Rochajat Harun

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, perlu dicermati secara seksama, karena Undang-undang ini merupakan landasan hukum utama bagi penyelenggaraan penyuluhan secara terpadu yang menyangkut berbagai aspek pendidikan petani beserta ruang lingkup kehidupannya. Sebetulnya penyiapan Undang-undang ini telah lama dipersiapkan para inohong pertanian di Departemen Pertanian sejak lebih 30 tahun yang lalu. Namun karena berbagai permasalahan rancangan Undang-undang tersebut bayak mengalami hambatan. Namun alhamdulillah, kiranya bisa terwujud pada tahun 2006. Hal ini patut disyukuri oleh para petani (termasuk pekebun, peternak, nelayan, dan sebagainya), para penyuluh serta aparat pembina penyuluhan, baik yang berada di pusat maupun daerah.

Dalam pelaksanaan penyuluhan di lapangan tentunya masih memerlukan produk hukum berikutnya antara lain Peraturan Pemerintah (PP), yang merupakan penjabaran pelaksanaan Undang-undang tersebut. Sampai kini, setelah Undang-undang tersebut dikeluarkan, PP tersebut belum ada. Hal ini menyebabkan belum munculnya peraturan-peratuaran di daerah baik dari Gubernur maupun Bupati. Padahal hal yang terakhir ini justru yang harus jadi pegangan petugas dilapangan baik penyuluh pertanian, maupun petugas lain yang terkait.

Dalam Undang-undang tersebut tersirat pentingnya peran-serta petani dalam berba­gai aspek pembangunan pertanian, baik di bidang pro­duksi, pengolahan, pemasaran, maupun pelestarian sumberdayanya. Gagasan ini sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan seringkali dahulu pernah telah dijadikan slogan dan taktik untuk memperoleh anggaran proyek yang lebih banyak. Yang seringkali tersisihkan yaitu upaya pendidikan petani. Secara populer Pendidikan Pertanian untuk Petani disebut sebagai Penyuluhan Pertanian. Dalam Undang-undang sekarang ini pengertian tentang Penyuluhan mencakup pengelola komoditas lain diluar tanaman pangan, seperti kehutanan, perikanan, perkebunan, peternakan dan nelayan.

Sejak tiga puluh tahun yang lalu, pada saat kita berge­gas dalam membangun, maka aparat pemerintah cenderung untuk mengatur segalanya, mendorong masyarakat tani untuk ikut serta dalam pembangunan melalui rekayasa sosial. Program pendidikan tani pun berawal dari petun­juk ataupun pesan yang bersifat top-down, yang kadang ­kadang kurang menghargai pengalaman maupun penge­tahuan petani.

Dulu, ada anggapan bahwa kemampuan masyarakat tani diragukan. Tetapi sekarang, ada kesadaran bahwa justru merekalah kekayaan yang paling berharga dalam pembangunan. Pendekatan paternalistik tersebut perlu direvisi, sehingga merupakan landasan baru yang lebih demokratik untuk pembangunan pertanian yang berke­lanjutan dan berwawasan lingkungan, serta sarat dengan pengetahuan dan bercirikan abad ke-21.

Kebijakan swasembada pangan dengan program meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan penda­patan petani dalam waktu kurang lebih 25 tahun telah berhasil melipatgandakan produksi padi dan secara lu­mayan telah meningkatkan kesejahteraan petani di pede­saan. Meskipun dengan handicap sikap negatif terhadap petani yang kurang menguntungkan bagi perkembangan kepribadiannya.

Gambaran negatif terhadap petani, bahwa mereka itu bo­doh dan "kuuleun", yang oleh Mc Clelland disebut relaxedand unhurried, telah menimbulkan sikap petani itu sendiri sebagai yang patuh kepada program-program dan pembi­naan-pembinaan dari atas.Yang demikian itu jauh dari yang diinginkan sejak lama. Yaitu petani yang mandiri dan tangguh, petani sebagai subjek, bukan lagi objek.

Pendidikan Petani perlu direvitalisasi, dari sekadar pembawa paket teknologi untuk diterapkan petani, menjadi kelembagaan yang menciptakan suasana, iklim, lingkungan, dan kesempatan yang memungkinkan berkembangnya petani secara mandiri sebagai manajer usahatani atau pemimpin dalam masyarakat agribisnis.

Tepat juga sinyalemen Herman Soewardi (1998) almarhum yang menyatakan bahwa dalam upaya pemberdayaan (empower­ing) petani, kelembagaan yang ada perlu diberdayakan, hingga mampu melecut motivasi petani. Petani perlu disiap­kan menjadi petani komersial. Cara penyuluhan yang berlaku tempo hari hanya sampai pada mengubah "prac­tices" petani, tidak mengubah personality. Dan kini dengan telah lahirnya Undang-undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, adalah merupakan landasan hukum yang tepat untuk merobah citra negatif terhadap petani menjadi citra yang positip terutama dalam meningkatkan peran mereka dalam pembangunan pertanian secara utuh dan berkesinambungan.

Dalam pelaksanaan Penyuluhan atau dulu pernah populer dengan sebutan Penyuluhan Pertanian, atau Pendidikan Pertanian untuk Petani; ada beberapa  prinsip yang seyogianya diperhatikan:

Pertama, pertanian harus dipan­dang sebagai suatu sistem kompleks yang hidup. Ia menjadi tempat manusia berinteraksi dengan tanah, air, tanaman, dan organisme hidup lainnya, dalam mengoptimalkan sumberdaya yang ada. Dari sudut pandang ini, maka petani belajar bekerja sama dengan alam, bukan mencoba menguasainya atau menyalahgunakan lingkungan hidup di sekitamya. Pende­katan ini memampukan petani untuk mengembangkan cara-cara bercocok tanam yang produktif dan berkelan­jutan.

Kedua, Petani ditempatkan pada pusat sistem usahatani, sehingga dia dianggap sebagai subjek bukan sebagai objek pembangunan. Penyuluhan hendaknya membantu petani belajar mengorganisasi diri mereka sendiri dan masyarakat di sekitamya. Mengumpulkan data di lahan mereka sendiri. Menelaah informasi ini dan membuat keputusan yang rasional berdasarkan data yang mereka temukan sendiri.

Ketiga, Penyuluhan atau pendidikan petani adalah sebagai upaya pengembangan sumberdaya Manusia. Bukan pembawa paket teknologi untuk diterapkan secara seragam oleh petani. Penyuluhan, membantu para petani menguasai konsep berpikir yang baru dan menerapkan cara-cara baru untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Proses ini jika diterapkan oleh petani akan memampukan mereka dalam menghadapi masalah-masalah baru dan berani melakukan percobaan untuk mencari jawaban atas per­masalahan agronomik yang ditemui di lapangan/di- lahan­nya. Pendekatan ini tidak hanya membantu mereka menjadi petani yang lebih terampil, tetapi juga memperkokoh hubungan antara peneliti pertanian, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

Prinsip-prinsip pendidikan pertanian tersebut di atas mudah disesuaikan dan dikembangkan untuk kegiatan perencanaan, pengorganisasian dan penerapan kegiatan-­kegiatan baru, yang menempatkan petani sebagai pusat pengembangan pertanian di masa depan. Dengan demikian  pendidikan pertanian untuk petani perlu direvitalisasi secara terus-menerus dan secara konsisten, berpijak pada cara penyelenggaraan dan metoda pelaksanaan yang demo­kratik, sebagaimana tersurat dan tersirat didalam Undang-undang Penyuluhan Tahun 2006.

Sikap negatif terhadap petani perlu segera dihapus dari segala lapisan masyarakat, dan diganti dengan sikap yang menghormati dan menghargai kedudukan petani sebagai warga yang sama derajatnya di bumi pertiwiIndonesia. Petani dan keluarganya di pedesaan yang merupakan ma­yoritas penduduk Indonesia, adalah penyandang budaya asli kontemporer maupun penyerap teknologi mutakhir yang potensial.

Yang paling menarik didalam Undang-undang Penyuluhan 2006 adalah ruang lingkupnya yang jadi garapan penyuluhan yaitu: berproduksi yang lebih baik (better farming), berusahatani yang lebih menguntungkan (better business), berkehidupan yang lebih layak (better living), lingkungan hidup yang lebih nyaman (better environment), dan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera (better community). Ketiga better ini pada tahun 80-an pernah menjadi semboyan  yang cukup populer dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian. Sekalipun taktik dan strateginya pada waktu itu terkesan lebih memusat (centralized), tapi alhamdulillah Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan sehingga mendapatkan penghargaan dari kelembagaan dunia FAO pada tahun 1985.

Hal lain yang menarik dari Undang-undang 2006 ini adalah areal garapan dan sasaran penyuluhan tersebut. Kini tidak lagi hanya meliputi daerah persawahan, namun meliputi kawasan hulu yaitu masyarakat kehutanan (pinggiran hutan), terus kehilir masyarakat pertanian, perikanan darat, peternakan, perkebunan, dan berujung di lahan paling hilir yaitu daerah perikanan laut (atau daerah perikanan pantai). Hal ini akan memberikan implikasi terhadap rancangan PP maupun Peraturan-peraturan Gubernur dan Bupati, agar kebijakan penyuluhan yang akan disusun dan diterapkan memperhatikan pula aspek-aspek ruang lingkup dan sasaran penyuluhan yang lebih komprehensip.
________________

 
Pangharepan 01/01/2009
 

Rochajat Harun

Asa cikeneh eunteupna carita munggaran tepung bebene. Padahal geus puluhan tahun katukang. Bener ceuk sepuh kapungkur: ”Ringkang wayang kuma dalang, manusa ngan samet hayang, pangeran nu boga pareng”. Memang bener hirup mah ngan ukur ayang-ayangan, sakadar panggung sandiwara. Carita jaman keur ngora, kiwari ukur waasna. 

Tahun 60-an, mun pareng libur semesteran teh kuring mah sok maksakeun balik ka lebur. Salianti sono kanu jadi indung bapa jeung dulur teh, oge itung-itung nyegerkeun hate nu kebek ku kasusah di pangumbaraan. Lembur teh di Tarogong nu harita mah masih keneh tiiseun, teu rame kawas kiwari. Angot di kampung Pasawahan mah tempat padumukan indung bapa kuring. Padahal ngan ukur sakilo meter kurang, jauhna ti kacamatan Tarogong teh. Lembur pasisian beulah kaler, tutugan gunung Guntur. 


