Menurut informasi resmi KBRI Damaskus, Nurika meninggal selama dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Dari sini timbul pertanyaan besar, apakah selama 22 hari Nurika tidak dibawa ke rumah sakit? Padahal kondisi fisik Nurika sangat kronis akibat penyiksaan majikan," ujar Executive Director Migrant Care Anis Hidayah dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Selasa (23/9/2008). Keterlambatan KBRI Damaskus untuk membawa Nurika ke rumah sakit, imbuh Anis, juga diduga kuat yang menjadi penyebab meninggalnya Nurika.
Komentar Kang Bawor: Di sini terlihat memang KBRI memiliki keterbatasan dalam mengurus pesta pora PJTKI yang asal memberangkatkan tanpa memberikan perlindungan bagi TKW. Semua TKW bermasalah yang kabur ke KBRI akhirnya ditampung dan diberikan perawatan yang minim. Alasan klasik adalah minimnya dana. Pemerintah dalam hal ini KBRI hanya menjadi tukang cuci piring pesta pora pejabat Endonesia dan orang-orang PJTKI. Wadhuh, betapa mengenaskan...
Posted by IndoTKW at 17:41
Labels: Warung HIK
Sementara menurut catatan Migrant Care, selama bulan Januari – Agustus 2008, setiap bulannya buruh migran Indonesia yang meninggal di luar negeri sekitar15-20 orang."Namun pada bulan September 2008, angka kematian tersebut meningkat diatas 25 orang. Pengiriman jenazah buruh migran Indonesia dari luar negeri ke Indonesia laksana parade peti mati yang tidak mampu menggerakkan nurani pemerintah Indonesia," kata dia.
Komentar Kang Bagong: Karena Oknum2 bergentayangan dan bergandengan tangan: oknum pemerintah, oknum PJTKI, oknum BNP2TKI, oknum...
Penyelundupan Musrifah binti Ramli dan Herni binti Samsuri dari Kuwait ke Saudi Arabia
1. Kisah Musrifah binti Ramli: Sambil menangis, seorang Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) yang mengaku bernama Musrifah binti Ramli menelpon saya pada tanggal 24 Agustus 2008. Ia menyatakan ingin segera pulang ke Indonesia namun tidak berdaya karena selalu dicengkeram oleh majikannya. Kisahnya secara ringkas dapat dituliskan sebagai berikut:
Sdri. Musrifah binti Ramli diberangkatkan ke Kuwait pada tanggal 15 Mei 2006 oleh PT. Binhasan Maju Sejahtera, untuk bekerja pada majikan yang bernama Adnan (nama lengkap majikan tidak diketahui) sebagai PLRT; namun pada tanggal 03 Juni 2006 ybs dipindahkan ke majikan ke dua yang bernama Ny. Faezah Abaid Al-Shamry yang berdomisili di Kota Hafir Batin - Saudi Arabia.
Setelah bekerja lebih dari dua tahun pada majikan kedua, Sdri. Musrifah binti Ramli meminta untuk dipulangkan ke Indonesia, namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda akan dipulangkan, dengan alasan paspornya telah hilang.
Sdri. Musrifah binti Ramli berhasil menghubungi KBRI Riyadh tatkala majikannya sedang berada di luar kota, namun tidak mampu memberikan jatidiri majikannya secara lengkap kecuali nomor telepon rumah (03-7228478).
Sdri. Musrifah binti Ramli yang berasal dari Desa Kalirahayu, Kec. Losari, Kab. Cirebon ini adalah pemegang paspor R.I. nomor: AB.239375; dan mempunyai seorang ayah yang bernama Ramli bin Kasnawi.
2. Kisah Herni binti Samsuri: Seorang PLRT yang bernama Herni binti Samsuri pada tanggal 14 September 2008 meminta perlindungan ke KBRI Riyadh. Seperti Sdri. Musrifah binti Ramli, Herni binti Samsuri juga diselundupkan dari Kuwait ke Saudi Arabia secara tidak sah. Berdasarkan pengakuannya, kisah
Herni binti Samsuri dapat diringkaskan sebagai berikut: Sdri. Herni binti Samsuri diberangkatkan ke Kuwait pada tanggal 15 Maret 2006 oleh PT. Alfindo Mas Buana, untuk bekerja pada majikan yang bernama Ali (nama lengkap majikan tidak diketahui) sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT); namun pada tanggal 01 April 2006 ybs dipindahkan ke majikan lain yang bernama Saad Marzuk Noar Saleh Al-Utaibi yang berdomisili di sebuah pedesaan di Distrik Dawadmi - Saudi Arabia.
