MALANG, MINGGU - Kepolisian Resor Kota Malang, Jawa Timur, menggerebek perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia di kota itu, Jumat (12/12) malam. Perusahaan itu diduga mengirim anak di bawah umur ke luar negeri. Tiga penanggung jawab perusahaan kini diperiksa.
Lokasi penampungan calon tenaga kerja Indonesia (TKI) milik perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PPJTKI) PT Mitra Makmur Jaya Abadi itu terdapat di dua lokasi, yaitu di Jalan Selat Sunda I D2-26 dan di Jalan Danau Semayang C1-E11. Kedua lokasi berada di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Dari dua lokasi itu, tiga orang ditangkap. Mereka adalah AR (ma>w 9738m<najer operasional), AS (wakil manajer operasional), dan R (petugas perekrutan serta pemalsu ijazah dan identitas calon TKI). Polisi juga menemukan 80 calon TKI. Sebanyak 23 orang di antaranya adalah anak di bawah umur yang identitasnya dipalsukan. Mereka berusia 13-18 tahun.
”Kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur sebagai TKI. Kami kemudian mengecek dan ternyata memang kondisinya seperti itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Malang Ajun Komisaris Kusworo Wibowo, Sabtu (13/12).
Kusworo mengatakan, perusahaan itu diduga melanggar karena memalsukan ijazah pekerja, memalsukan identitas pekerja, dan menempatkan orang dalam penampungan yang tidak layak. Calon TKI itu ditempatkan dalam ruangan 4 meter x 5 meter yang dihuni 30 orang.
Kusworo menambahkan, tiga orang yang ditangkap itu dijerat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang TKI. Mereka dianggap melanggar Pasal 103 dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.
”Dalam undang-undang tenaga kerja itu disyaratkan bahwa mereka yang akan disalurkan bekerja ke perusahaan seharusnya berusia minimal 18 tahun. Untuk bekerja di sektor nonformal, misalnya pembantu rumah tangga, minimal harus telah berusia 21 tahun,” ujar Kusworo.
40 orang
Kepada polisi AR menyebutkan, perusahaan tempatnya bekerja itu berdiri sejak April 2008. Perusahaan menyalurkan tenaga kerja ke Singapura, Hongkong, dan Malaysia. ”Rata-rata para pekerja yang kami rekrut berasal dari Malang selatan serta dari Blitar. Sampai sekarang kami telah memberangkatkan 40 orang ke luar negeri,” ujarnya.
AR menjelaskan, setiap memberangkatkan TKI ke Sigapura, perusahaannya akan mendapat uang jasa 2.400 dollar Singapura. Sementara ke Hongkong mendapat uang jasa 10.500 dollar Hongkong, dan untuk setiap pengiriman TKI ke Malaysia mendapat 3.500 ringgit.
”Perusahaan kami tidak mempekerjakan anak di bawah umur sebab rata-rata pekerja kami berusia sekitar 28 tahun,” ujar AR.
PT Mitra Makmur Jaya Abadi mengantongi izin dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, bernomor Kep 312/men/IX/2007 tentang surat izin pelaksanaan penempatan TKI di luar negeri.
Seorang pekerja di bawah umur, Rohmah (16), mengatakan tidak tahu-menahu mengenai pemalsuan ijazah atau identitasnya. ”Saya hanya datang melamar, menyerahkan fotokopi ijazah, dan dijamin akan mendapatkan kerja,” ujar gadis asal Bantur, Kabupaten Malang, tersebut.(dia)
Sumber: Kompas OL
 JAROH (30) akhirnya pulang kembali ke tanah air dengan membawa impian pahit. Berniat ingin membangun rumah di kampungnya, Jaroh memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga di Kuwait pada beberapa bulan yang lalu. Dibantu oleh Ujang (30) asal Cirebon sebagai calo yang disebut sponsor oleh para TKI (Tenaga Kerja Indonesia), wanita tamatan SMP Cirebon ini dibawa ke PT Jam-jam dan PT Biru Hasan sebagai agen TKI untuk negara jazirah di Jakarta.