Bada netepan Isya, kuring disaur ku pun bapa nepangan di tepas payun. Kasampak pun biang ge aya ngarendeng sareng Apa. Dina meja tos ngajagrag goreng ulen ketan mani kawas panas keneh. Tos biasa kitu teh, mun kuring wangsul ka lembur, pun biang mah sok tatan-tatan nyadiakeun ulen ketan, karesep kuring ti bubudak. Nu mawi upami kuring bade wangsul teh sok bewara heula ku serat ka Apa miwah pun biang. 

”Kuma kuliahna Yat?” Apa tumaros, sabari nyuruput citeh haneut tina bekong. 

”Alhamdulillah, aya hibar pangdu’a ti Apa miwah ambu, hasil ujian semester kamari mah nileina teu nguciwakeun. Malah kenging pujian ti para dosen”. Ngajawab kitu teh kuring neuteup pameunteu pun biang. Katingal sorot socana jiga nu bingah pisan. 

”Syukur atuh, apa jeung ambu ge teu weleh ngadu’a mudah-mudahan hidep sing junun sakola. Sing gancang-gancang lulus. Malahan Apa mah jeung ambu miharep pisan mun engke hidep geus rengse lulus mah ti IPB, kalayan geus boga gawe, atuh buru-buru we boga pamajikan. Ceuk ambu mah, hayang geura nimang incu, saurnah. Kuma geus boga kikindeuwan?” 

Rada ngagebeg ngadangu patarosan pun bapa kitu teh. Teu bisa ngajawab, da memang tacan boga. Dina ayana ge, ah nya kitu tea asa wanoh ka babaturan we. Can bisa dianggap kabogoh. Jajauheun kana pipamajikaneun mah. Sareretan kuring ningal pameunteu pun biang. Ih na bet jiga ngiring tumaros oge. 

”Teu acan aya Pa.” ngajawab teh bari ngarongkong ulen ketan. Nikmat oge peuting-peuting nyaneut goreng ulen. Tapi ari hate mah rada tagiwur, sok sieun cariosan Apa atanapi ambu kateterasan. Teu nyangka bet pun bapa naroskeun perkara jodo.  

”Mun hidep saluyu mah, neangan pamajikan teh ulah kanu jauh-jauh ti urang lembur urang we. Teu nanaon sanajan rek ka dulur oge. Aya paribasa cenah: Jodo, pasti, bagja, cilaka, duriat mah, dalah Gusti anu kagungan. Tapi da kudu aya tarekah. Hayang boga minantu ka dulur teh lain pedah Apa jeung Ambu loba harta da memang sakieu buktina, cenah eta bisi ragrag warisan ka batur?. Lain Yat. Ieu mah kahayang jeung kereteg hate Apa jeung Ambu we. Lin kitu Ma?” Apa neuteup pun biang bari gumujeng.

”Leres” Pun biang ngawaler pondok. Nanging pameunteuna aduh asa pikaserabeun, neuteup seukeut ka pribados jiga nu nyaliksik kaayaan hate kuring. Kitu kabiasaan pun biang mah upami cumarios teh cekap pondok we. Benten sareng pun bapa.

”Aeh tadi siang teh aya si Udin ngahaja kadieu piwarangan abah Joyo uwa hidep, cenah ngangkir hidep isukan malem Saptu, ngajak ngariung mamaos Cianjuran di bumina di Pasarkemis. Itung-itung latihan saurnah. Kawasna terangeun hidep aya didieu.” Cariosan pun biang, kawasna mah  ngalihkeun cariosan pun bapa. Sae oge. 

”Ah kaleresan we atuh. Di Bogor ge abdi teh sok ngiring ruang-riung dina paguyuban seni sunda diantaawisna paguyuban mamaos Cianjuran, nu jenengannana ge seni mamaos cianjuran Astahiam, di tanjakan Gunung Batu. Sanaos mung limaan, tapi resep oge. Ngan hanjakal abdi mah masih tinggaleun keneh upami nembang cianjuran teh, dibanding sareng rerencangan sanes mah. Sakapeung mah sok dilece ku rerencangan, pajar teh ngerakeun mun urang Garut teu becus nembang Cianjuran mah. Ngerakeun urang Tarogong cenah”. 

Pun biang mesem ngagelenyu, angot pun bapa mah mani ngagakgak.

”Ha...ha...ha bener oge eta caritaan batur hidep kitu teh. Pan hidep mah boga turunan bakat seni jeung teureuh ti.....” Teu rengse cariosan Apa teh, margi katingal pun biang nyigeung mantenna kalayan jiga rada molotot. Rupina nyaram neraskeun cariosannana. 

Isukna ba’da magrib kuring lunta rek nganjang ka bah Joyo pun Uwa, di Pasarkemis. Mantenna teh kungsi jadi guru silat jeung nembang Cianjuran kapungkur samemeh kuring ngumbara ka Bogor. Dibumina tos nyampak bah Engkir tukang ngacapi, oge si Ujang tukang nyulingna. Marantenna nuju anteng nyurupkeun kacapi jeung suling. 

”Tah geuning cep Yayat tos sumping, damang? Ceuk bah Engkir bari ngasongkeun leungeun sasalaman, kitu deui si Ujang. Bah Joyo norojol bari mawa cau ambon sasikat. Teu kaliwat besek leutik wadah  bako tampang jeung daun kawungna. 

”Damang wa?” Ceuk kuring ka bah Joyo, sabari sasalaman.

”Alhamdulillah sehat, iraha ti Bogor?, usum hujan bejana diditu mah nya. Kasohor ti baheula keneh Bogor mah. Nu matak meunang julukan kota hujan. Sok Kir, urang mimitian, juru nembangna geus daratang. Mana bi I’ah jeung bi Sari. Kadieu kituh!” ceuk bah Joyo nyauran pun bibi nu aya di tengah imah. 

Pating torojol pun bibi bari nyarandak buku catetan tembang-tembang Cianjuran, diiringkeun ku wanoja umur 17 tahunan. Kuring rada hookeun, nempo aya wanoja hideung santen, nyolongkrong ngajak sasalaman. Asa tagiwur, jeung ieu hate bet rada nyeredet. Geuning aya nu mencrang. Saha nya? Ceuk kuring na jero hate. Sabot sasalaman teh bet kaperego ku pun Uwa bah Joyo. Meureunan katingal ku mantenna kuring rada rampang-reumpeung. 

”Na Yat, bet jiga nu karek panggih. Pan eta teh alo maneh si A’i alias Mari tea. Bareto mah keur leutik keneh kungsi maneh panggih meureunan. Anak Nonoh almarhum. Mangtahun-tahun ngumbara sakola di Bandung. Mangkukna datang ti Bandung, cenah rek neruskeun sakolana di SMA Garut, katarima di kelas 3”. Ceuk bah Joyo sabari nepakan taktak kuring.  

Waduh, kuring karek inget. Lain pikun, tapi da memang geus lawas teu panggih, ampir welasan tahun. Bareto basa kuring jeung pun biang nganjang ka ma Nonoh, manggih budak awewe bubuligiran. Cenah tas ngojay di balong si Rajut. Waktu nanya ka pun biang eta budak saha. Pun biang ngawaler putra bungsu ma Nonoh. Ti harita pleng we, belasan tahun teu panggih deui. Ayeuna panggih teh bet geus gede, geus ABG. Mencrang jeung manis deuih.  

”Damang kang?, aya wartos ti bah Joyo, cenah kang Yayat tos sumping ti Bogor. Malihan wengi ieu bade kadieu, neraskeun latihan nembang Cianjuran. Ngiring bingah ah. Aya wartos kuliahna tos bade rengse. Waduh ngiring reueus ah, aya wargi kagungan titel Insinyur Pertanian. Kabita abdi mah. 

”Eh na kalah caricing. Sok buka ku papatet dina surupan pelog, terus kana jejemplangan. Kir!” Ceuk bah Joyo ka bah Engkir jeung si Ujang. Nya tidinya mah der we silih tembalan nembangkeun sababaraha lagu. Palebah giliran kuring, nya nyoba ku tembang jemplang karang:

Diarep arep ti tadi. Didagoan ti baheula. Hate teu weleh cumantel. Ngukuntit kanu papisah. Pisah lantaran kapaksa. Teu beunang diembung-embung. Keukeuh maksa ngajauhan.

Teu kaur laju nembang teh. Malah asa rada geumpeur. Duka kunaon, bet hayang ngareret wae ka alo Mari. Unggal ngareret unggal paamprok teuteup. Ih nurus tunjung ieu hate, bet make tutunggulan sagala. Pan eta teh lain sasaha, baraya keneh, kapi alo. Kitu ceuk hate teh.

Teu karasa geus jam 12 leuwih. Ditutup ku sababaraha pupuh laras salendro. Lagu-laguna dina laras salendro mah memang pikabungaheun. Ngahaja nyinglar pitunduheun. Beda jeung laras pelog. Barang kuring nembangkeun Ceurik Rahwana, na atuh bet paamprok teuteup deui wae jeung si Alo. Katempo manehna rada ngabalieus, jiga pamitan, terus asup ka jero imah. Teuing sare meureun tunduheun da geus peuting. Ngan kuring asa leungiteun. 

Barang kuring pamitan ka bah Joyo rek mulang, kaluar ti panto, na bet kasampak manehna si Alo tea aya diteras. Panyana teh geus sare. Ari pek teh keur nanggunjar lambar we, bari pok nanya.

”Bade mulih ayeuna? Teu nyangkin, geuning soanten kang Yayat mani halimpu, raos kadanguna. Abong-abong teureuh.” 

”Ah sae naonna, pedah teu aya deui panembang pameget we. Sareng etang-etang mepende mojang nu karek ngalih ti Bandung. Hayu atuh bilih wengi teuing. Wilujeng kulem atuh nya geulis!” Teu sadar biwir teh make ngomong rada romantis sagala, pan eta teh alo. Manehna teu nembalan. Pedah disebut geulis kitu? Hanjakal di teras teh rada poek, jadi teu kajeueung atra beungeut manehna. 

