan bagaimana cara kita mengungkapkannya. Beberapa nasihat penting yang bisa kita ambil adalah :

Marahlah, tetapi sadarilah bahwa Anda tidak akan pernah sedemikian mudah terancam selain ketika sedang marah. Penguasaan diri menurun, daya nalar
berkurang dan pengertian menghilang.
Marahlah, tetapi sadarilah bahwa amarah dengan segera akan menjadi kepahitan, berkembang menjadi dendam, benci, dengki bahkan tindakan kejam, jika
tidak dikendalikan oleh kasih.
Marahlah, tetapi hanya untuk kebaikan. Hanya amarah yang diwarnai kasih kepada sesama yang menginginkan apa yang benar bagi orang lain disertai
kasih ilahi merupakan amarah yang membangun.
Ungkapkan kemarahan Anda dengan cara baik dan alihkan dari keinginan mempertahankan diri menjadi belas kasihan kepada orang lain..


Jangan sampai hidup yang kita bangun dengan susah payah harus hancur dalam sekejap mata karena kemarahan yang tak terkendalikan. Kenakanlah kasih menjadi pengikat segala sesuatu termasuk menjadi pengikat kemarahan kita, sehingga kalaupun kita marah maka kita marah karena dasar kasih.

 

Syarat untuk marah : dilandasi kasih dan penguasaan diri.

 
 

*Gizi.net - *
KANGKUNG termasuk sayuran yang sangat populer. Selain biasa
dibuat menjadi aneka hidangan menggugah selera, mulai dari tumis, cah, atau
lalap, ternyata juga berkhasiat sebagai antiracun dan bisa mengobati
berbagai gangguan kesehatan.

Tanaman kangkung berasal dari India, yang kemudian menyebar ke Malaysia,
Birma, Indonesia, China Selatan, Australia, dan Afrika. Di China, sayuran
ini dikenal dengan nama weng cai. Di negara Eropa, kangkung biasa
disebut *swamp
cabbage, water convovulus, *atau *water spinach.*

Sementara di Indonesia, kangkung bisa ditemukan di hampir seluruh daerah.
Bahkan, di Kecamatan Muting Kabupaten Merauke, Papua, kangkung merupakan
lumbung hidup sehari-hari bagi masyarakatnya. Di Kecamatan Darussalam
Kabupaten Aceh Besar, kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk
dikonsumsi sendiri maupun dijual ke pasar.

Kangkung termasuk suku *Convolvulaceae *atau keluarga kangkung-kangkungan.
Merupakan tanaman yang tumbuh cepat dan memberikan hasil dalam waktu 4-6
minggu sejak dari benih. Dalam satu musim saja, kangkung bisa tumbuh dengan
panjang 30-50 cm.

Tanaman ini merambat di lumpur dan tempat-tempat yang basah, seperti tepi
kali, rawa-rawa, atau terapung di atas air. Biasa ditemukan di dataran
rendah hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman bernama Latin
Ipomoea reptans ini terdiri atas dua varietas, yakni kangkung darat yang
disebut kangkung cina dan kangkung air yang tumbuh secara alami di sawah,
rawa, atau parit.

Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air terletak pada warna bunga.
Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat
berbunga putih bersih. Perbedaan lainnya pada bentuk daun dan batang.
Kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar daripada kangkung darat.
Warna batangnya juga berbeda.

Kangkung air berbatang hijau, sedangkan kangkung darat putih
kehijau-hijauan. Lainnya, kebiasaan berbiji. Kangkung darat lebih banyak
bijinya daripada kangkung air, itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat
biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang.

Herminia de Guzman Ladion, pakar kesehatan dari Filipina, memasukkan
kangkung dalam kelompok tanaman penyembuh ajaib. Di antaranya dianggap
sebagai pengusir racun dari tubuh. Di negara itu, tanaman ini dipakai untuk
menyembuhkan sembelit dan obat bagi mereka yang sedang melakukan diet.