Jaroh beserta para TKI dan TKW lainnya ditampung oleh PT tersebut selama satu bulan satu minggu sampai pengurusan paspor dan visa bekerjanya selesai.
Dengan rela dan berat hati Endi seorang pekerja bebas mengizinkan dan melepas istri tercintanya untuk bekerja jauh di negara jazirah demi mewujudkan impian mereka.
Jaroh yang telah dijual oleh penyalurnya/calonya di Indonesia seharga 500 dinar Kuwait kepada Eskarani Kuwait yang telah mencarikan majikan buat Jaroh di sana.
Sebelum berangkat ke Kuwait terbayanglah oleh Jaroh rumah masa depan mereka setelah beberapa lama bekerja di sana. Bersama 52 orang TKW lainnya masa itu, berangkatlah Jaroh dengan membawa angan-angannya tanpa memikirkan bagaimana nasibnya nanti di sana.
Dijanjikan dengan gaji 45 DKW (dinar Kuwait) sekira Rp 1.500.000 per bulan, mulailah Jaroh melaksanakan tugasnya di keluarga Fuad dan Nadia di daerah Hawali, Kuwait.
Kedatangan Jaroh di bandara yang dijemput oleh suami istri Kuwait ini nampaknya memberikan harapan cerah bagi Jaroh.
Setelah beberapa hari bekerja, mulailah nampak gejala yang tidak benar, terlambat beberapa detik saja setelah dipanggil majikan, Jaroh langsung mendapat ganjarannya.
"Kadang-kadang saya tidak tau dan tidak mengerti apa yang dimaui majikan atau anaknya, karena saya tidak mengerti bahasa arab, bukannya diulangi atau diterangkan apa maksudnya, malah saya langsung digebukin dan ditendang oleh pasangan suami istri tersebut. Anak laki-lakinya yang berumur 15 tahun juga menambah gebukan itu," demikian ungkapan Jaroh di bandara Kuwait ketika mau pulang mudik.
Tidak tahan tiap hari disiksa, akhirnya Jaroh yang tidak pernah keluar apartemen semenjak kedatangannya pertama kali di sana, memutuskan untuk kabur lewat jendela. Kediaman majikannya di lantai lima tak mengurungkan niatnya untuk mencoba melarikan diri.
Dibantu kabel listrik yang ditemukannya di sana, Jaroh mencoba turun dengan hati-hati, tapi malang sampai di lantai tiga, kabel tersebut tidak mampu menahan berat badannya, akhirnya putus sehingga Jaroh jatuh tertelungkup dan pingsan di lantai dasar. Tubuh Jaroh yang tidak berdaya itu ditemukan oleh dua orang lelaki asal Mesir yang kebetulan lewat di sana, kemudian melarikannya ke rumah sakit. Setelah 25 hari dirawat, Jaroh diambil polisi dan diantar lagi ke rumah majikannya.
Jaroh mengalami patah kaki dan jari-jarinya terpaksa di gips. Selama berada di rumah majikannya Jaroh selalu dikurung dan dikasih makan cuma nasi putih dan goreng terung setiap harinya.
Setelah 17 hari di sana, Jaroh masih tidak menampakkan kepulihan yang sempurna, pasangan Fuad dan Nadia menginformasikannya ke Eskarani Kuwait sebagai penyalur, yang akhirnya memulangkan Jaroh ke tanah air.
Jaroh kembali ke Indonesia hanya berbekal paspor dan pakaian yang melekat di badan. Sedangkan pakaian dan perlengkapan yang dibawanya ketika datang kesana masih berada di rumah majikannya, juga pakaian sumbangan para rekan TKW yang membesuk Jaroh ke rumah sakit. Begitu juga dengan gajinya selama 2 bulan bekerja di sana tidak sepeserpun diterimanya.
"Seandainya saya sehat pun dan masih bekerja di sana, gaji selama lima bulan pertama tidak akan pernah diterima," ungkap Jaroh memelas.
