*KUALA LUMPUR, SENIN* — Maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines
(MNA) setiap bulan membawa jenazah WNI yang meninggal dunia di Malaysia,
baik karena kecelakaan kerja, kriminalitas, atau sakit, rata-rata 15
jenazah per bulan. Setiap minggu bisa tiga atau empat, tapi rata-rata
15 jenazah per bulan yang kami bawa dari Kuala Lumpur ke Surabaya, kata
manajer Merpati distrik Kuala Lumpur, RA Junaedi, Senin (15/9).
Ini suatu angka yang tinggi dan perlu menjadi perhatian pemerintah
mengenai angka kematian WNI atau TKI di Malaysia, katanya. Merpati
melayani penerbangan rute Kuala Lumpur-Surabaya-Mataram (pp) setiap
hari, satu kali penerbangan.
Rute penerbangan Merpati dikenal sebagai rute penerbangan TKI karena
hampir 90 persen pengguna jasanya merupakan TKI, yang banyak berasal
dari Jawa Timur dan Mataram, Lombok. Hampir 90 persen penumpang Merpati
merupakan TKI. Banyak juga orang Bawean, makanya kami lepas landas dari
Kuala Lumpur pagi-pagi agar masyarakat Bawean bisa mengejar kapal feri
pada siang hari, ujar RA Junaedi.
Ketika ditanya mengenai angkutan Lebaran tahun ini, manajer Merpati yang
masih muda itu mengatakan, arus mudik Merpati saat ini sangat turun
dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, di pertengahan bulan Ramadhan
semua jadwal penerbangan sudah penuh (/fullbook/), bahkan Merpati hampir
tiap hari ada penerbangan ekstra karena tingginya arus mudik, ungkap
Didi, panggilan akrab Junaedi.
Namun, kali ini jadwal penerbangan belum penuh. Orang masih bisa pesan
tiket dan sudah pasti tidak ada penerbangan tambahan. Disinyalir para
TKI yang ingin mudik Lebaran kini memilih melalui Johor Bahru kemudian
naik feri ke Batam atau Tanjung Pinang kemudian dilanjutkan dengan
penerbangan ke Surabaya atau naik kapal laut ke Surabaya.
Oleh sebab itu, penerbangan Batam dan Tanjung Pinang ke Surabaya kini
padat dan banyak penerbangan ekstra, katanya. Ketika ditanya mengapa
TKI sekarang lebih memilih lewat Johor Bahru kemudian ke Batam, ia
menduga karena biaya mudik yang lebih murah atau ada pengetatan imigrasi
di Bandara KLIA.
Sumber: Migrant Care Indonesia