”Ameng atuh enjing mah ka Pasawahan nya. Tos tepang sareng pun bapa oge pun biang?” Cieuk kuring bari gek diuk deui di teras gigireun manehna. 

”Kamari kantos nepangan marantenna. Resep oge, ari tepang teh mani uplek cumarios. Bet asa tepang sareng pun biang almarhum. Ngan sok rada isin, pedah apa sareng ambu mah sok sering tataros gaduh henteuna kabogoh wae. Diwaler tacan gaduh teh kalah garumujeng.” 

”Atuh na sanes diwaler we parantos kagungan, urang Bandung kituh. Janten pak Haji miwah ambu moal tataros deui”. Manehna tungkul. Kawasna kapiasem. 

”Ah da tacan kagungan bebene abdi mah. Hoyong tamat heula sakola” Ngareungeu eta jawaban, na atuh bet asa guligah hate teh. Bener can aya nu boga kitu?.

“Enjing mah atanapi iraha-iraha, upami aya patarosan kitu deui, waler we nu jentre. Parantos kagungan kitu, urang Bogor kang Yayat“. Teu katempo kuma reaksi manehna, da rada poek. Nu karasa mah bet manehna nyiwit leutik, bari gegerenyeman teu kaharti.  

Teu karasa jam 1 peuting geus kaliwatan. Balik teh rada antare, leumpang sabari rada ngalamun. Bulan mani burahay jiga nyakseni luhureun gunung Guntur. Na bet jadi rus ras inget kana tembang kawih sanggian mang Koko sareng kang Wahyu Wibisana, Malati di Gunung Guntur. Hayang teuing geura isuk ah. Rek manggihan deui pun alo.

 
 

Wayang Golek is a specific art of West Java which has survived for many generations. It is the play of figures carved and painted on wood, shaped the characters in the episodes of Mahabharata and Ramayana epics. This kind of Wayang is performed not merely for entertainment but also embodies religious and philosophical learning, desxcribing the struggles of good against evil, with the destruction of the laller. It also functions as amass to media to transfer the news and instructions in the time past. 
 
Wayang Golek is performed by a Dalang, who relates a story the whole night long acting as narrator, operator and performer all together. He sits cross legged on the floor from where he manipulates the puppets, directs the gamelan, intones and sings. A skillful Dalang generates audience interest to keep them attentive the whole night long, as a Wayang Golek performance usually lasts from 9 PM till about 5 AM.   
 
The Angklung is a set of instruments fashioned from banmboo. This ancient and traditional musical instrument, found in Java and Bali, consists of long bamboo pipes slotted upright in a wooden frame. Angklungs range in size from miniature ones, 15 –cm high, used as ornaments on coffee tables, to very large Angklung of 1.5 mor more in hight. Many of these large Angklung are quite ancient and revered as priceless heirlooms.

The Angklung is played by a group; each player holds and shakes the instrument, in the ensemble of bamboo music. The cacophony of sound from the bamboo instruments translates into a melody and could be accompanied by song. It seems incredible that such a unique arrangement of sound of simple bamboo instruments could produce a melody, but the Angklungs play a widerange of musical compositions.   
 

 
 

Rochajat Harun

Kondisi geologi Jawa Barat, merupakan kekayaan daya tarik wisata. Jawa Barat yang terdiri dari dataran rendah, berbukit serta bergunung - gunung dan pantai, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai dengan 1.500 meter, membentuk daya tarik wisata yang khas pada lokasi - lokasi tertentu, seperti gunung - gunung di bagian tengah Jawa Barat serta daerah berbukit dengan sedikit pantai di sebelah selatan.

Gunung, bukit, dan pantai tersebut merupakan ragam daya tarik wisata yang terdiri dari sungai - sungai besar yang lebarnya lebih dari 100 meter, seperti Sungai Citarum, Sungai Cimanuk, Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung. Juga menawarkan pemandangan sungai dan kegiatan arung jeram sebagai daya tarik wisata. Kondisi geologi Jawa Barat yang menjadikan Jawa Barat semakin kaya akan keberagaman daya tarik wisata ini didukung dengan kondisi cuaca dan iklim yang umumnya sejuk sehingga menjadi lebih menarik bagi wisatawan. Berikut cakupan faktor lingkungan pariwisata yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat.

1.  Aksesibilitas, secara umum aksesibilitas Provinsi Jawa Barat dapat dikategorikan cukup baik.       Aksesibilitas menuju Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) bukan hanya sekedar dapat dijangkau dengan mudah dengan       berbagai model transportasi seperti kendaraan kecil dan atau mini bus bahkan bus. Untuk keperluan tersebut diperlukan kualitas jalan yang memadai.

2. Kebersihan lingkungan, menjadi cermin budaya suatu daerah. Kebersihan saat ini merupakan suatu keniscayaan. Secara umum kebersihan sekitar Objek daerah Tujuan Wisata (ODTW) sangat memprihatinkan. Hal ini sebagai dampak dari kebiasaan sehari - hari masyarakat yang masih menganggap bahwa kebersihan masih merupakan slogan, tetapi kenyataannya sangat berlainan. Membuang sampah sembarangan menjadi suatu kebiasaan yang tidak merasa bersalah. Demikian juga kebersihan di sekitar ODTW belum sepenuhnya menjadi kesadaran masyarakat termasuk para wisatawan itu sendiri.

3.   Permukiman penduduk, umumnya berada disekitar ODTW dan bahkan di dalam lingkungan ODTW. Hal ini dapat berdampak pada eksploitasi wisata bagi kepentingan dirinya, tanpa memperhatikan wisatawan. Wisatawan merasa tidak nyaman jika masyarakat yang turut mengais masih di lingkungan ODTW. Wisatawan umumnya menghendaki kenyamanan terutama terlepas dari gangguan masyarakat lokal.

4.  Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar ODTW, yang sama - sama diketahui relatif memerlukan uluran tangan dalam pemberdayaannya. Hal ini turut memberikan kontribusi terhadap kekurang nyamanan wisatawan. Tujuan mereka adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan adanya wisatawan, namun penerapannya yang keliru. Hal ini tidak terlepas dari peranan Pemerintah/Pemerintah Daerah, Tokoh Masyarakat/Agama yang belum memberikan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.

5.     Fasilitas bagi wisatawan seperti hotel/penginapan, restoran/ rumah makan belum memadai, terutama ditinjau dari aspek pelayanan dan kebersihannya di ODTW. Setiap orang terutama wisatawan memerlukan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.

6.   Beberapa aspek lingkungan dalam ODTW, yang memerlukan perhatian serius antara lain kebersihan, tanda - tanda peringatan dini khusus bagi ODTW yang memerlukan perhatian khusus, tim penyelamat/rescue, guide yang ramah dan menguasai materi ODTW, tempat melepas lelah/istirahat, dan toilet yang bersih.

Selain dari pada itu, perkembangan kepariwisataan Jawa Barat dipengaruhi pula oleh keberadaan dan perkembangan jalur jalan. Di wilayah Jawa Barat secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga jalur utama, yaitu Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Keberadaan dan kondisi aksesibilitas jalur jalan tersebut merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata di Jawa Barat saat ini.

Pergerakan wisatawan dari sumber pasar menuju daya tarik wisata Jawa Barat dipengaruhi oleh aksesibilitas jalur-jalur jalan tersebut. Kawasan wisata Puncak misalnya, terkait erat dengan perkembangan aksesibilitas di jalur tengah antara Jakarta dan Bandung sebagai sumber pasar wisatawan dengan Bogor dan Cianjur.

Berdasarkan hal tersebut, maka perkembangan kawasan Provinsi Jawa Barat terbagi mengikuti perkembangan ke tiga jalur jalan sebagai berikut:

1.  Jalur Utara, dengan jalan lintas utara (pantura) sebagai unsur utama yang mencakup       
  
seluruh atau sebagian wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan.


2.   Jalur Tengah, dengan jalur lintas tengah sebagai unsur pengikat, yang mencakup sebagian   wilayah Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, sebagian sebagai unsur utama, yang wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cianjur, Kabupaten/Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, sebagian Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar.

 

3.   Jalur Selatan, dengan jalur jalan/pantai selatan sebagai unsur pengikat kawasan, yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten/Kota Sukabumi, bagian selatan Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.

 

Tingkat perkembangan kawasan wisata di setiap jalur berbeda-beda, tergantung dari sumber daya (termasuk sarana dan prasarana) yang dimiliki, serta aksesibilitas terhadap sumber pasar wisatawan. Suatu kawasan wisata bisa berada pada tahap awal perkembangan, baru sedikit dikunjungi wisatawan, padahal memiliki potensi daya tarik wisata yang unik dan menarik. Kawasan wisata lain sudah sangat berkembang, dan bahkan mulai padat pada waktu peak season dan mulai menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan fisik maupun sosial budaya.

 

Jika dilihat lebih rinci lagi di masing-masing jalur tersebut, terdapat pengelompokan daya tarik wisata yang memiliki keunggulan dengan skala provinsi, nasional dan bahkan internasional. Kelompok daya tarik wisata di kawasan Puncak misalnya merupakan kelompok daya tarik wisata vang terdapat di jalur tengah yang berbasis alam pegunungan dengan kegiatan pertanian, perkebunan dan tanaman pangan. Kelompok daya tarik di kawasan Bandung dan sekitarnya berbasis kegiatan perkotaan: industri, perdagangan dan jasa, yang didukung oleh kawasan alam pegunungan dengan kegiatan pertanian.

 

 

__________________________

 

 
 

Rochajat Harun

Normal 0 Kegiatan kepariwisataan merupakan kegiatan yang bersifat system, memiliki ruang lingkup, komponen, dan proses tersendiri. System pariwisata merupakan system perdagangan yang bersifat khusus, berobyek jasa, dan mendapat dukungan dari sistem lainnya, seperti system social, budaya, lingkungan hidup, system religi, dan system-sistem lainnya. Bisnis pariwisata  adalah  aspek kegiatan kepariwisataan yang berorientasi pada penyediaan jasa pariwisata.