"Saya tidak tau bagaimana membiayai pengobatan selanjutnya nanti di kampung," lanjut Jaroh sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Sebahagian besar TKW yang diberangkatkan satu rombongan dengan Jaroh sebanyak 52 orang, 19 orang di antaranya bernasib sama seperti Jaroh, di mana saat itu di antaranya masih ada yang dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang rusuk akibat penganiayaan majikan.
Menurut informasi para TKW yang mau pulang saat itu di bandara Kuwait, rata-rata majikan mereka orang Kuwait, kasar dan brutal kepada pembantunya. Sebagian besar dari mereka merasa bersyukur bisa pulang dan tidak mau kembali kepada majikan yang sama. Di antaranya akan berusaha mendapatkan majikan baru, tentunya dengan bantuan ujang-ujang yang menjadi sponsor di kampungnya.
Begitu banyak didengar nasib tragis para TKW/TKI di negara jazirah, walaupun demikian jumlah mereka yang dikirim ke sana untuk bekerja masih tetap meningkat tanpa mengalami kesulitan. Apakah pengiriman mereka ini legal dan memenuhi aturan yang berlaku dengan memperhatikan human right/hak asasi manusia? Entahlah itu di negara Kuwait, Siria, Bahrain atau negara jazirah secara global termasuk juga negara jiran seperti Malaysia, di mana di sana masih terdapat pebudakan dan penyiksaan manusia yang tidak berdaya sampai sekarang ini. Lagian, apakah pengiriman mereka ini ada diketahui oleh pemerintah Indonesia atau departemen tenaga kerja?
Mudah-mudahan dengan adanya perhatian pemerintah Indonesia terhadap pengiriman tenaga kerja ke luar negeri khususnya ke negara-negara yang tidak tahu bagaimana menghargai hak asasi seseorang, para pengikut Jaroh selanjutnya tidak akan mengalami nasib yang serupa. (*)
Artikel di atas adalah hasil wawancara penulis dengan Jaroh di Kuwait Air
Sumber: Tribun Jabar
Untuk pertama kalinya tenaga kerja Indonesia (TKI) berhasil menembus pasar tenaga kerja resmi di negeri Kanada. Negara yang terkenal sulit menerima pekerja asing tersebut kini terbuka bagi para TKI.
Sebagai tahap awal, Perusahaan Pengerah TKI Swasta (PPTKIS) yang berhasil menembus sulitnya pengurusan TKI ke Kanada, PT Yonasindo Intra Pratama akan mengirimkan 15 orang TKI ke tetangga sebelah utara dari Amerika Serikat tersebut.
"Kanada memang mempersyaratkan tenaga kerja asing dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Namun demikian, setelah mereka bekerja di sana akan diperlakukan sama dengan tenaga kerja lokal," kata Manager & Local Training Manager Yonasindo, Edi Handono dalam jumpa persnya di Jakarta, Selasa (25/11).
Negara tersebut juga melakukan kebijakan melarang adanya pemotongan gaji terhadap tenaga kerja. Hal ini yang semakin membuat PPTKIS enggan mengerahkan TKI ke sana. Namun, hal itu justru dianggap menjadi peluang bagi Yonasindo yang tidak mengandalkan potongan gaji TKI. "Kami mendapatkan dana dari fee perusahaan yang merekrut TKI. Sementara pengurusan dokumen TKI dibiayai oleh mereka sendiri," tandasnya.
Sementara itu salah satu TKI yang akan bekerja ke Kanada, Gledek Mastono mengatakan untuk mengurus surat-surat dokumen, dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 10 juta. Pengurusannya pun terbilang lama yaitu lima bulan. "Ini murni untuk pengurusan, saya sama sekali tidak membayar fee untuk perusahaan agen saya," kata Gledek.
Meski demikian Gledek menyatakan tidak menyesali, karena dia telah menyepakati bekerja sebagai pengawas restoran di Calgary, Kanada dengan gaji melebihi UMR di Kanada. Dia menyebutkan, UMR di Calgary sekitar Rp 1.500 dollar AS, dengan demikian bisa dibayangkan bila dengan kurs 1 dollar sama dengan Rp 12.000, maka gaji mereka rata-rata Rp 18 juta per bulan. (ear)
Sumber: Tribun Jabar
 Jakarta – Pahlawan devisa bakal berguguran terimbas krisis global. Sinyal itu diungkapkan Menakertrans Erman Suparno. Tiga negara berpotensi melakukan deportasi secara massal Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Potensi devisa miliaran dolar pun melayang. Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno memaparkan TKI berpotensi mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di tiga negera yakni Taiwan, Hong Kong dan Malaysia atau Jepang.