Setelah bekerja lebih dari dua tahun pada majikan illegal tersebut, Sdri. Herni binti Samsuri meminta untuk dipulangkan ke Indonesia, namun si majikan tidak memulangkannya dan juga tidak membayar seluruh gajinya.
Sdri. Herni binti Samsuri berhasil kabur dari cengkeraman majikan dan meminta perlindungan ke KBRI Riyadh bersama dengan seorang PLRT lain yang bernama Ani Rinawati binti Tasmin, yang mengaku bekerja pada majikan yang sama. Sdri. Ani Rinawati binti Tamin adalah seorang PLRT yang diberangkatkan ke Saudi Arabia oleh PT. Pancaran Batu Sari pada tanggal 15 April 2001, dan gajinya selama 69 (enam puluh sembilan) bulan belum dibayar juga oleh Saad Marzuk Noar Saleh Al-Utaibi.
Sdri. Herni binti Samsuri mengaku dilahirkan di Cirebon pada tanggal 18 Februari 1988 dan berasal dari Desa Wargabinangun RT: 01/02, Kec. Kaliwedi, Kab. Cirebon; sementara Sdri. Ani Rinawati binti Tasmin mengaku dilahirkan di Majalengka pada tanggal 17 Juli 1985 dan berasal dari Desa Cidenok RT: 01/04, Kec. Sumberjaya, Kab. Majalengka. (Sukamto Javaladi)
Ardi Yanuar - detikSurabaya
Pamekasan - Malang benar nasib Suniah (35). Tenaga kerja Wanita (TKW) asal Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan MAdura itu, meninggal dengan kondisi mengenaskan. Berat tubuhnya turun drastis dari 42 Kg saat berangkat, menjadi hanya 22 kg. Wajahnya juga penuh luka, lantaran sering disiksa oleh majikannya di kota Damaskus, Suriah. Informasinya pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus, sedang mengupayakan pemulangan jenasah Suniah ke kampung halamannya di Madura. Sejak kabar kematian Suniah merebak, Haji Samsul (52), paman Suniah, langsung berangkat ke Jakarta menemui PJTKI yang memberangkatkan keponakannya itu. PJTKI yang memberangkatkan Suniah ke Damaskus adalah PT. Bayu Satria Dewi (BSD). "Di kantor pengerah tenaga kerja itulah, saya sempat membaca hasil visum kematian Suniah," kata Samsul saat dihubungi ponselnya, Selasa (23/9/2008). Samsul mengaku saat ini sedang di Jakarta. Dalam visum yang diikirimkan ke kantor PT BSD itu, menyebutkan, wajah Suniah penuh luka karena siksaan. Bobot tubuhnya saat meninggal hanya 22 kg, dan ada tulang rusuk yang patah. Menurut Samsul, 22 hari sebelum Suniah meninggal, kedua majikannya mengirimnya ke Kantor KBRI di Damaskus. Suniah sempat dirawat di kantor KBRI. Namun karena sakitnya bertambah parah, akhirnya Suniah dibawa ke rumah sakit di Damaskus.�"Sayang, dalam perjalanan menuju rumah sakit, Suniah akhirnya meninggal dunia," tutur Samsul. Dalam visum itu, disebutkan Suniah meninggal pada hari Minggu, 7 September lalu. Penuturan Samsul itu, berdasarkan surat hasil investigasi KBRI di Damaskus, yang juga difaks ke kantor PT BSD. Dalam surat itu, disebutkan penganiayaan dilakukan Mr Ammar Mahmud� (43) dan istrinya, Najoud (40). Selama 26 bulan bekerja di rumah Ammar dan Najoud itu, Sutiah diperlakukan tak manusiawi. Makan sehari-hari hanya dijatah sekali makan, malah sering tak diberi makan. Jika Sutiah melakukan kesalahan kerja, maka kedua majikannya itu dengan bengis menyiksanya. Tak jarang Suniah dikurung dalam kamarnya selama berhari-hari. "Karena perlakuan majikannya telah melanggar hukum, aparat kedutaan Indonesia di Damaskus akan melakukan penuntutan," imbuh Samsul. Kepada staf kedutaan, kedua majikan Suniah berjanji akan melunasi upah selama 26 bulan. Nilainya sekitar Rp 24 juta. "Gaji pembantu di Suriah memang murah, jauh dibawah upah pembantu di Arab Saudi," kata samsul, yang mengaku pernah bekerja cukup lama di Arab Saudi. Secara terpisah, Kepala Desa Potoan Daya, Fatorahman, mengatakan, keluarga Suniah telah menggali makam. Kuburan Suniah, berlokasi di sisi timur makam ibunya. Menurut Fatorahman, keluarga korban berharap agar secepatnya jenasah Suniah diberangkatkan ke Madura. Sejak menerima kabar duka itu, keluarga Suniah juga telah menggelar tahlilan usai salat tarawih.(gik/gik)
 NUNUKAN - Jumlah tenaga kerja Indonesia di Sabah, Malaysia, yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian diperkirakan mencapai 100.000 orang. TKI ilegal yang dideportasi pada periode Januari-Agustus 2008 mencapai 3.804 orang. Angka tersebut berbeda dengan temuan lembaga swasta yang mencatat 150.000 orang.