Bisnis internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas negara yang meliputi:

Perdagangan internasional dan pemanufakturan di luar negeri; Industri jasa: transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar, dan komunikasi masa. Bisnis internasional sebagai sebuah disiplin ilmu adalah relatif baru. namun sebagai suatu praktik bisnis bukanlah hal yang baru .

Secara teoritis, bisnis (business)  dapat diartikan sebagai:

(1) Commercial activity engaged in for again or livelihood;

(2) Activity or enterprise, for gain, benefit, advantage or livelihood;

(3) Enterprise in which person engaged show willingness to invest time and capital on future outcome.

Jadi kegiatan bisnis pariwisata adalah segala kegiatan usaha yang berorientasi pada keuntungan. Meliputi seluruh kegiatan penyediaan jasa (services) yang dibutuhkan wisatawan. yang meliputi:

1. Jasa perjalanan (travel) dan transportasi  (transportation),

2. Penginapan (accommodation), jasa boga (restaurant),

3. Rekreasi (recreation), dan

4. Jasa jasa lain yang terkait, seperti jasa informasi, telekomunikasi, penukaran uang (money  changer), dan  jasa hiburan (entertainment).

Perdagangan jasa pariwisata dapat bersifat domestic (domestic tourism) dan dapat juga bersifat internasional (international tourism). Bersifat domestic, apabila pelayanan jasa tersebut dilakukan di dalam wilayah suatu Negara, oleh pelaku bisnis domestic terhadap wisatawan domestic. Perdagangan jasa pariwisata internasional adalah perdagangan jasa yang mengandung unsur asing (foreign element). Unsur asing, dalam perdagangan jasa            pariwisata dapat terjadi karena perbedaan kewarganegaraan pelaku, lokasi, orientasi pasar (market target), dan unsur-unsur lainnya, seperti perbedaan hukum , bahasa, mata uang transaksi, dan tradisi.

Sifat khas perdagangan jasa pariwisata terletak pada sifat dan bentuk objeknya, yaitu jasa. Bentuk ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan barang. Sebagai contoh misalnya standard, lingkungan bisnis, peraturan perundangan, mekanisme dan prosedur, kebutuhan pasar, kemasan produk, kualitas produk, penyajian produk, dan sebagainya.

Karakteristik lainnya, terletak pada posisi jasa pariwisata sebagai objek hukum. Bisnis pariwisata memiliki system pengaturan tersendiri, institusi institusi, tradisi, azas-azas, ketentuan, standar-standar, mekanisme dan prosedur yang berbeda dengan perdagangan barang.

Karakteristik demikian menunjukkan bahwa bisnis pariwisata merupakan system tersendiri. Mencakup kesatuan konsumen, tata kerja, fungsi, dan proses tersendiri. Sistem demikian membutuhkan system hukum sui generis, yaitu sistem hukum khusus, sesuai dengan karakter obyeknya.

Mencermati perkembangan neraca pembangunan indonesia dari tahun ke tahun, tidak diragukan lagi bahwa kontribusi pendanaan yang berasal dari usaha jasa pariwisata telah meningkat dengan cukup berarti. Peranan industri pariwisata dalam menopang dan menggalakkan roda perekonomian nasional menjadi semakin kokoh di urutan kedua setelah migas.  

Dalam kurun waktu terakhir, posisi kepariwisataan indonesia dalam peta persaingan pasar global telah menjadi semakin berat karena beberapa tekanan antara lain:

          Keamanan nasional yang cukup rentan;

          Pemulihan krisis ekonomi yang belum kunjung berhasil;

          Tingginya euphoria proses otonomi daerah;

          Tidak sinergisnya program program pemasaran pariwisata Indonesia.

 

Beberapa isu pariwisata internasional yang diperkirakan cukup mempengaruhi industri kepariwisataan dunia antara lain:

          Keamanan dunia, Terorisme, dan Hak Asasi Manusia,  

          Pergeseran kecenderungan dari Pariwisata Masal menuju Pariwisata Minat Khusus
      (Special Interest Tourism),


          Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Development),  

          Pembangunan yang memberdayakan dan melibatkan Masyarakat
      (Community Based Development),


          Revolusi Teknologi Informasi,

          Semakin terbukanya Pergerakan dan Perjalanan manusia Lintas Batas Negara dan
       Wilayah (Borderless Tourism),


          Perlindungan konsumen yang semakin ketat (Consumer  Right),

          Era Perdagangan Bebas dan Liberalisasi Industri, 

          Serangan Amerika Serikat terhadap Irak.

Berdasarkan berbagai variabel dan data-data sepuluh tahun terakhir sepuluh besar sumber pasar pariwisata indonesia, adalah:

            1. Singapura                6. Korea

            2. Jepang                    7. Inggris

            3. Malaysia                  8. Amerika serikat

            4. Australia                  9. Jerman

            5. Taiwan                  10. Belanda

Selama sepuluh tahun terakhir, dari tahun ke tahun kesepuluh pasar tersebut secara konsisten telah menjadi pasar paling penting bagi  pariwisata indonesia. Peramalan terhadap jumlah kunjungan dari pangsa pasar sepuluh besar utama (top ten market) sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa, singapura masih menjadi sumber pasar utama bagi indonesia dengan tingkat pertumbuhan kunjungan yang cukup signifikan.

Sementara Jepang masih menjadi sumber pasar utama nomer 2 (dua), meskipun dengan tingkat pertumbuhan yang mengalami penurunan signifikan dalam kurun waktu 2003 dan 2004. Malaysia masih memiliki posisi yang kuat di peringkat ketiga dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lambat namun berke­lanjutan. Australia diperkirakan mengalami penurunan pangsa pasar dan digantikan oleh taiwan sebagai negara sumber pasar terbesar di peringkat keempat. Kondisi ini lebih disebabkan karena menurunnya jumlah kunjungan pasar australia dan bukan peningkatan jumlah kunjungan pasar taiwan yang signifikan. Pasar inggris dan Amerika serikat (long­haul) mengalami peningkatan pangsa pasar hingga tahun 2008, sementara pasar Jerman dan Belanda hanya mengalami sedikit perubahan.

Bisnis pariwisata merupakan model bisnis yang complicated. Melibatkan ketentuan, prinsip, persyaratan, standar, mekanisme dan prosedur, etika dan tradisi, yang membutuhkan perhatian lebih serius dalam perencanaan (Tourism Business Plan).Demikian pula dalam pelaksanaan, dan penyusunan design-design penyelesaian masalah. Untuk dapat bersaing secara lebih adil dan jernih.Tourism Business Plan memerlukan design-design akurat, dan secara proporsional meletakkan pertimbangan-pertimbangan hukum.

Suatu kegiatan bisnis, yang menyertakan mitra asing, atau unsur-unsur asing lainnya, baik manajemen maupun pasar, sebaiknya menempuh prosedur standar sebagaimana lazimnya prosedur kegiatan bisnis internasional. Prosedur tersebut mencakup pengenalan produk (penawaran), seleksi mitra, negosiasi (tawar-menawar), pembentukan MOU (Memorandum of Understanding), kontrak, sampai pada pelaksanaan dan manajemen bisnis.

____________________

 
 

Rochajat Harun

Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 117.857,55 hektar, yang terbagi dalam 361 desa serta 15 kelurahan. Jumlah penduduknya sebanyak 1.061.291 jiwa. Kabupaten Kuningan terletak di kaki Gunung Ciremai, sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Cirebon, sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah, sebelah selatan dengan kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah dan kabupaten Ciamis, serta sebelah barat dengan kabupaten Majalengka.

Daerah kabupaten Kuningan terdiri atas: perbukitan, lereng, lembah, daratan yang indah, berudara sejuk dengan temperatur 18-30 derajat celcius, kaya dengan objek dan daya tarik wisata yang alami dan menyegarkan (Natural and Fresh Tourism Objects), serta didukung oleh atraksi kesenian daerah yang beraneka ragam (Various Unique Traditional Art). Wisata tirta dan budaya merupakan daya tarik wisata yang menjadi unggulan.

Kabupaten Kuningan memiliki 18 objek wisata, tersebar dibeberapa desa, yang terdiri dari wisata budaya, alam, olah raga, agama dan lain-lain. Salah satu diantaranya adalah situs purbakala Cipari yang terletak di kelurahan Cipari kecamatan Cigugur. Jarak dari Kuningan 4,7 km. Musium Cipari merupakan daya tarik wisata budaya yang diunggulkan oleh daerah itu.

Situs ini diketemukan tahun 1972, berupa kuburan batu. Diketemukan pula perkakas batu, grabah, perunggu, bekas-bekas pondasi bangunan dan bangunan batu besar yang disebut Meganit. Hasil penelitian menunjukkan situs Cipari mengalami dua kali pemukiman pada akhir neolitik berkisar antara tahun 1000 SM (Sebelum Masehi) sampai dengan 500 M (Masehi). Pada waktu itu masyarakat sudah mengenal organisasi dan pemujaan terhadap nenek moyang.

Objek wisata lain adalah Puncak Gunung Ciremai yang memiliki pemandangan indah. Ini  merupakan salah satu objek wisata alam yang kini banyak dikunjungi wisatawan terutama wisatawan domestic (wisdom) atau local, yaitu anak-anak muda maupun anak-anak sekolah pada waktu liburan panjang. Pendakian ke Gunung Ciremai dilakukan  melalui 2 jalur pendakian yaitu: Pertama dari arah Linggarjati. Kedua dari arah curug Ciputri daerah Palintungan Kuningan. Sungguh suatu panorama pemandangan alam yang menakjubkan bila kita lihat dari puncak Gunung Ceremai

Melewati pedesaan Linggarjati kita bisa singgah di gedung bersejarah “Gedung Perundingan Linggarjati” yang merupakan monumen saksi hidup akan perjoangan bangsa Indonesia. Bangunan ini terletak di desa Linggarjati Kecamatan Cilimus di kaki gunung Ciremai bagian tenggara. Jarak dari kota Kuningan kurang lebih 14 km daerah utara. Atau 26 km dari kota Cirebon kearah selatan.