“Negara tujuan TKI mengalami kesulitan ekonomi akibat krisis global. Sehingga ada yang berpotensi melakukan deportasi massal terutama di tiga negara,” papar Erman Suparno, di Jakarta, Selasa (25/11).
TKI yang aman dari potensi PHK adalah yang bekerja di Brunei Darussalam. Sementara tenaga kerja TKI yang berada di Timur Tengah akan habis masa kontraknya secara reguler.
Potensi pemulangan TKI yang sering disebut sebagai pahlawan devisa ini jelas berakibat negatif. Lihat saja kiriman uang yang masuk dari para TKI yang bekerja di luar negeri sepanjang tahun diprediksikan mencapai Rp 40 triliun. Nilai uang kiriman itu tersebut belum termasuk yang dikirim TKI melalui teman atau kerabatnya.
Pengiriman uang oleh para pekerja migran Indonesia, atau yang dikenal dengan istilah remitansi, sebenarnya berpotensi untuk ditingkatkan 5-10 kali lipat dari saat ini bila didukung peningkatan jumlah pekerja migran di sektor formal.
"Remitansi pada 2007 saja sudah mencapai US$ 6,1 miliar dan pengirimnya sekitar 80% adalah mereka yang bekerja di sektor non-formal seperti penata laksana rumah tangga," kata Endang Sulistyaningsih, Direktur Promosi BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia).
Setiap tahunnya, sekitar 700 ribu pekerja migran Indonesia yang terdokumentasi alias legal pergi ke luar negeri, dan angka ini cenderung terus naik dari tahun ke tahun.
Data BNP2TKI juga menyebutkan jumlah pekerja migran Indonesia tercatat sudah mencapai sekitar lima juta orang. Sementara pekerja migran yang tidak dilengkapi dengan surat-surat alias ilegal diperkirakan jumlahnya mencapai dua juta orang.
Pemerintah kini telah membentuk tim bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri dan Ditjen Imigrasi untuk mengantisipasi dampak buruk dari pemulangan TKI ter-PHK itu. Bahkan tim ini telah mendatangani Malaysia.
“Kami berharap jika terjadi PHK maka hak-hak normatif TKI harus dipenuhi. Kita minta bantuan Pemerintah Malaysia untuk melakukan sosialisasi kepada pengguna tenaga kerja mengenai hak-hak TKI,” paparnya.
Tim ini juga sedang melakukan inventarisasi jumlah tenaga kerja yang di PHK termasuk negara-negara lainnya di luar Malaysia. Sebagian yang kena PHK itu bekerja di sektor manufaktur.
Para TKI selama ini mengais rizki di luar negeri untuk memenuhi harapan perbaikan taraf hidup dirinya dan keluarganya di Tanah Air. Karenanya dampaknya secara ekonomi luar biasa bagi keluarganya di Indonesia.
Sementara untuk bekerja di Indonesia jelas untuk saat ini bukan persoalan mudah. Apalagi saat ini ribuan buruh di dalam negeri terpaksa harus kehilangan pekerjaannya gara-gara di PHK. [E1]
Sumber: Inilah.com
14 OCT 2008 , KUWAIT
PADA AWAL BULAN 1 RAMADHAN SAMPAI TANGGAL 15 OCT 2008 , PEMERINTAH KUWAIT MEMBERI AMNESTI PENGAMPUNAN KEPADA SEMUA PENDATANG YANG BERADA DI KUWAIT (INDIA,BANGLADESH,INDIA,MESIR,DLL) UNTUK BISA KEMBALI KE TANAH AIR MEREKA MASING-MASING.
