JAROH (30) akhirnya pulang kembali ke tanah air dengan membawa impian pahit. Berniat ingin membangun rumah di kampungnya, Jaroh memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga di Kuwait pada beberapa bulan yang lalu. Dibantu oleh Ujang (30) asal Cirebon sebagai calo yang disebut sponsor oleh para TKI (Tenaga Kerja Indonesia), wanita tamatan SMP Cirebon ini dibawa ke PT Jam-jam dan PT Biru Hasan sebagai agen TKI untuk negara jazirah di Jakarta.

Jaroh beserta para TKI dan TKW lainnya ditampung oleh PT tersebut selama satu  bulan satu  minggu sampai pengurusan paspor dan visa bekerjanya selesai.

Dengan rela dan berat hati Endi seorang pekerja bebas mengizinkan dan melepas istri tercintanya untuk bekerja jauh di negara jazirah demi mewujudkan impian mereka.

Jaroh yang telah dijual oleh penyalurnya/calonya di Indonesia seharga 500 dinar Kuwait kepada Eskarani Kuwait yang telah mencarikan majikan buat Jaroh di sana.

Sebelum berangkat ke Kuwait terbayanglah oleh Jaroh rumah masa depan mereka setelah beberapa lama bekerja di sana. Bersama 52 orang TKW lainnya masa itu, berangkatlah Jaroh dengan membawa angan-angannya tanpa memikirkan bagaimana  nasibnya nanti di sana.

Dijanjikan dengan gaji 45 DKW (dinar Kuwait) sekira Rp 1.500.000 per bulan, mulailah Jaroh melaksanakan tugasnya di keluarga Fuad dan Nadia di daerah Hawali, Kuwait.

Kedatangan Jaroh di bandara yang dijemput oleh suami istri Kuwait ini nampaknya memberikan harapan cerah bagi Jaroh.

Setelah beberapa hari bekerja, mulailah nampak gejala yang tidak benar, terlambat beberapa detik saja setelah dipanggil majikan, Jaroh langsung mendapat ganjarannya.

"Kadang-kadang saya tidak tau dan tidak mengerti apa yang dimaui majikan atau anaknya, karena saya tidak mengerti bahasa arab, bukannya diulangi atau diterangkan apa maksudnya, malah saya langsung digebukin dan ditendang oleh pasangan suami istri tersebut. Anak laki-lakinya yang berumur 15 tahun juga menambah gebukan itu," demikian ungkapan Jaroh di bandara Kuwait ketika mau pulang mudik.

Tidak tahan tiap hari disiksa, akhirnya Jaroh yang tidak pernah keluar apartemen semenjak kedatangannya pertama kali di sana, memutuskan untuk kabur lewat jendela. Kediaman majikannya di lantai lima tak mengurungkan niatnya untuk mencoba melarikan diri.

Dibantu kabel listrik yang ditemukannya di sana, Jaroh mencoba turun dengan hati-hati, tapi malang sampai di lantai tiga, kabel tersebut tidak mampu menahan berat badannya,  akhirnya putus sehingga Jaroh jatuh tertelungkup dan pingsan di lantai dasar. Tubuh Jaroh yang tidak berdaya itu ditemukan oleh dua  orang lelaki asal Mesir yang kebetulan lewat di sana,  kemudian melarikannya ke rumah sakit. Setelah 25 hari dirawat, Jaroh diambil polisi dan diantar lagi ke rumah majikannya.

Jaroh mengalami patah kaki dan jari-jarinya terpaksa di gips. Selama berada di rumah majikannya Jaroh selalu dikurung dan dikasih makan cuma nasi putih dan goreng terung setiap harinya.

Setelah 17 hari di sana, Jaroh masih tidak menampakkan kepulihan yang sempurna, pasangan Fuad dan Nadia menginformasikannya ke Eskarani Kuwait sebagai penyalur, yang akhirnya memulangkan Jaroh ke tanah air.

Jaroh kembali ke Indonesia hanya berbekal paspor dan pakaian yang melekat di badan. Sedangkan pakaian dan perlengkapan yang dibawanya ketika datang kesana masih berada di rumah majikannya,  juga pakaian sumbangan  para rekan TKW yang membesuk Jaroh ke rumah sakit. Begitu juga dengan gajinya selama 2 bulan bekerja di sana tidak sepeserpun diterimanya.

"Seandainya saya sehat pun dan masih bekerja di sana, gaji selama lima bulan pertama tidak akan pernah diterima," ungkap Jaroh memelas.