Tanggal 11 s/d 15 November 1946 gedung Linggarjati pernah digunakan sebagai tempat perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda yang diwakili oleh Dr Van Boer. Sedangkan dari pihak Indonesia diwakili oleh PM. Sultan Syahrier dengan anggota A.K.Ghani Soesanto Tirtodiprodjo dan Mr. Mohammad Roem. Sebagai penengahnya adalah Lord Killearn dari kerajaan Inggris. Dengan demikian, Linggarjati adalah objek wisata sejarah yang tidak bisa kita lewatkan begitu saja apabila kita berkunjung ke kabupaten Kuningan. Objek wisata ini banyak diminati oleh pelajar/mahasiswa.

Objek wisata lain adalah Agrowisata atau Wisata Pertanian, yaitu panorama pemandangan persawahan dan perbukitan yang indah, serta diselingi kelompokan rumah-rumah tradisional petani  dipedesaan yang cukup mempesona dan unik. Tentunya terutama bagi wisatawan mancanegara (wisman). Rasanya tidak akan kalah dengan Agrowisata sawah di Thayland, maupun objek wisata alam Niagara Fall dan Grand Caynon di AS.

Demikian pula industri-industri tradisional yang mengolah beberapa produk  petanian (selain padi) yang terkenl dari Kuningan antara lain Tape beras ketan (peuyeum) Cijoho, bawang goreng Garawangi, tepung ubi jalar (boled), serta Jeniper singkatan dari Jeruk Nipis Peras, minuman segar khas kabupaten Kuningan. Semua olahan produk pertanian tersebut, diberitakan telah benar-benar go public bahkan go international, diekspor ke luar negeri dan merupakan objek wisata kuliner yang cukup moyan.

Bagi yang berminat mengoleksi batu-batuan seni Suiseki , yaitu bongkahan batu yang setelah dibersihkan dan dipoles akan mirip dengan manusia, hewan, gunung-gunung, air terjun, maupun bangunan dan sebagainya; kiranya dapat berkunjung ke daerah Ciniru kurang lebih 12 km kearah timur dari kota Kuningan. Lokasinya ada pada daerah pergunungan. Dahulu tahun 80-an sewaktu almarhum pak Ismail Saleh masih jeneng sebagai Menteri Kehakiman, daerah Ciniru ini banyak dikunjungi para wisatawan terutama domestik untuk mencari batu Suiseki ini. Bahkan banyak tanah-tanah lamping yang digali orang, hanya sekadar mencari batu-batu seni tersebut. Apabila batu itu sudah dipoles dan dibersihkan, bentuknya akan menyerupai mahluk atau bangunan maupun gunung-gunung. Harganya bisa melambung sampai jutaan rupiah. Almarhum pak Ismail Saleh punya hobi mengoleksi batu seni Suiseki. Beliau sering sekali berkunjung ke daerah Ciniru.

Di kabupaten Kuningan juga terdapat beberapa kolam ikan yang oleh masyarakat setempat masih dikeramatkan. Kolam yang terkenal adalah kolam ikan Cigugur dan kolam ikan Cibulan. Ikan-ikan besar sejenis ikan Kancra ini yang oleh masyarakat setempat disebut ikan dewa, hidup dikolam tersebut dan tak boleh diganggu apalagi diambil untuk dimakan. Bisa kena tulah. Katanya ikan-ikan dan kolam ini dulunya adalah piaraan raja-raja jaman baheula.  Bahkan di kolam ikan Cigugur, disebelahnya terdapat situs Purbakala, yang menurut kepercayaan masyarakat setempat, disana terdapat batu besar tempat peristirahatan atau bertapanya prabu Siliwangi.

Beberapa contoh objek wisata diatas, hanyalah sebahagian saja dari 18 objek wisata yang berada di kabupaten Kuningan. Kiranya kabupaten Kuningan memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik dan potensial untuk dipasarkan. Sayang sekali, objek-objek wisata di kabupaten Kuningan belum tertata dan dikembangkan secara baik yang memiliki standar kepariwisataan. Jumlahnyapun masih belum pasti. Informasi dari Disbudpar Jabar, kabupaten Kuningan memiliki 11 objek wisata. Padahal ternyata memiliki lebih dari 18 objek wisata.

Daya tarik wisata lainnya adalah Telaga Remis, Kemah Palutungan, Curug Bangkong, Curug Cilengkrang, dan Waduk Darma yang menawarkan pemandangan alam dan kegiatan rekreasi air. Merupakan unggulan utama daerah kabupaten Kuningan.

Sama halnya dengan kabupaten lain di Jawa Barat, dalam membina dan mengembangkan kepariwisataan, kabupaten Kuningan memang menghadapi berbagai kendala, antara lain: kurangnya anggaran baik untuk penggalian, renovasi, pemeliharaan serta honor petugas yang memang sangat minim. Demikian pula tidak adanya standarisasi ODTW (Objek dan Daya Tarik Wisata), yang merupakan parameter atau ukuran, baik tidaknya suatu objek wisata.

DR Herman Bahar pakar Pariwisata dari STPB (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung), mengakui bahwa memang di Indonesia belum ada standar ODTW, baik di tingkat nasional maupun Propinsi. Sehingga agak sulit untuk menilai apakah sebuah ODTW di suatu Kabupaten sudah standardized ataukah belum. Herman Bahar menyarankan, sebaiknya di tingkat propinsi harus sudah memiliki standar ODTW yang berdasarkan data empiris maupun teoritis. Adanya standardisasi ODTW diharapkan menjadi rambu-rambu bagi pengembangan kepariwisataan di seluruh kabupaten dan Kota di Jawa Barat.

Dari uraian pencermatan objek wisata di kabupaten Kuningan diatas, ada beberapa catatan kecil untuk menjadikan pemikiran kita bersama, antara lain:
Pertama, hingga saat ini Indonesia belum berhasil mengembangkan produk-produk pariwisata berskala luas yang diadaptasikan pada permintaan potensial maupun penciptaan citra tujuan beragam pariwisata. Meskipun pariwisata dalam negeri terkadang dipertimbangkan di dalam penetapan kebijakan dan program, tetapi tidak dipertimbangkan di dalam eratnya pariwisata internasional.

Kedua, kondisi manajemen pengembangan pariwisata institusional memiliki kelemahan koordinasi beragam pelaku dan level kualifikasi stafnya. Kelemahan profesionalisme para pejabat pemerintah khususnya tingkat daerah (dekonsentrasi dan desentralisasi) sebagian disebabkan kesukaran mengatasi perubahan pesat industri pariwisata, baik pada level nasional maupun internasional.

Ketiga, berbagai keterbatasan dalam pembangunan dan perencanaan produk wisata masih terjadi disebabkan hubungan pemerintah–swasta secara sinergis belum nampak sepenuhnya. Kemandirian swasta harus dapat terwujud tanpa terpengaruh oleh keutuhan yang bersifat unity.

_              _________________________________

 
 

Rochajat Harun

Objek-objek wisata yang dimiliki kota Cirebon, sebagian besar merupakan objek-objek wisata budaya, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik. Untuk melengkapi pelancongan dan wisatanya, terutama bagi yang ingin menikmati alam wisata, biasanya pengunjung atau wisatawan terus pergi ke wilayah kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka atau Indramayu. 


Berikut adalah objek-objek wisata di kota Cirebon yang dapat dikunjungi dan dinikmati oleh wisatawan.

KRATON KASEPUHAN
Kraton ini berada di wilayah kelurahan Kasepuhan, kecamatan Lemahwungkuk. Dari terminal Harjamukti ke Timur Laut, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan menumpang becak atau sekitar 30 menit dari stasiun Kejaksan ke arah selatan. 


MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA
Masjid Agung Sang Ciptarasa (sebutan sehari-harinya masjid agung) ini merupakan salah satu bagian dari kraton Kasepuhan. Masjid ini terletak di sebelah Barat alun-alun Sangkalabuwana (alun-alun depan kraton Kasepuhan). Luas arealnya sekitar 4.750 m2 . Didalamnya terdapat beberapa sakaguru yang berfungsi sebagai penopang struktur bagian atas. Yang lebih menarik lagi adalah saka tatal-nya, yaitu sebuah tihang penopang yang cukup kuat, walaupun hanya terbuat dari serpihan-serpihan kayu. 


KRATON KANOMAN
Dari kraton Kasepuhan, kraton Kanoman ini hanya berjarak 600 m ke arah utara. Akses jalannya harus melalui pasar tradisional yang mengasyikan untuk berbelanja oleh-oleh Cirebonan, sehingga wisatawan yang senang membeli oleh-oleh tidak perlu jauh-jauh mencari toko oleh-oleh, karena segalanya telah tersedia di dalam pasar tersebut. 


KRATON KACERBONAN
Kraton ini berada di wilayah kelurahan Palasaren, kecamatan Pekalipan. Dari stasiun Parujakan jaraknya hanya 1 km, atau 10-15 menit dengan menumpang  becak kearah tenggara. Kraton Kacerbonan sebenarnya merupakan sempalan atau pemekaran dari kraton Kanoman. Pemekaran tersebut terjadi setelah Sultan Anom IV, PR Muhammad Khaerudin wafat. 


TAMANSARI GUA SUNYARAGI
Tamansari gua Sunyaragi atau biasa dikenal dengan sebutan Gua Sunyaragi, adalah bekas tamansari pesanggrahan dari kraton Kasepuhan yang fungsi utamanya untuk menyepi atau berkhalwat, sesuai dengan namanya. Sunyaragi berarti tempat untuk menyepi atau mengasingkan raga (sunya berarti sepi dan ragi berarti raga). Sebutan gua disini bukanlah gua alam , melainkan gua buatan atau artifisial.  


SITUS KALIJAGA
Situs ini terletak di wilayah kelurahan Kalijaga, kecamatan Harjamukti. Dari terminal bus Harjamukti jaraknya hanya berkisar 500 meter kearah selatan. Situs ini disebut juga atau dikenal sebagai taman kera Kalijaga, karena di situs ini terdapat banyak sekali kera yang telah beradaptasi dengan para pengunjung. 


VIHARA DAN KLENTENG-KLENTENG
Ada 3 (tiga) tempat peribadatan bagi umat Budha dan Konghucu di kota Cirebon, yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Ketiga tempat tersebut semuanya merupakan bangunan kuno yang bergaya arsitektur klasik Tiongkok: 1. Vihara Dewi Welas Asih (disebut juga klenteng Tay Kak Sie); 2. Klenteng Talang (disebut juga klenteng Kongcu Bio), untuk umat Konghucu; 3. Kuil Pemancar Kesehatan (disebut juga klenteng Bun San Tong). 
 