ADA CERITA TKW INDONESIA YANG TELAH MELARIKAN DIRI DARI MAJIKAN KEMUDIAN MENJALIN HUBUNGAN CINTA DENGAN SEORANG BERKEBANGSAAN MESIR, SAMPAI MEMILIKI SEORANG ANAK DAN IBU TKW BERHARAP BISA PULANG KE INDONESIA DENGAN ADANYA AMNESTI.
AKHIR CERITA SETELAH SEMUA URUSAN SELESAI, SI SUAMI DIPENCARA DAN IBU BISA PULANG KE TANAH AIR DENGAN CATATAN HARUS MENINGGALKAN BUAH HATI DI KUWAIT , DENGAN ALASAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI TIDAK MEMILIKI DOKUMEN RESMI. DAN WAKTU MELAHIRKAN ANAK , BUKAN DI RUMAH SAKIT TETAPI DI RUMAH SENDIRI.
KOMENTAR PEMBACA DARI KUWAIT
Sumber: IndoTKW
SRAGEN - Sigit Tri Purwanto (24), seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal kabupaten Sragen, Jawa Tengah dikabarkan tewas di negara Taiwan saat sedang bekerja.
Pemuda asal Dusun Mojokopek RT 18/RW IV Desa Bendungan Kecamatan Kedawung Sragen itu, menghembuskan nafas terakhir akibat mengalami kecelakaan kerja di perusahaan tekstil tempatnya bekerja.
Sebelumnya, anak pasangan Mujiono (56) dan Suparmi (52) tersebut telah bekerja sebagai TKI di Taiwan sekira 2 tahun lalu.
"Informasi mengenai meninggalnya anak saya diperoleh dari salah satu rekannya yang juga bekerja di Taiwan," kata Mujiono, ayah korban saat ditemui wartawan, Kamis (30/10/2008).
Dari keterangan itu, diketahui bahwa Sigit meninggal dunia murni akibat kecelakaan kerja dan bukan karena sebab lain. Sebelum meninggal, Sigit sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
"Dari keterangan yang saya peroleh, Sigit meninggal setelah terkena mesin di pabrik tekstil tempatnya bekerja," kata Mujiyono. Sedangkan korban meninggal di rumah sakit Selasa (29/10) malam waktu Taiwan.
Hingga kini, pihak keluarga di Sragen belum mengetahui kapan jenazah Sigit akan tiba di tanah air. "kami belum tahu kapan jenazah anak saya dipulangkan. Katanya sih masih menunggu proses administrasi," terangnya.
Sigit diberangkatkan oleh Perusahaan Jasa Penyalur Tenaga Kerja (PJTKI) yang ada di Jakarta, sekira dua tahun lalu dan sejak itu belum pernah pulang.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pemkab Sragen, Arif Zaenal mengaku, belum mendapatkan informasi mengenai ada TKI asal Sragen yang meninggal dunia di Taiwan. (Ary Wahyu Wibowo/Sindo/kem)
Sumber: Okezone.com
14 OCT 2008 , KUWAIT
PADA AWAL BULAN 1 RAMADHAN SAMPAI TANGGAL 15 OCT 2008 , PEMERINTAH KUWAIT MEMBERI AMNESTI PENGAMPUNAN KEPADA SEMUA PENDATANG YANG BERADA DI KUWAIT (INDIA,BANGLADESH,INDIA,MESIR,DLL) UNTUK BISA KEMBALI KE TANAH AIR MEREKA MASING-MASING.
ADA CERITA TKW INDONESIA YANG TELAH MELARIKAN DIRI DARI MAJIKAN KEMUDIAN MENJALIN HUBUNGAN CINTA DENGAN SEORANG BERKEBANGSAAN MESIR, SAMPAI MEMILIKI SEORANG ANAK DAN IBU TKW BERHARAP BISA PULANG KE INDONESIA DENGAN ADANYA AMNESTI.
AKHIR CERITA SETELAH SEMUA URUSAN SELESAI, SI SUAMI DIPENCARA DAN IBU BISA PULANG KE TANAH AIR DENGAN CATATAN HARUS MENINGGALKAN BUAH HATI DI KUWAIT , DENGAN ALASAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI TIDAK MEMILIKI DOKUMEN RESMI. DAN WAKTU MELAHIRKAN ANAK , BUKAN DI RUMAH SAKIT TETAPI DI RUMAH SENDIRI.