Kepala Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Nunukan Muhammad Syafrie menyatakan hanya menemukan sekitar 100.000 TKI ilegal di Sabah, Selasa (23/9).
Sedangkan Komisi Pastoral Migran dan Perantauan Keuskupan Tanjung Selor, Nunukan, Kalimantan Timur, menyebutkan, sekitar 150.000 warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim dan bekerja sebagai TKI di sana tidak memiliki dokumen imigrasi karena dikirim langsung oleh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang tak mengindahkan prosedur keimigrasian.
Syafrie menyatakan, di Nunukan ada 54 PJTKI dan 52 di antaranya berstatus kantor cabang. Ia membantah jika pengiriman TKI oleh kantor cabang PJTKI menjadi penyebab banyaknya TKI berdokumen resmi menjadi TKI ilegal. ”TKI menjadi ilegal karena tiga hal, yakni pindah kerja, keluar dari pekerjaan, atau masa kontraknya habis, tetapi tidak kembali ke Indonesia. Bukan karena pengiriman TKI oleh kantor cabang PJTKI di Nunukan. Dulu kami memang mengizinkan kepala cabang PJTKI menandatangani dokumen TKI. Namun, sejak ada surat petunjuk dari pusat pada Mei 2008, itu tidak bisa lagi.”
Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Malfa Asdi membenarkan bahwa banyak WNI menggunakan paspor biasa untuk mencari kerja sebagai TKI di Sabah.
Menurut anggota Komisi Pastoral Migran dan Perantauan Keuskupan Tanjung Selor, Magun Vincentius, di Nunukan, dari 150.000 WNI bermasalah itu, 88.000 di antaranya TKI ilegal, sementara sisanya mengikuti TKI di Sabah, serta 72.000 anak usia 1–11 tahun tak memiliki jaminan pendidikan. ”Kami perkirakan ada 240.000 WNI lainnya yang pernah memiliki dokumen imigrasi, seperti paspor, tetapi saat ini bermasalah,” katanya.
Di Nunukan, dari 54 PJTKI, 53 di antaranya kantor cabang yang tak boleh mengirimkan TKI, tetapi kenyataannya memberangkatkan TKI. ”Akibatnya, banyak TKI berangkat tanpa demand letter dan kejelasan penempatan kerja,” katanya. (ROW) Aryo Wisanggeni G Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
Sumber Kompas Online
 Liputan6.com, Jakarta: Seorang tenaga kerja Indonesia lagi-lagi mengalami nasib buruk. Bunga, bukan nama sebenarnya, diperkosa sang majikan saat bekerja di Jeddah, Arab Saudi. Akibatnya, perempuan berusia 30 tahun itu hamil delapan bulan. Sementara sang majikan tetap bebas karena Bunga tidak tahu cara melapor ke polisi.
Nasib Bunga semakin terpuruk. Ketika pulang ke Tanah Air dua pekan lalu untuk minta perlindungan keluarga, Bunga justru diceraikan sang suami. Nahasnya pula, tujuh bulan gaji Bunga juga belum dibayar hingga kini. Padahal pendapatan itulah harapan Bunga satu-satunya untuk bisa menghidupi diri dan bayinya beberapa waktu ke depan.(YNI/Nova Rini dan Nurwanto)
 TKW ini layak ditiru, belajar pula teknologi informasi. Gak mau ketinggalan sama yang lain. Rie-rie pemilik blog babungeblog.blogspot.com pun sangat kreatif dan aktif update blognya. Adakah para TKW di Jazirah Arab dapat memiliki kesempatan yang indah seperti ini? Yang jelas TKW Hongkong memiliki jam kerja yang jelas dan berasuransi, sehingga (dapat ditarik kesimpulan) tidak ada yang dipekerjakan dari pagi hingga pagi, alias tidur cuma kurang dari 4 jam. Sisa waktu TKW Hongkong ini pun bisa digunakan untuk belajar belajar dan belajar...
