Terenyuh mendengar cerita TKW asal Kerawang ini, nekad lompat dari lantai 2 (dua) karena tidak tahan dengan kasarnya madam (majikan perempuan) dan anaknya. Ia sengaja lompat dari lantai 2, alhasil tangan kirinya patah. Beruntung ada orang pakistan yang menolong memberikan pertolongan pertama dan mengantarnya ke Sekolah Indonesia Riyadh. Nggak diobok-obok sama orang Pakistan? Menurut pengakuan dia, orangnya baik dan tidak macam-macam. Semoga benar adanya.
Lalu inginkah dia kembali bekerja? Atau kembali ke Indonesia? Ikuti penuturan melalui video berikut dari koresponden IndoTKW.
Dia adalah TKW asal Brebes, sudah beberapa pekerjaan yang dia geluti di Jakarta, namun akhirnya kebangkrutanlah yang menggiringnya ke Saudi Arabia, mengharap hujan riyal di negeri pasir ini. Namun apa dikata, negeri ini pun pahit dikunyah, meski ia telah mengecap keramahan Madinah selama 2 tahun sebagai pekerja salon.
Turida binti Warliyah Sariwan, seorang TKW asal Indramayu dengan nomor paspor AB215873 berhasil selamat dari penyiksaan kejam oleh majikan perempuanya yang bernamakhulud. Dia baru bekerja 9 bulan pada pasangan suami-istri ini, Qatari-Arab Saudi. Memasuki bulan ke 7 Khulud mencurigainya telah selingkuh dan hamil dengan majikan pria. Sejak kecurigaan tersebut muncul, Turida mengalami penyiksaan yang kejam.
Pada tanggal 16 Maret 2007 Turida jatuh pingsan. Mengetahui hal tersebut Khuludmemanggil mobil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit Hamad. Dalam keteranganya kepada petugas ambulan, Khulud mengatakan bahwa Turida terjatuh dari tangga.
Dokter yang menangani Turida di RS.Hamad menemukan banyak kejanggalan dengan kondisi fisiknya bila hanya terjatuh dari tangga. Setelah diperiksa lebih lanjut, dokter mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi penyiksaan fisik kepada Turida. Dokter langsung memberikan memo tentang kesimpulannya kepada Kantor Polisi Khusus Kecelakaan tentang penyiksaan yang dialami oleh Turida. Memo tersebut kemudian diteruskan ke Kantor Polisi Metro Doha.
Polisi segera menjaga kamar Turida dan menjauhkan khulud darinya. Tim penyidik segera mengambil keterangan dari sopir ambulan, dokter dan khulud. Setelah menerima hasil visum dokter polisi menetapkan khulud sebagai tersangka.
Hasil visum menyebutkan bahwa Turida mengalami penyiksaan yang berat dan berkelanjutan selama hampir tiga bulan. Turida juga mengalami anemia yang sangat parah karena kekurangan asupan gizi yang akhirnya menyebabkan dia pingsan.
Setelah lepas dari masa kritis, Turida dipindahkan dari RS.Hamad ke RS. Rumeilah karena dia juga memerlukan pemulihan psikis. Setelah dirawwat hampir 11 bulan, pada tanggal 6 Februari 2008 pihak rumah sakit menyatakan bahwa Turida sudah fit dan diperbolehkan keluar atau pulang ke Indonesia.
Masalah kemudian muncul dari sini, Kholud sepertinya masih dendam dan tidak terima dengan keputusan mahkamah yang menjatuhinya kurungan penjara dan denda 10.000 riyal Qatar dengan tetap menuduh bahwa Turida telah hamil dengan suaminya tapi mengalami keguguran saat pingsan.
Kejaksaan kemudian mengabulkan Peninjauan Kembali bagi kasus ini dengan meminta rumah sakit untuk memvisum Turida kali kedua. Rumah sakit Hamad menolak permintaan ini dan tetap mengacu pada hasil visum pertama.
Kasus ini kemudian menjadi berlarut-larut diantaranya karena ruwetnya birokrasi di Qatar. Untuk meminta dilakukannya sebuah visum, kejaksaan harus melalui kepolisian yang nantinya kepolisian akan mengirimkan surat resmi ke RS.Hamad untuk melakukan visum tersebut. Begitupun ketika hasil visum sudah keluar maka kepolisian yang akan menerimanya dan mengantarkan ke kejaksaan.