BANGUNAN-BANGUNAN KOLONIAL
Kota Cirebon juga kaya akan Benda-benda Cagar Budaya (BCB) bangunan-bangunan Kolonial (BAKOL) dari abad XIX hingga abad XX . Beberapa BCB BAKOL yang cukup terkenal adalah: 1. Gedung Balai Kota; 2. Stasiun Kejaksan; 3. Bank Indonesia; 4. Gedung BAT; 5. Gedung Mapolresta 851; 6. Gereja Santo Josep. 


TAMAN ADE IRMA SURYANI
Dahulu taman ini bernama taman Traffic Garden Cirebon. Sejak tahun 1966 berubah menjadi taman Ade Irma Suryani Nasution. Taman ini merupakan satu-satunya taman rekreasi dan taman bermain di kota Cirebon. 


PELABUHAN
Ada 2 (dua) pelabuhan di kota Cirebon yaitu: 1. Pelabuhan Muara Jati (pelabuhan bongkar muat barang terbesar di Jawa Barat); 2. Pelabuhan Nelayan Kejawanan (merupakan pelabuhan nelayan terbesar di Jawa Barat). 


Selain dari objek-objek wisata tersebut diatas, berikut ini ada beberapa jenis kesenian yang masih dapat dijumpai, ditonton ataupun dimiliki sebagai barang sufenir dan dekorasi:

SENI PERTUNJUKAN: Tarling, sintren, lais, genjring, akrobat, masres, terbang, gembyung, tari topeng, tari tayub, rudat, debus, dan lain-lain.
 
SENI RUPA: Lukisan kaca, tempa tembaga, ukir kulit, ukir kayu topeng, ukir kayu kontemporer, lukis batik.
 
SENI KRIYA DAN KERAJINAN: Kerajinan rotan, kerajinan bunga rotan, kerajinan batik dan lain-lain.
 
Cirebon juga terkenal kaya akan makanan khasnya, dari makanan ringan hingga makanan berat seperti:

MAKANAN RINGAN
Jenis keringan: krupuk mares, krupuk udang, sempe leo, gendeng gompel, otok owok, lambak, krupuk blekicot, cocor bebek, intip gurih, lantak/encrod, rengginang, ronge-ronge, ladu emping teki, dsb.

Jenis basahan: klepon, ongol-ongol, apem sapar (adanya setiap bulan Sapar), bubur sura, bubur lolos, gepu, misro, rarauan, raragudig, jalabia, ganda mesri, undal-andil, nagasari, geblog, ketan gurih, growol, dongkal, pusirpani, kraujagung, tahu gejrot, tahu petis, petis rebon, botok roti, pelas dsb. 


MAKANAN BERAT
Nasi Lengko, nasi jamblang, nasi langgi, nasi rasul, dan nasi jimat (adanya setiap bulan Maulud), docang, bubur sop ayam, mi kocok, empal gentong, tumpeng jeneng, nasi bugana, dsb. 


Cirebon terkenal juga dengan berbagai upacara adatnya, dari yang bersifat kolosal sampai yang individual. Dari yang bersifat kekratonan sampai kepada yang bersifat kerakyatan, seperti:

YANG BERSIFAT KOLOSAL
Upacara Panjang Jimat, upacara ini diselenggarakan setahun sekali oleh ketiga kraton di kota Cirebon, dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Event ini juga dikenal dengan nama Muludan.

Upacara Nadran, upacara ini diselenggarakan oleh para nelayan di daerah pesisiran. Tidak ada tanggal atau bulan yang pasti untuk rutinitas nadran ini. Akan tetapi Besar dan Sura sering menjadi patokan. 


YANG BERSIFAT INDIVIDUAL
Slametan Apem, yaitu upacara masyarakat Cirebon pada setiap bulan Sapar, sebagai rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus merupakan tolak-bala, karena pada bulan ini di Jaman Wali Sanga, Cirebon sedang mengalami penggebug. Upacara ini dilaksanakan dengan membagi-bagi apem kinca kepada tetangga.

Slametan Bubur Sura, yaitu upacara masyarakat Cirebon pada setiap bulan Sura sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, karena pada bulan ini kota Cirebon didirikan. 


Dalam menunjang kegiatan kepariwisataan, maka kota Cirebon memiliki beberapa hotel  berbintang maupun yang tidak (jenis Melati) yaitu 8 hotel berbintang (bintang 2-4); 13 hotel Melati. Selain hotel, di Cirebon terdapat 70 restoran/rumah makan, mulai dari yang bertaraf internasional maupun yang tradisional. 
 


_______________________

 
 

Rochajat Harun

Hanjakal pribados teu tiasa hadir dina acara pamilihan Moka sa Jawa Barat nu diayakeun finalna teh ping 24 November 2008 di Sabuga ITB. Sanes teu hoyong, mung taya kasempetan we. Komo pisan pribados mah sanes budayawan, oge sanes anggota panitia deuih. Ngan saukur resep we kana acara-acara budaya sunda. Komo deui para pinilih Moka tingkat Jabar ieu mah, wartosna bade dijantenkeun para duta Wisata. 

Dina Tahun pengker, oge kantos aya pamilihan Moka pikeun tingkat Kota Bandung. Bewara nu kabaca dina koran Pikiran Rakyat waktos harita sarengsena pamilihan Mojang sareng Jajaka kota Bandung kalayan dijudulan “Moka Cantik dan Gagah, Tapi Tak Nyunda”. Salah sawios anu narik ka sim kuring teh eta cenah ku balepotannana cumarios dina basa Sunda na. Sedih oge.

Sakaterang pribados, maksad diayakeun pamilihan Moka teh taya sanes tujuan utamina mah kanggo ngamajengkeun budaya Sunda, kalebet bahasana. Pikeun barudak anom jaman kiwari mah cumarios dina basa Sunda teh asa beuki pikasediheun. Padahal, bahasa teh ngarupikeun jatidiri atanapi pondasi pameungkeut (binding faktor) pikeun urang Sunda. 

Bawiraos kitu, alhamdulillah acara pamilihan Moka tingkat Jawa Barat teh parantos lekasan kalayan lumangsung aya dina kalancaran. Sanaos mung saukur ngaos dina koran PR sareng Galura, nya bangga oge kana ieu acara-acara pamilihan Moka teh. Angot saatosna uninga saha-sahana nu janten Dewan Yuri, nu di sesepuhan ku pak Eddy D. Iskandar nu teu bireuk deui kanggo urang Sunda mah. Mantenna disarengan ku para inohong Sunda sanesna nyeta Ibu Popong Otje Djundjunan, Frances B. Affandi, Bambang Aryana, sareng Ir. Chand Parwez Servia. 

Nu janten pinilih Moka Jabar 2008 teh nyaeta Aninda Sekar Putri ti Kota Bandung sareng Jefri Noor ti Kota Bogor. Sateuacanna grand final, para calon pinunjul Moka Jabar 2008 teh, wartosna diuji heula ngeunaan sababaraha materi. Di antawisna bae kedah nembongkeun potensi daerah asalna, kalebet kasenianana. Mung hanjakal teu patos jelas naha cumarios basa Sunda na sareng adab-adaban (performance) kasundaan oge kalebet nu diuji? Mun tea mah henteu, aduh kalintang hanjakalna. Pan marantenna teh bade jaranten duta-duta Wisata. Kumaha atuh engke jantenna saupami bae kamahiran cumarios sunda teu kalebet nu diuji. Angot upami kauninga para pinilih Moka teh balepotan cumarios basa Sunda. 

Aya komentar sae ti pak Aat Suratin saurna: “Mun nu jadi udaganna jadi duta budaya jeung pariwisata, unjuk kabisa atawa midangkeun kabinangkitan seni Sunda teh kudu dianggap penting. Calon duta budaya kudu boga bekel anu munel dina widang seni budaya. Rek jadi duta kumaha mun dirina teu pati wanoh kana budayana?" Kitu pisaur mang Aat Suratin, seniman anu nyutradaraan drama seri Inohong di Bojongrangkong. 

Aya pamendak sae ti seniman karawitan Nano S. nu nyaurkeun: “Can undakna ajen kaparigelan Moka teh teu leupas tina hengkerna atikan seni jeung budaya di lembaga pendidikan. Kukituna ka parapaniten supados langkung wijaksana. Ku daraekna diajar kana kasenian oge geus untung, da dina jaman kiwari mah nonoman Sunda teh geus meh pareumeun obor kana budayana. Sugan we ngaliwatan pasanggiri Moka mah sumanget nonoman sejena teh bakal kahudangkeun," pokna. 

Waktos ku pribados ditaros kuma cumarios Sundana eta para Moka, mang Nano ngawaler enteng bari gumujeng: “Nya kitu tea, sesah atuh pikeun para nonoman kiwari mah. Balepotan lah. Tong boroning pikeun para nonoman atanapi ABG, dalah urang Sunda nu saentragan atanapi saumur jeung urang ge, pan sami wae atung eneh atung eneh. Amburadul deui wae alias balepotan tea. He...he...he...!” 

Di payuneun para wartawan, dina acara konprensi pers, pinilih Aninda jeung Jefri negeskeun, duanana bade konsekuen kana tekadna, nyeta mancen tugas jadi duta budaya, pikeun nanjeurkeun komara budaya daerah, utamana budaya Sunda. Kalebet tugas-tugas sa nesna nu aya mangpaatna kanggo masarakat. Mugi-mugi we nya Eneng sareng Encep Moka, eta dina mancen tugas nu sakitu mulyana teh, disarengan ku itikad kiat ngomean kakirangan prakprakanana cumarios Sunda. Oge kalebet rengkak polah nu kedah Nyunda tea. Ari jenengan mah pedah eta kawas urang Eropah, hapunten cep Jefri, teu nanaon saheulaanan mah. Hawatos pasihan sepuhna. 