BNP2TKI berencana mendirikan Pusat Pelatihan Desa (PPD) khususnya di Pulau Jawa. Pelatihan ini diberikan kepada para TKI sebelum mereka bekerja ke luar negeri. "Dengan pelatihan ini diharapkan para TKI sebelum berangkat sudah dapat menggunakan peralatan di luar negeri," ujar Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat dalam safari Ramadan, di Brebes, Sabtu (13/9/2008). Menurut Jumhur, pihaknya sedang mengusahakan untuk segera merealisasikan Pusat Pelatihan Desa ini."Secepatnya," ujarnya. Dengan adanya pusat pelatihan di desa-desa, Jumhur berharap para TKI tidak perlu lagi berlatih di kota.
Komentar Kang Bawor: Bagaimana mungkin efektif kalau yang dipusatkan saja tidak becus dibekali, sekarang mau didistribusi ke tingkat desa. Siapa bisa jamin pelatihan ini lebih baik? Kenapa sih yang dilakukan yang tidak strategis? Duh!
Sumber IndoTKW
 KUALA LUMPUR, SABTU - Seorang pembantu asal Cilacap, Siti Fatonah ( 20) hari Jumat di Selangor, Malaysia, tewas karena dilukai majikan laki-lakinya. Sedangkan majikan perempuannya, Ang Sook Foon (37) juga meninggal dengan leher dilukai suaminya setelah mencoba melerai perkelahian antara suami dengan pembantunya itu.
"Kami sudah mengirim staf untuk melihat dan mengurus mayatnya di rumah sakit, sedang kami sedang menunggu hasil otopsi, sedangkan saya akan mengurus santunan asuransinya," kata Atase Tenaga Kerja KBRI Kuala Lumpur Teguh H Cahyono, di Kuala Lumpur, Sabtu.
"Perlu beberapa hari untuk mengurus kepulangan jenazahnya," tambah Teguh.
Karena itu, Malaysia digemparkan oleh kasus pembunuhan dua wanita oleh seorang warga Malaysia etnis China, di sebuah Taman Wawasan, Puchong, Selangor.
Berdasarkan keterangan Wakil Kepala Polisi Subang Jaya, Abdul Aziz Abdul Majid, majikan laki-laki bertengkar dengan pembantunya Siti Fatonah pada Jumat pagi sekitar jam 07.00 pagi.
Karena tidak bisa menahan emosi, majikan laki-laki itu kemudian mengambil pisau dan menggorok leher PRT asal Cilacap itu sampai mati.
Melihat kegaduhan itu, majikan perempuan Ang Sook Foon mencoba menenangkan suaminya tapi malah diserang dan diperlakukan sama dengan pembantunya. Dia meninggal saat itu juga dengan luka-luka di leher.
Majikan laki-laki kemudian sadar barulah menyesali perbuatannya sehingga ia menangis sambil memangku mayat istrinya di atas sofa ruang tamu hingga polisi datang.
Polisi menerima pengaduan dari tetangga yang mendengar keributan di rumah sebelahnya.
Pada saat kejadian, ibu pelaku yang berusia 78 tahun dan tiga anaknya yang berusia empat bulan, dan ada yang berusia enam tahun sedang ada di rumah tersebut.
Ia turun dan datang ke dapur serta melihat pertengkaran antara anaknya dengan pembantunya, yang dicoba dilerai oleh menantunya. Tapi anaknya malah membunuh pembantu dan istrinya.
Karena ketakutan, ia membawa ketiga cucunya lari ke rumah tetangga untuk minta perlindungan.
ABI Sumber : Ant SUmber Kompas
 KUALA LUMPUR — Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia di Malaysia diperkosa di dalam mobil di Bukit Dumbar, George Town, Malaysia.
Ketika itu, wanita berusia 20-an tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga berjalan seorang diri di jalanan. Tiba-tiba, dia dibawa masuk ke sebuah mobil dan dilarikan ke suatu tempat.
The Star Online melaporkan, wanita yang dirahasiakan identitasnya itu selama dalam perjalanan tidak sadarkan diri karena telah dibius. "Ketika terbangun beberapa jam kemudian, dia mendapati lima pria bertopeng berdiri dekat tubuhnya yang telanjang. Dia kemudian disuruh berpakaian. Salah seorang dari mereka membawanya kembali ke tempat dia diculik," kata pejabat kepolisian setempat, Azam Abd Hamid.
"Korban selanjutnya membuat laporan ke kantor polisi Jelutong. Dia kemudian dikirim ke Rumah Sakit Penang dan hasil pemeriksaan membenarkan kalau dia diperkosa," kata Hamid di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (12/9). (Tribun Timur)
ABI Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network Sumber Kompas Online
|