Rochajat Harun

Ahir-akhir ini kerusakan hutan semakin terus terjadi. Para pakar lingkungan hidup banyak yang menyatakan bahwa penyebab utamanya adalah ulah manusianya juga. Rusaknya hutan sudah dipastikan menyebabkan terjadi berbagai bencana seperti longsor, banjir dan sebagainya, yang kini banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Masalah penebangan liar belum selesai, namun kemudian disusul oleh bencana lingkungan baru yakni kebakaran hutan. Salah satu bencana rutin tahunan yang sangat merugikan dan sulit diatasi. Hal ini disebabkan oleh ulah manusia yang membakar hutan untuk kepentingan pertanian. Adakalanya, para petani bisa disadarkan dan menghentikan cara ini. Namun dipihak lain yaitu HPH dan Perkebunan yang tidak bertanggung jawab dengan lancangnya melanjutkan kembali pembakaran hutan. Alasannya, karena dengan cara ini lebih efisien, dibandingkan dengan penebangan hutan untuk areal perkebunan terutama kelapa sawit, yang tentunya memerlukan biaya yang sangat besar.

Menurut Adhityani Arga, juru kampanye media Greenpeace Asia Tenggara, dalam siaran persnya mengatakan, bahwa Indonesia saat ini tercatat dalam Guiness Book of World Records sebagai negara yang memiliki tingkat deforestasi tertinggi di antara negara pemilik hutan. Setiap menit, Indonesia kehilangan hutan seluas lima lapangan sepak bola. Indonesia sebagai rumah dari puluhan juta hektar hutan alam menghadapi ancaman meningkatnya aksi perusakan hutan. Selain akibat illegal loging, juga perluasan perkebunan yang tidak terkendali untuk komoditas perkebunan, antara lain kelapa sawit. Sejak tahun 1990, sedikitnya 28 juta Ha hutan Indonesia atau seluas negara Equador, telah dirusak. Sebagian besar di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang diperuntukkan bagi perkebunan kelapa sawit. (PR, 14 Agustus 2008 halaman 18).

Cukup memprihatinkan apabila kita mengetahui bahwa Indonesia akhirnya merebut rekor dunia kebakaran hutan mengalahkan Brazil. Tahun 1963 menoreh rekor kebakaran hutan seluas 2 juta Ha, tahun 1982-1983 seluas 3,5 juta Ha, dan di tahun 1997-1998 rekor diperbaiki dengan atas nama sendiri seluas 11,7 juta Ha. Sebagai dampaknya, polusi yang mengakibatkan pemanasan global akibat kebakaran hutan di Indonesia pun tidak tanggung-tanggung. Sebanyak kurang lebih 1,7 juta karbon terlepas ke atmosfir, setara dengan 26 % total emisi karbon dunia yang dihasilkan bahan bakar fosil per tahunnya. Rusaklah citra negara kita.

Suhu bumi terlanjur terus meningkat, dan ketika sinar matahari menerpa semak-semak di hutan yang mengandung batu bara akibat suhu bumi yang panas dan tidak ada lagi pepohonan yang menaungi, lambat laun menjadi titik api yang tidak hanya membakar semak tapi karena pengaruh angin juga menghanguskan hutan. Sudah banyak pepohonan hutan ditebang dan dibakar manusia, maka kini sisanya terbakar pula oleh alam.

Pemerintah dan segenap komponen masyarakat termasuk perusahaan swasta, telah berusaha sekuat tenaga mengatasi masalah ini. Namun tetap saja upaya ini kokod monongeun, atung eneh atung eneh alias upaya dan cara yang dilakukan yang silih berganti masih  belum ada hasilnya. Malahan ada yang berkata sinis upaya pelestarian hutan ini hanyalah ”Celotehan Belaka”.

Meningkatnya suhu bumi, mengakibatkan mencairnya permukaan es di kutub dan puncak-puncak gunung es. Data terakhir menunjukkan bahwa sekitar 1,7 juta Ha permukaan es di kutub telah mencair dan lebih dari 23 km permukaan gunung es di daratan Eropa telah pula berkurang ketebalannya  akibat es yang meleleh. Belum terhitung gunung-gunung es di Asia, Afrika dan Amerika yang juga mengalami hal yang sama. Bayangkan berapa miliar kubik air yang bertambah di lautan. Inilah penyebab permukaan air laut meningkat dan banjir terjadi di mana-mana.

Penderitaan dan kerugian yang dirasakan berulang-ulang setiap tahun akibat banjir, jelas bukan sesuatu yang ringan. Dari keadaan ini, semestinya program lingkungan harus segera disikapi lebih serius oleh segenap aparat pemerintah dan anggota msyarakat. Sebab banjir inipun sangat erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan, antara lain pengelolaan sampah. Saluran air yang terhambat oleh sampah dipastikan melahirkan banjir yang merugikan. Belum lagi makin merajalelanya wabah penyakit. Yang sekarang diperlukan adalah tindakan nyata sebagai upaya penanggulangan bencana dan kerugian masyarakat. Sehingga tidak terjadi lagi tindakan yang kokod monongeun. Juga sebagai tindak lanjut atas kesadaran masyarakat yang telah tumbuh mengenai pentingnya memelihara lingkungan hidup yang hijau, bersih dan indah.

___________________________

 

 


Comments




Leave a Reply