"Saya tidak tau bagaimana membiayai pengobatan selanjutnya nanti di kampung," lanjut Jaroh sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

Sebahagian besar TKW yang diberangkatkan satu rombongan dengan Jaroh sebanyak 52 orang, 19 orang di antaranya bernasib sama seperti Jaroh, di mana saat itu di antaranya masih ada yang dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang rusuk akibat penganiayaan majikan.

Menurut informasi para TKW yang mau pulang saat itu di bandara Kuwait, rata-rata majikan mereka orang Kuwait, kasar dan brutal kepada pembantunya.  Sebagian besar dari mereka merasa bersyukur bisa pulang dan tidak mau kembali kepada majikan yang sama. Di antaranya akan berusaha mendapatkan majikan baru,  tentunya dengan bantuan ujang-ujang yang menjadi sponsor di kampungnya.

Begitu banyak didengar nasib tragis para TKW/TKI di negara jazirah,  walaupun demikian jumlah mereka yang dikirim ke sana untuk bekerja masih tetap meningkat tanpa  mengalami kesulitan. Apakah pengiriman mereka ini legal dan memenuhi aturan yang berlaku dengan memperhatikan human right/hak asasi manusia?  Entahlah itu di negara Kuwait, Siria, Bahrain atau negara jazirah secara global termasuk juga negara jiran seperti Malaysia, di mana di sana masih terdapat pebudakan dan penyiksaan manusia yang tidak berdaya sampai sekarang ini.  Lagian, apakah  pengiriman mereka ini ada diketahui oleh pemerintah Indonesia atau departemen tenaga kerja?

Mudah-mudahan dengan adanya perhatian pemerintah Indonesia terhadap pengiriman tenaga kerja ke luar negeri khususnya ke negara-negara yang tidak tahu bagaimana menghargai hak asasi seseorang, para pengikut Jaroh selanjutnya tidak akan mengalami nasib yang serupa. (*)

Artikel di atas adalah hasil wawancara penulis dengan Jaroh di Kuwait Air

Sumber: Tribun Jabar


 
 

Untuk pertama kalinya tenaga kerja Indonesia (TKI) berhasil menembus pasar tenaga kerja resmi di negeri Kanada. Negara yang terkenal sulit menerima pekerja asing tersebut kini terbuka bagi para TKI.

Sebagai tahap awal, Perusahaan Pengerah TKI Swasta (PPTKIS) yang berhasil menembus sulitnya pengurusan TKI ke Kanada, PT Yonasindo Intra Pratama akan mengirimkan 15 orang TKI ke tetangga sebelah utara dari Amerika Serikat tersebut.

"Kanada memang mempersyaratkan tenaga kerja asing dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Namun demikian, setelah mereka bekerja di sana akan diperlakukan sama dengan tenaga kerja lokal," kata Manager & Local Training Manager Yonasindo, Edi Handono dalam jumpa persnya di Jakarta, Selasa (25/11).

Negara tersebut juga melakukan kebijakan melarang adanya pemotongan gaji terhadap tenaga kerja. Hal ini yang semakin membuat PPTKIS enggan mengerahkan TKI ke sana. Namun, hal itu justru dianggap menjadi peluang bagi Yonasindo yang tidak mengandalkan potongan gaji TKI. "Kami mendapatkan dana dari fee perusahaan yang merekrut TKI. Sementara pengurusan dokumen TKI dibiayai oleh mereka sendiri," tandasnya.

Sementara itu salah satu TKI yang akan bekerja ke Kanada, Gledek Mastono mengatakan untuk mengurus surat-surat dokumen, dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 10 juta. Pengurusannya pun terbilang lama yaitu lima bulan. "Ini murni untuk pengurusan, saya sama sekali tidak membayar fee untuk perusahaan agen saya," kata Gledek.

Meski demikian Gledek menyatakan tidak menyesali, karena dia telah menyepakati bekerja sebagai pengawas restoran di Calgary, Kanada dengan gaji melebihi UMR di Kanada. Dia menyebutkan, UMR di Calgary sekitar Rp 1.500 dollar AS, dengan demikian bisa dibayangkan bila dengan kurs 1 dollar sama dengan Rp 12.000, maka gaji mereka rata-rata Rp 18 juta per bulan. (ear)

Sumber: Tribun Jabar

 
 

Jakarta – Pahlawan devisa bakal berguguran terimbas krisis global. Sinyal itu diungkapkan Menakertrans Erman Suparno. Tiga negara berpotensi melakukan deportasi secara massal Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Potensi devisa miliaran dolar pun melayang. Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno memaparkan TKI berpotensi mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di tiga negera yakni Taiwan, Hong Kong dan Malaysia atau Jepang.