KOMENTAR PEMBACA DARI KUWAIT
Sumber: Indo TKW
INILAH.COM, Kuala Lumpur - Indonesia seharusnya bangga dengan begitu banyaknya jumlah tenaga kerja yang ikut memajukan perekonomian negeri jiran Malaysia.
Tapi untuk kasus yang satu ini tak ada kebanggaan sama sekali karena justru akan menuai masalah. Penyebabnya adalah, para TKI yang bekerja di Malaysia itu bukan sebagai pekerja sektor formal, melainkan sektor informal, dan yang paling parah status mereka ilegal.
Dubes RI untuk Malaysia Dai Bachtiar mengakui terlalu banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal, khususnya di bidang konstruksi. Hal itu diungkapkannya setelah melihat sendiri dan menemui para TKI di bedeng-bedeng (kongsi) yang sedang menggarap proyek konstruksi.
"Saya dengar ada sekitar 20.000 TKI di Puchong dan sekitar 15.000 di antaranya merupakan TKI ilegal. Hanya 5.000 yang legal. Begitu juga di Setia Alam, saya melihat dan mendengar begitu banyak TKI ilegal dalam proyek pembangunan di sana," kata Dai di hadapan sekitar 200 TKI di Puchong, Selangor, Sabtu malam (18/10).
"Saya juga mendengar dan melihat sendiri banyak TKI ilegal di kawasan pembangunan apartemen di Damansara setelah datang langsung ke sana," tambah dia ketika menghadiri acara Halal Bi Halal dan Silaturrahmi dengan ratusan TKI di kawasan perumahan mewah di Puchong.
Ketika berdialog beberapa TKI menanyakan hal yang sama. "Saya TKI ilegal Pak. Jika tertangkap apa yang bisa bapak bantu," kata Abdullah, 48 tahun yang sudah bekerja di Malaysia selama tiga tahun.
TKI kedua yang bertanya juga sama. "Saya TKI ilegal karena tidak mampu membayar izin kerja (working permit). Jika saya bayar izin kerja maka saya tidak bisa makan dan tidak bisa kerja. Bagaimana solusinya Pak," tanya Samsul.
Di Puchong ada sekitar 20.000 TKI yang sebagian besar merupakan TKI asal Madura, Jawa Timur. Percakapan mereka sangat kental sekali logat Maduranya.
Dubes RI untuk Malaysia itu kemudian menjelaskan bahwa TKI yang tidak punya izin kerja di Malaysia itu tetap salah. "Ini negara Malaysia, bukan negara kita sendiri. Ini negara orang lain. Kita mesti patuh pada aturan negara dimana kita tinggal," katanya.
"Irian Jaya lebih jauh dari Malaysia jika dari Jawa. Ke Manado lebih jauh dari Malaysia jika kita dari Jawa. Tapi kerja di Irian dan Manado tidak perlu izin kerja dari imigrasi karena itu negara sendiri, tapi di Malaysia walau dekat tetap harus ada izin kerjanya," tambah mantan Kapolri itu.
Ia pun kemudian menjelaskan kasus serupa di Sabah, "Di Sabah, ada sekitar 200.000 TKI dan sekitar 100.000 TKI yang bekerja di sana tidak punya izin kerja. Tapi majikannya jelas ada karena mereka bekerja di perkebunan. Jika majikannya jelas dan ada maka kami bisa bantu dengan menyadarkan majikan untuk mengurus izin kerjanya dan melakukan pemutihan dengan bantuan imigrasi Malaysia," katanya.
Tapi di sektor konstruksi, banyak TKI ilegal yang bekerja tidak mempunyai majikan yang jelas sehingga sulit untuk memberikan bantuan bagaimana melegalkan mereka jika majikannya tidak jelas.