Kejaksaan sudah tiga kali meminta diadakan visum ulang, dan sudah tiga kali pura RS. Hamad menolak. Setiap permintaan dan penolakan tersebut memakan waktu antara 7-10 hari. Jadilah Turida sekarang menjadi orang sehat di rumah sakit. Bila sampai bulan depan masih demikian keadaanya, Turida akan dititipkan di penjara.
Seandainya Turida orang Filipina, tentu sudah dijemput oleh Staff kedutaan untuk ditampung bersama rekan-rekan senegaranya. Dan seorang pengacara atau staff juga sudah disiapkan untuk mendampinginya baik di persidangan, kantor polisi maupun kejaksaan. Dan dijamin pengurusan asuransi dari pemerintah Qatar akan didampingi sampai cair.
dari http://migontor.wordpress.com/category/berita/tki-di-qatar/
Kenalkan saya Sarie, dari indramayu tinggal di Jeddah. Saya sudah 6 tahun disini dan belum pernah vacation ke kampung halaman.
Saya, miris melihat keaadan tkw disini, jauh2 datang dari indo dengan harapan dan mimpi kelak suatu hari bisa jadi orang sukses, seorang wanita rela meninggalkan suami dan anaknya atau gadis-gadis yang tidak bisa melanjutkan sekolah, yang menjadi pilihan utamanya adalah berangkat ke Saudi dengan alasan karena negara muslim sedikit adat dan makanan adalah sama dengan orang Indo.
Setelahnya sampai di rumah majikan, mungkin ada yang cocok dan ada yang nasibnya belum bagus dan kaburlah TKW. Di sinilah awal petualangan bagi mereka, menyusuri jalan, mencari bantuan, mengharap belas kasihan dsb. Banyak sekali TKW Indo menikah dengan orang banggali [red, Bandladesh] begitu kita menyebut. Ada yang sama2 muda, ada wanita indo yang setengah baya banggalinya muda, tentu itu hanya sebagian saja. Kasihan melihat kehidupan mereka yang ngumpet2 seperti maling, karena nggak punya iqamah. Kadang harus muter2 dulu sebelum masuk ke penampungannya, tengok kanan-kiri apakah ada pemuda arab disekitarnya. Jika keaadan aman barulah masuk rumah.
Di penampungan pun umumnya serba minim. Saya juga tidak menghakimi bahwa semua penampungan serba minim, tapi begitulah adanya selain mereka sendiri yang cerita, saya juga datang sendiri ngecek keaadannya.
Andai saja saya bisa berbuat sesuatu untuk mereka, paling memberikan nasehat untuk mereka kenapa bertahan hidup dalam kegelapan dengan mengatasnamakan "demi sesuap nasi". Atau nunggu ditarhil baru pulang ke indo dulu?
Minimnya pendidikan. Andai saja pemerintah peduli dengan rakyat kecil tentu tidak harus banting tulang, meyerahkan nyawa dan kehormatan untuk mempersiapkan tanggung jawab besar bekerja di rumah orang arab yang keseluruhannya adalah pembantu yang mengerjakan.
Kawan, kita harus bersatu untuk maju, misalnya kita punya ketrampilan lebih seperti, menjahit, dagang, dsb, mari kita berkelompok untuk mendirikan sebuah jamaah yang bermanfaat dengan memanfaatkan ketrampilan yang kita punya. Jangan terus menerus orang indo jadi budak orang arab. Mari kita tunjukan kepada alam bahwa tidak selamanya orang Indo bodoh, tidak punya pekerjaan layak dan selalu dipandang rendah karena jarang orang Indo yang bisa bekerja selain jadi pembantu.
Bagaimanakah caranya untuk mengubah image orang Indo supaya bisa selangkah lebih maju? saya tunggu ide dari kalian,untuk bisa membantu sesama tkw lebih punya martabat khususnya perempuan. Posted by IndoTKW at 01:49
Rabu, 2008 April 09 Ini adalah korban KDRTMSATPRTI (Kekerasan Dalam Rumah Tangga Majikan Saudi Arabia Terhadap Pembantu Rumah Tangga Indonesia). TKW mengalami pemukulan oleh tiap-tiap majikan di berbagai tempat - punggung, lengan, kepala atas, belakang dan telinga. Banyak pengalaman dengan banyak majikan dan kebanyakan perlakuan yang tidak menyenangkan ini terjadi. Ikuti wawancaranya berikut ini, yang dilakukan pagi ini, Rabu 9 April 2008.