“Negara tujuan TKI mengalami kesulitan ekonomi akibat krisis global. Sehingga ada yang berpotensi melakukan deportasi massal terutama di tiga negara,” papar Erman Suparno, di Jakarta, Selasa (25/11).

TKI yang aman dari potensi PHK adalah yang bekerja di Brunei Darussalam. Sementara tenaga kerja TKI yang berada di Timur Tengah akan habis masa kontraknya secara reguler.

Potensi pemulangan TKI yang sering disebut sebagai pahlawan devisa ini jelas berakibat negatif. Lihat saja kiriman uang yang masuk dari para TKI yang bekerja di luar negeri sepanjang tahun diprediksikan mencapai Rp 40 triliun. Nilai uang kiriman itu tersebut belum termasuk yang dikirim TKI melalui teman atau kerabatnya.

Pengiriman uang oleh para pekerja migran Indonesia, atau yang dikenal dengan istilah remitansi, sebenarnya berpotensi untuk ditingkatkan 5-10 kali lipat dari saat ini bila didukung peningkatan jumlah pekerja migran di sektor formal.

"Remitansi pada 2007 saja sudah mencapai US$ 6,1 miliar dan pengirimnya sekitar 80% adalah mereka yang bekerja di sektor non-formal seperti penata laksana rumah tangga," kata Endang Sulistyaningsih, Direktur Promosi BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia).

Setiap tahunnya, sekitar 700 ribu pekerja migran Indonesia yang terdokumentasi alias legal pergi ke luar negeri, dan angka ini cenderung terus naik dari tahun ke tahun.

Data BNP2TKI juga menyebutkan jumlah pekerja migran Indonesia tercatat sudah mencapai sekitar lima juta orang. Sementara pekerja migran yang tidak dilengkapi dengan surat-surat alias ilegal diperkirakan jumlahnya mencapai dua juta orang.

Pemerintah kini telah membentuk tim bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri dan Ditjen Imigrasi untuk mengantisipasi dampak buruk dari pemulangan TKI ter-PHK itu. Bahkan tim ini telah mendatangani Malaysia.

“Kami berharap jika terjadi PHK maka hak-hak normatif TKI harus dipenuhi. Kita minta bantuan Pemerintah Malaysia untuk melakukan sosialisasi kepada pengguna tenaga kerja mengenai hak-hak TKI,” paparnya.

Tim ini juga sedang melakukan inventarisasi jumlah tenaga kerja yang di PHK termasuk negara-negara lainnya di luar Malaysia. Sebagian yang kena PHK itu bekerja di sektor manufaktur.

Para TKI selama ini mengais rizki di luar negeri untuk memenuhi harapan perbaikan taraf hidup dirinya dan keluarganya di Tanah Air. Karenanya dampaknya secara ekonomi luar biasa bagi keluarganya di Indonesia.

Sementara untuk bekerja di Indonesia jelas untuk saat ini bukan persoalan mudah. Apalagi saat ini ribuan buruh di dalam negeri terpaksa harus kehilangan pekerjaannya gara-gara di PHK. [E1]

Sumber: Inilah.com


 
 

14 OCT 2008 , KUWAIT

PADA AWAL BULAN 1 RAMADHAN SAMPAI TANGGAL 15 OCT 2008 , PEMERINTAH KUWAIT MEMBERI AMNESTI PENGAMPUNAN KEPADA SEMUA PENDATANG YANG BERADA DI KUWAIT (INDIA,BANGLADESH,INDIA,MESIR,DLL) UNTUK BISA KEMBALI KE TANAH AIR MEREKA MASING-MASING.

ADA CERITA TKW INDONESIA YANG TELAH MELARIKAN DIRI DARI MAJIKAN KEMUDIAN MENJALIN HUBUNGAN CINTA DENGAN SEORANG BERKEBANGSAAN MESIR, SAMPAI MEMILIKI SEORANG ANAK DAN IBU TKW BERHARAP BISA PULANG KE INDONESIA DENGAN ADANYA AMNESTI.

AKHIR CERITA SETELAH SEMUA URUSAN SELESAI, SI SUAMI DIPENCARA DAN IBU BISA PULANG KE TANAH AIR DENGAN CATATAN HARUS MENINGGALKAN BUAH HATI DI KUWAIT , DENGAN ALASAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI TIDAK MEMILIKI DOKUMEN RESMI. DAN WAKTU MELAHIRKAN ANAK , BUKAN DI RUMAH SAKIT TETAPI DI RUMAH SENDIRI.

KOMENTAR PEMBACA DARI KUWAIT

Sumber: IndoTKW