Akar kangkung juga berguna untuk mengobati penyakit wasir. Kangkung ternyata
juga memiliki manfaat sangat tinggi. Itu karena mengandung vitamin A, B1,
dan C, juga mengandung protein, kalsium, fosfor, besi, karoten,
hentriakontan, sitosterol.
*(sindo//nsa) *

 
 

NU ngarana globalisasi, kiwari lir ngagulidagna cai walungan nu hese pikeun dibendungna. Rea nu panuju pikeun merangan budaya deungeun. Hanjakalna, ceuk Nana Gumilang Kencana, Ketua Komisi Adat Sunda, dina kabuktianana estu matak prihatin sabab budaya urang Sunda kasesered ku budaya deungeun.

Dina kaayaan kaprihatinan samodel kitu, Komisi Adat Sunda boga karep pikeun ngayakeun sosio-kultural pikeun sagancangna mulangkeun deui kaayaan budaya Sunda. Leuwih merenah lamun nyokong pilihan nasionalisme ngaliwatan penghayatan deui kana kaarifan lokal.

Sabab ceuk Nana, satuluyna, saban komunitas etnis di Indonesia neundeun tata niley nu luar biasa. Kusabab kitu, Komisi Adat Sunda ngahaja nyusun buku nu judulna Aku Anak Sunda. Eta buku nu dipedalkeun ku Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN) teh ngarupakeun buku pangajaran muatan lokal pikeun barudak sakola SD, SMP jeung SMA.

“Ieu teh ngarupikeun buku nu ngamuat niley-niley kahirupan nu ngakar kana komunitas masarakat Sunda. Saupami tiasa napel dina budi pekerti aranjeunna, kaarifan lokal bakal mampuh ngadewasakeun aranjeunna,” ceuk Nana Gumilang, basa peluncuran Buku Aku Anak Sunda, di Gedong Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur Kabupaten Kuningan, Saptu (18/10), nu anyar kaliwat.

Sawatara kitu, Cendekiawan Sunda, Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja dina sambutanana dina jero eta buku mere kamandang, gagasan miara, nangtayungan jeung mekarkeun salah sahiji budaya bangsa jeung keur ngarandapan ancaman kapunahan dina proses modernisasi kiwari, nyaeta gagasan nu penting jeung mulya. Pon kitu, ceuk Kusnaka, tarekah nu dilakonan ku Komisi Adat Nusantara nu ngareret kana pendidikan budaya jeung lingkungan Sunda nu ngarupakeun salah sahiji budaya di wilayah nusantara nu penting pikeun dipiara, ditangtayungan jeung dimekarkeun ngaliwatan media pendidikan dasar.Eta buku ceuk Kusnaka, mere pamahaman ku cara nu basajan, gampang kaharti ku barudak SD ngeunaan “etika Sunda’ dina rupa-rupa kahirupan.*

Sumber: Tatar Kuningan.com

 
 

Hindari sering makan daging sayap ayam  - wanita, khususnya; kisah nyata....!

Seorang teman saya baru-baru ini mempunyai tumor di kandungannya dan dia menjalani operasi untuk menghilangkan kista. Kista yang diangkat dari kandungannya mengandung darah hitam.

Dia berpikir bahwa dia akan sembuh setelah menjalani operasi, tetapi! setelah beberapa bulan kemudian penyakitnya kambuh lagi. Dia mengunjungi gynecologist untuk konsultasi.

Selama konsultasinya, dokternya memberikan pertanyaan yang membingungkannya. Dokternya bertanya, apakah dia sering memakan sayap ayam, dan dia menjawab iya sambil keheranan, ternyata dokternya tahu tentang kebiasaannya makan sayap ayam.

Kamu tahu, kenyataannya di abad moderen ini; ayam-ayam disuntik dengan steroids untuk mempercepat pertumbuhan mereka, agar kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi dengan cepat.

Ayam yang disuntikkan dengan steroids biasanya dilakukan disayap dan dileher.  Oleh karena itu, pada sayap dan leher ayam adalah tempat yang mengandung kadar steroids sangat tinggi. Steroids ini mempunyai efek yang mengerikan. Efek yang lebih berbahaya lagi terhadap hormon wanita, akan membantu mempercepat pertumbuhan kista didalam kandungan. Oleh karena itu, saya menasehati orang diluar sana untuk memperhatikan diet mereka, dan mengurangi kebiasaan makan sayap ayam!

*** Kasih tahu artikel ini ke o