Rupina, mangga urang sami-sami introspeksi, naha lepat saha atuh dugi ka kiwari urang Sunda henteu nyunda. Angot saupami cumarios dina basa Sunda mah. Nu pasti mah tangtosna ge sanes kalepatan barudak nu aranom. Nanging kalepatan urang sadaya: para sepuhna, guru-guru/pendidik, sinareng lingkungan nu henteu atanapi kirang ngadukung kana kamekaran basa Sunda. Eta ge aya ari alesan klasik mah nyeta euphoria  kana basa nasional sinareng basa global. Dugi ka ngajantenkeun barudak ngora kiwari mah langkung resep sareng lancar cumarios dina basa Mandarin, Jepang, atanapi Inggris, tinimbang basa Sunda basa indungna.  

Saupamina bae kaayaan lingkungan nu kirang ngadukung, rehna taya palajaran basa Sunda di sakola-sakola, teu ayana buku-buku palajaran basa Sunda sareng alesan-alesan sanesna, rupina pamendak pribados mah tiasa oge ku cara sanes. Tos waktosna urang sami niat kiat sauyunan ku sagala cara pikeun ngamajengkeun basa atanapi budaya Sunda. Tiasa ku jalur pendidikan formal atanapi non-formal utamina bae dina cumarios sadidinten. Cenah eta teu aya guru, nya mangga pilarian we atuh saha-saha nu masih keneh tiasa ngocoblak ku basa Sunda. Di satiap tempat di Jawa Barat pasti aya. Teu kedah ngantosan para guru lulusan Fakultas Sastra Sunda pedalan UPI atanapi UNPAD.  

Bawiraos kitu, pribados ngaraos reueus sareng apresiatif kana tarekah nu ngarupikeun kagiatan-kagiatan kiwari pikeun ngamajengkeun budaya Sunda kalebet bahasana. Diantawisna bae acara nyunda di sababaraha pusat pertelevisian Jabar, boh pikeun ngamajengkeun seni tembangna atanapi unsur-unsur budaya Sunda sanesna. Kantos sababarah waktos kapengker aya ajakan ti pupuhu Disbudpar Jabar supados di satiap kantor dianjurkeun pisan cumarios nganggo basa Sunda. Sanaos bari rada balepotan ge, teu nanaon. Eta ajakan teh kalintang saena.  

Kagiatan sanesna nyeta korespondensi dina Internet, aya sababara situs nu ngagunakeun basa Sunda. Tiasa dianggo kanggo rupi-rupi kaperyogian. Diantawisna carita pondok, karya-karya nu sifatna ilmiah, sajak, bewara kiwari, budaya Sunda sareng sajabina. Situs-situs nu kaleresan pribados sok remen korespondensi dina basa Sunda diantawisna bae: Galuh-Purba.com; Kusnet.com; sareng Nenensnest.com. Oge wartosna mah masih seueur keneh situs nu ngahaja muka rohangan atanapi muka kategori basa Sunda. Alhamdulillah, bet mani asa reueus. Geuning basa Sunda teh tiasa nga-global, sanes ngahiyang tinggal ngaran.  
_________________

 
 

Rochajat Harun

Salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam kepariwisataan adalah tersedianya restoran (rumah makan) yang memadai bagi wisatawan. Macam rumah makan yang cocok, bentuk dan cara pelayanan, serta jenis makanan yang akan disajikan hendaknya memperhatikan akan selera dan kebiasaan para calon wisata. Adakalanya kebutuhan makanan termasuk pelayanannya bagi wisatawan asing berbeda tergantung dari daerah mana asal mereka. Wisatawan yang berasal dari Eropah maupun Amerika, tentunya berbeda dengan wisatawan yang berasal dari Timur Tengah dan Asia.

Hal tersebut harus jadi pertimbangan bagi pengelola paket wisata termasuk para pramu wisata. Perlu diperhitungkan seawal mungkin sebelum mereka datang ke Daerah Tujuan Wisata maupun selama perjalanan di Indonesia. Contoh yang kecil saja misalnya jenis makanan bagi orang Eropah maupun Amerika, mereka sangat sensitif terhadap makanan yang pedas seperti sambal, atau masakan ala Padang. Ataupun jenis makanan yang baunya cukup menyengat seperti jengkol, petai, maupun buah durian. Bagi orang Indonesia hal ini mungkin sangat menyenangkan, tapi belum tentu bagi mereka. Demikian pula dalam hal penyajian makanan, apakah model internasional (International style),  fast food, atau self-service, atau model bebas gaya kita di Indonesia, dan sebagainya.

Ada beberapa catatan dari beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa pengeluaran untuk makan dan minum wisatawan banyak tergantung dari besar kecilnya nilai disposible income masing-masing keluarga dalam masyarakat. Seperti di Perancis misalnya dalam tahun 1976, sebesar 43 % untuk keperluan makan dan minum. Demikian pula halnya di Itali dalam priode yang sama mencapai sebesar 40%, sedangkan di Inggris hanya 32% dan Amerika Serikat lebih kecil lagi, yaitu hanya 17% saja. 


Meskipun secara proporsional pengeluaran untuk makanan dan minuman di Amerika Serikat lebih rendah, namun uang yang dibelanjakan untuk makan di luar rumah (Dine-out) meningkat lebih besar dibandingkan dengan "disposable income" negara tersebut. Salah satu sebab yang perlu diperhatikan, adalah karena banyak kaum wanita yang menjadi pekerja di kantor dan pabrik serta industri lainnya. 


Dalam tahun 1970 tercatat 41% wanita bekerja diperusahaan-perusahaan dan dalam tahun 1980, angka tersebut lebih besar lagi diperkirakan sebesar 60%. Ini berarti diperlukan peningkatan pelayanan penyediaan makanan yang lebih cepat (to serve fast foods) bagi mereka yang makan di luar rumah. Belum lagi para wisatawan yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun, yang dengan sendirinya memerlukan pelayanan khusus pula. 


Semua ini membuat kita harus berpikir, bagaimana dapat di ciptakan suatu sistem penyediaan dan pelayanan pada restoran-restoran di masa-masa yang akan datang. Karena itu perencanaan suatu restoran selalu akan disesuaikan dengan keadaan yang selalu berobah, baik dalam pola konsumsi, maupun perobahan dalam tingkah laku manusia yang harus pula disesuaikan dengan corak perekonomian dunia. 


Beberapa dasar pertimbangan yang perlu diperhitungkan dalam mengusahakan suatu usaha restoran, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Sebaiknya terlebih dahulu diadakan penelitian tentang:

1) Lokasi, di mana restoran itu akan didirikan.

2) Besar atau kecilnya restoran yang akan diusahakan.

3) Pasaran yang akan dimasuki, yang banyak pula tergantung pada keahlian yang dimiliki  oleh   para juru masak dan tata hidangan yang digunakan.

4) Cara dan macam pelayanan yang dapat diberikan.

5) Macam bahan bakar yang akan digunakan.

Macam dan jenis restoran yang akan diusahakan banyak pula tergantung pada pengalaman dan keahlian yang dimiliki di samping macam langganan yang akan diharapkan untuk datang mengunjungi restoran yang diusahakan. Macam dan jenis restoran yang kita kenal di antaranya ialah:

1) The Gormet Restourant. Yaitu suatu restoran yang mengutamakan penyediaan dan pelayanan makanan dan minuman yang sifatnya khusus atau eksclusip, di mana pelayanan dan jenis makanan yang dihidangkan termasuk yang terbaik saja. Biasanya pelayanan dan harga makanan dan minuman yang dihidangkan sesuai dengan kualitas. Oleh karena itu restoran semacam ini termasuk restoran golongan mewah atau diperuntukkan bagi golongan VIP.

2) The Family Type Restourant. Restoran semacam ini menghidangkan makanan dan minuman dengan palayanan dan harga yang agak moderat, dengan tujuan untuk dapat menarik lebih banyak keluarga keluarga dalam satu rombongan beserta relasi atau kenalannya.

3) The Convenience Restaurant. Ini adalah restoran yang dapat memberikan pelayanan secara cepat (quick service) dengan harga yang relatif murah.

4)  Table Service Restaurant. Di sini para pengunjung duduk di kursi yang telah   disediakan dan makanan serta Minuman dihidangkan di meja dan dilayani oleh Waiter dan atau Waitress.

5) Counter Service Restaurant. Di sini pengunjung duduk disuatu counter, makanan dilayani oleh petugas yang mempersiapkan makanan dan minuman atau oleh Waiter maupun Waitress yang ada.

6) Self Service Restaurant. Jenis restoran ini kita kenal dengan sebutan "buffet" atau "cafetaria", di mana makanan dan minuman dipajangkan dan pengunjung tinggal memilih sendiri, makanan mana yang disukai dan membawa sendiri makanan tersebut ke tempat duduk yang telah disediakan. Kebanyakan restoran semacam ini beroperasi dalam bentuk "chains operation system" atau "franchise operation system", dimana penggunaan nama dan tata cara dalam berusaha berdasarkan suatu pola dari organisasi pusat. Di Amerika Serikat jenis restoran ini misalnya Howard Johson Restaurant. Bila orang membaca nama tersebut, segera orang tahu makanan dan minuman macam apa yang tersedia di restoran tersebut.

7) The Speciality Restaurant. Restoran semacam ini hanya menyediakan makanan dan minuman tertentu dalam macam dan jenis yang terbatas. Pada restoran ini peranan dekorasi dan interior sangat memegang peranan penting untuk menarik lebih banyak langganan. Mengenai pelayanan dan harga maupun kualitas dapat dikatakan berada di antara Gormet dan Family Type Restaurant.

8) Carry-out Restaurant. Restoran yang dapat menyediakan makanan secara cepat, di mana makanan dan minuman dipesan meialui tilpon sebelumnya dan kemudian dibawn ke tempat di mana pemesan berada atau tinggal, apakah di pabrik, di kantor, di hotel atau di daerah perkemahan dan lain-lain. 


Selain berbagai jenis restoran yang telah disebutkan tadi, tidak salah juga apabila disediakan restoran atau rumah makan yang memiliki menyediakan makanan/minuman khas Indonesia, baik jenis makanan, pelayanan, penyajiannya, termasuk jenis hiburannya (entertainment). Tentunya informasi yang lengkap tentang ini perlu disampaikan sebelumnya kepada calon wisatawan. Mungkin saja mereka menginginkan restoran yang khas Indonesia, apakah khas Sunda, Padang, Yogya dan sebagainya. Hal ini termasuk jenis minuman yang khas, seperti bajigur, bandrek dari Jawa Barat.  
 