Ini adalah 4 TKW kabur dan mengungkapkan penyebab kaburnya mereka. Dua diantara mereka menyatakan kabur karena setiap hari mengalami percobaan pemerkosaan oleh anak majikan. Meski kabur pun beresiko "dimakan" sopir taksi bangladesh/pakistan/saudi, karena di sini tidak ada public transport yang memadai. Ada pun hanya jurusan tertentu, dan semua penumpang laki-laki.
Namun, tinggal di tempat adalah tinggal menunggu waktu, kapan "dimakan" orang Saudi. Well, paling tidak ini bisa membuka wawasan kita dan menyampaikan informasi kondisi Saudi Arabia untuk mereka yang hendak mempertaruhkan hidup dan kehormatannya. Ikuti wawancaranya berikut ini.
Masih ingat TKW Yanti yang dihukum tembak pada 15 November 2007 lalu? Ya ia telah kembali ke tempat kelahirannya, Soreang, Kabupaten Bandung hari Jumat 4 April 2008 dengan sambutan derasnya cucuran air mata dari sanak kerabatnya...
Akankah ini kembali berulang? Akankah ada korban berikutnya, terbunuh, dianiaya, atau diperkosa? Bisa jadi, manakala ekspor TKW tidak diawasi dengan baik oleh pemerintah...
TKW asal Jepara ini mengisahkan pada IndoTKW tentang kaburnya. Sulit bagi dia untuk kabur dari komplek perumahan militer Saudi Arabia. Sudah gaji tidak dibayar, majikan laki-laki pasca lebaran tahun lalu berusaha meminta TKW melayaninya karena istrinya sedang bunting. Alamak!! Begitu tidak berharganya seorang wanita bagi dia, sementara istrinya bunting karena ulah dia, e... malah dia pun mencari mangsa lain...
Memang, banyak beredar cerita bahwa orang arab ketika istrinya melahirkan malah ditinggal kawin lagi... Ini mah bukan sunnah rasulullah, melainkan mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja...
Bersyukur, TKW ini tidak mengalami penganiayaan maupun pemerkosaan...
Kang Bawor kembali mangkal di dekat Sekolah Indonesia Riyadh hari Kamis, 13 Maret 2008 dari pagi jam 9 hingga adzan maghrib. Dagangan blas tidak laku. Tapi ini "ma fi musykilah" (no problemo), yang menjadi masalah adalah hati Kang Bawor yang merasa "ngenes", trenyuh, sedih, bercampur jadi satu. Apa pasal? Kang Bawor melihat dengan mata kepala sendiri, sudah ada 8 TKW kabur ke SIR pada hari itu. 4 di pagi hari, 2 siang hari, dan dua ketika adzan maghrib berkumandang. Duh! 8 TKW kabur ke SIR dalam 1 hari. Sungguh pemandangan yang begitu mengenaskan...
Sejumlah TKW menyatakan kabur karena gaji mereka tidak dibayar, ada pula karena mengalami pendarahan terus-menerus karena ia menjadi TKW 40 hari setelah ia melahirkan, dan ada pula yang karena majikan atau anak majikan yang kurangajar... (baca: maaf mencoba memperkosa).
Ya, cukup memprihatinkan bila para TKW bak hujan deras mengalir dari bumi pertiwi ke Arab Saudi, namun kejadian-kejadian seperti ini tiada kunjung berhenti... Kang Bawor kembali berhitung siapa yang seharusnya bertanggungjawab akan hal ini... Orang PJTKI? Pemerintah Indonesia? atau Sistemnya yang harus diperbaiki?
Hmm... masalah ini memang tidak semudah menggoreng tempe atau menyiapkan segelas wedang jahe... Tetapi akankah hal ini terus belanjut tanpa perbaikan? Kang Bawor pun menyusun "combro" * bak menara Faisaliah yang begitu terkenal di Riyadh. Andaikan susunan combro ini diterpa angin gurun, maka bagian teratas ini ibarat para TKW, bila apes, ya bener-bener apes... Ah... combro... combro...