Sistem rekrutmen TKI di sektor konstruksi biasanya dilakukan dengan cara tidak langsung dimana developer menyerahkan sepenuhnya pada mandor, orang Indonesia, untuk merekrut tenaga kerja konstruksi sesuai kebutuhan tanpa harus menguruskan izin kerjanya. [*L2]
Sumber: Inilah.com
INILAH.COM, Cirebon - Tiga orang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Indramayu tewas saat tengah bekerja di Yordania, dua diantaranya tewas karena terjatuh dari lantai gedung yang tinggi.
Pemulangan jenazah ketiga sempat terkatung-katung hingga beberapa bulan, dan baru akan tiba Sabtu (18/10) besok.
Menurut Petugas Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kabupaten Indramayu, Hendra Pondaga, di Indramayu, Jumat (17/10), ketiga TKW yang meninggal yaitu Pipit Fitriani (23), asal Desa Mundak Jaya, Kecamatan Cikedung yang dikabarkan tewas akibat terjatuh dari lantai empat rumah majikannya, Thareq Al Kanji, sekitar dua bulan silam.
Sebelumnya, korban berangkat ke Yordania melalui perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) PT Bina Hasan Maju Sejahtera Jakarta.
Kedua, Tati Suciyati, warga Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat yang dikabarkan tewas akibat sakit sekitar tiga bulan yang lalu. Korban berangkat melalui PT Rahmat Jasa Safira.
Ketiga, Dasiri binti Kurnadi yang dikabarkan tewas akibat jatuh dari gedung tinggi, namun hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan mengenai alamat rumah dan PPTKIS yang memberangkatkannya.
Menurut Hendra, meskipun telah ada informasi sementara bahwa penyebab kematian ketiganya karena terjatuh dan sakit, namun kepastiannya bisaa didapat setelah ada hasil visum saat jenazah ketiganya tiba di tanah air.
Ia mengakui, pemulangan jenazah ketiga TKW tersebut memang sempat terkatung-katung karena masalah administrasi dan tidak ada laporan dari pihak keluarga kepada Dinsosnaker.
"Informasi mengenai kematian ketiga TKW itu pertama kali diperoleh dari PPTKIS yang memberi tahu kepada pihak sponsor yang diteruskan kepada pihak keluarga. Sayangnya Disosnaker tidak ditembusi laporan itu," katanya.
Sebenarnya, jika cepat mendapat laporan, pihak Disnaker, kata Hendra akan segera diurus kepulangan jenazahnya. Hendra mencontohkan, Tati meninggal sekitar tiga bulan yang lalu, namun pihaknya baru mendapat laporan dari keluarga sekitar satu minggu yang lalu sehingga pihaknya segera mengurus masalah itu ke pihak Departemen Luar Negeri.
"Untung saja jenazahnya belum sempat dimakamkan di sana, hingga bisa kita urus kepulangan jenazahnya," ujarnya.
Dengan tambahan tiga orang meninggal maka jumlah TKI asal Indramayu yang meninggal sepanjang tahun 2008 menjadi 10 orang, sementara sepanjang tahun 2007 tercatat ada 17 TKI yang meninggal dunia.[*/L6]
Sumber: Inilah.com
PERTANYAAN: CASINIH BT CASIM - BHS 1275. tkw ini berzina dengan orang mesir, bagaimana kabarnya sekarang, keluarga bertanya bisa nggak tkw ini dipulangkan
JAWABAN: ATTN. DJAFAR JAKARTA PT BENHASAN MAJU SEJAHTERA
BULAN INI PEMERINTAH MEMBERIKAN PENGAMPUNAN BUAT PENDATANG YANG MEMPUNYAI MASALAH DENGAN DI PULANGKAN TANPA SIDIK JARI,
DAN KBRI KUWAIT SUDAH BERUSAHA UNTUK MENGURUS MASALAH PENGURUSAN CASINIH BT CASIM, KARENA YANG MEMBUAT SULIT KEPULANGANNYA ADALAH ADANYA ANAK, KARENA INI ADALAH MASALAH BESAR DENGAN DIPENJARANYA LAKI LAKI MESIR DI KUWAIT .
KITA BERUSAHA SEMAMPU KITA UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH INI EKOFAST
Sumber: IndoTKW Riyadh
|