_______________________

 
 

Rochajat Harun

Sebagai sebuah Organisasi, Pariwisata merupakan suatu sistem, yang mempunyai unsur-unsur yang satu sama lain saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Keberadaan (eksistensi) dankeeratan hubungan unsur-unsur itu menggambarkan sampai seberapa kuat Sistem Kepariwisataan tersebut. Apabila salah satu unsur tidak ada atau lemah, maka sudah dipastikan kesisteman pariwisata akan terganggu atau tersendat-sendat kegiatannya. Karenanya dalam mengelola kepariwisataan diperlukan Manajemen Pariwisata yang betul-betul handal dan tepat sasaran. 

Implikasinya, Pariwisata merupakan fenomena yang multidimensional dan multisektoral yang harus dilihat dalam satu kesatuan sistem, yang berada di dalam sistem yang lebih luas. Sistem kepariwisataan dapat dilihat dari berbagai aspek:

Melihat pariwisata dari sisi penawaran dan permintaan;
Mempunyai hubungan ketergantungan atau keterkaitan antara destinasi dan sumber pasar yang dihubungkan dengan transportasi;
Didasari oleh arus informasi yang dapat mendorong dan memungkinkan wisatawan datang.
Sistem yang lain melihat keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain antara berbagai komponen kepariwisataan, yang tak dapat dipisah-pisahkan sebagai satu kesatuan produk: transportasi yang menyediakan akses, daya tarik yang menjadi faktor utama kunjungan, amenities yang disiapkan untuk memberikan pelayanan bagi wisatawan.
Dilihat dalam hubungan input-output, sistem ini berada dalam lingkungan yang lebih luas, output-nya akan tergantung bukan hanya kepada input tetapi kepada bekerjanya faktor-faktor strategis lingkungan dan instrumen-instrumen kelembagaan.
 
Salah satu komponen dari kesisteman Pariwisata adalah Prasarana dan Sarana Kepariwisataan, yang merupakan komponen terbesar dan paling menentukan dalam menyukseskan penyelenggaraan Pariwisata. Di dalam komponen ini terdiri dari berbagai subsistem yang memang benar-benar perlu mendapatkan perhatian dan penyediaan serta pemeliharaan yang seksama. 


Wisatawan adalah orang yang pada umumnya melakukan perjalanan untuk sementara waktu ke tempat atau daerah yang sama sekali masih asing baginya. Karena jauh dari tempat tinggalnya, maka ia memerlukan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, yaitu semenjak ia berangkat sampai di tempat tujuan, hingga ia kembali ke rumahnya. Dibutuhkan prasarana dan sarana yang lengkap memberikan kepastian suatu kenyamanan bagi wisatawan. Mereka terlebih dahulu ingin mengetahui: 


Fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang ingin dikunjunginya.
 
Fasilitas akomodasi, yang merupakan tempat dimana yang bersangkutan dapat menginap sementara di DTW.
 
Fasilitas Catering Service, yang dapat memberikan mereka pelayanan sehubungan dengan makanan dan minumannya yang sudah tentu sesuai dengan seleranya.
 
Obyek dan atraksi wisata yang ada pada DTW yang akan dikunjunginya.
 
Aktivitas Rekreasi (Recreation Activities) yang dapat dilakukannya di DTW  yang akan dikunjunginya.
 
Fasilitas Perbelanjaan (Shopping Facilities), dimana ia dapat membeli ataupun juga kadang-kadang juga untuk mereparasi kamera, mencuci cetak film dan lain-lain.
 
Fasilitas Kantor pos (Post office), untuk pengiriman surat-surat bagi sanak keluarga, sahabat atau instansi sehubungan dengan perjalanan yang sedang dilakukan.
 
Fasilitas komunikasi melalui Telephone, telex dan faxcimile serta alat komunikasi lainnya untuk pengiriman informasi yang dibutuhkannya selama melakukan perjalanan.
 
Keseluruhan informasi tersebut di atas adalah menyangkut prasarana dan sarana kepariwisataan yang harus ada atau tersedia sebelum kita mempromosikan suatu daerah seba-gai daerah tujuan wisata. 


Prasarana Kepariwisataan tidak berbeda dengan prasarana dalam perekonomian pada umumnya karena pada dasarnya kegiatan kepariwisataan tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonominya. Yang termasuk ke dalam kategori prasarana umum adalah: Sistem penyediaan air bersih; Pembangkit tenaga listrik; Jaringan jalan raya; Pelabuhan udara, pelabuhan laut; Terminal taxi, terminal bus; Stasiun kereta api; Kapal penyeberangan; Jaringan telekomunikasi. Sedangkan prasarana yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak ialah rumah sakit, apotik, bank dan kantor pos. 


Prasarana (infrastucture) kepariwisataan adalah semua fasilitas yang tersedia serta yang memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya.  


Sedangkan sarana kepariwisataan (tourism superstrucures) adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Kita dapat membagi atas tiga bagian yang penting sarana kepariwisataan yaitu: 1. Sarana pokok kepariwisataan; 2.Sarana pelengkap kepariwisataan; dan 3.Sarana penunjang kepariwisataan.  


Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructures).

Sesuai dengan namanya, sarana ini menyediakan fasilitas pokok yang ikut menentukan keberhasilan sesuatu daerah menjadi daerah tujuan wisata. Banyak perusahaan yang menggantungkan hidupnya dari arus kunjungan wisatawan, atau orang yang melakukan perjalanan wisata, baik wisatawan manca-negara maupun wisatawan nusantara. 


Termasuk juga kedalam kelompok sarana pokok kepariwisataan itu adalah perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas pelayanan kepada para wisatawan di tempat yang dituju: Travel Agent dan Tour Operator; Tourist Transportation; Hotel dan akomodasi lainnya; Catering, Trades; Obyek Wisata dan Atraksi Wisata. 


Ada lagi satu kategori yaitu yang termasuk ke dalam kategori "Subvek Sentra" perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha agar orang merasa tertarik akan kebutuhan untuk mengadakan perjalanan atau memberi kesempatan pada mereka untuk menikmati perjalanan apabila mereka sendiri tidak mampu untuk berbuat demikian, yaitu: 


Perusahaan penerbitan kepariwisataan yang memajukan dan mempromosikan pariwisata secara umum ataupun khusus.
Kantor yang membiayai kepariwisataan seperti Bank-bank Pariwisata (Travel Bank), Travel Credit, Social Tourism, Youth Travel.
Asuransi Pariwisata.
 
 
Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Suplementing Tourism Superstructures).

Yang dimaksud dengan sarana pelengkap ini adalah perusahaan perusahaan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak lain hanyalah untuk melengkapi sarana pokok kepariwisataan. Fungsi yang terpenting adalah untuk membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal pada suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Yang termasuk dalam kategori ini adalah Sarana Olah Raga,  Sarana Ketangkasan dll. 
 


Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructures)

Adalah perusahaan yang dapat menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok yang berfungsi bukan saja untuk membuat wisatawan lebih lama tinggal tetapi yang lebih penting adalah untuk membuat wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya atau membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjungi. Sarana penunjang ini baik juga disediakan untuk wisatawan wisatawan yang datang walaupun itu tidak mutlak, karena tidak semua tamu membutuhkan pelayanan tersebut, seperti umpamanya : night club, steambaths, dan casinos. 


Ada beberapa perusahaan yang merupakan perantara atau saluran distribusi yang tentunya memperoleh pendapatan dari hasil komisi penjualan yang dilakukannya. Semakin banyak perusahaan yang diwakilinya akan semakin banyak pula komisi diterimanya. Bila kita perhatikan beberapa perantara yang bertindak dalam rantai distribusi dalam industri pariwisata, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam kondisi yang berbeda-beda. Misalnya suatu Travel Agent biasanya bekerja atas dasar komisi yang besarnya berkisar 5 % s/d 40%. Pada umumnya hotel dan akomodasi lain hanya memberikan komisi 10% dari kamar yang dijualkannya. 


Jadi komisi hanya 10% dari harga kamar yang terjual saja, sedangkan dari penjualan makan dan minuman tidak diberikan komisi. Komisi yang lebih besar biasanya diberikan kalau pihak hotel dalam persaingan sehingga mereka berebutan mendapatkan tamu. Kalau dalam keadaan yang demikian, maka pihak Travel Agent tinggal pilih, logis bila ia akan lari ke hotel yang memberikan komisi yang lebih tinggi. 


Disamping sarana dan prasarana seperti yang telah diuraikan diatas, masih ada berbagai macam bentuk usaha (tourism business) yang ada dalam kegiatan kepariwisataan, baik sebagai distributor maupun perantara, antara lain: 


Tour Operator: Yaitu suatu badan usaha yang merencanakan dan menyelenggarakan paket wisata (packet tour) yang dijual, baik yang dijual sendiri maupun melalui retail Travel Agent lainnya. Dalam industri pariwisata Tour Operator biasa juga disebut sebagai manufacture karena menciptakan dan menghasilkan paket wisata yang siap jual pada wisatawan. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai wholesaler yang bertindak sebagai pedagang besar yang menjual paket wisata pada para retailer Travel Agent atau perantara lainnya.  


Tour Operator-retailer: Adalah Tour Operator biasa, tetapi selain tugasnya sebagai Tour Operator ia juga bertindak sebagai pengecer (retailer) melalui retail outlet atau by Mail order. Contohnya, Neckermann di Jerman yang mempunyai outlet atau retail 150 retail Outlet dan WAGON-LITS di Perancis yang memiliki kira-kira 400 outlet di seluruh dunia. Di Indonesia yang dapat disamakan dengan ini adalah NITOUR yang banyak mempunyai cabang di daerah-daerah tujuan wisata. 


Direct Mail: Adalah cara penjualan secara langsung kepada konsumen dengan mengirimkan brosur tentang paket wisata yang telah dipersiapkan dengan baik. Biasanya dilakukan oleh suatu Tour Operator, seperti halnya dengan Neckermann di Jerman. 


Producer Retailer: Adalah suatu bentuk perusahaan terpadu / integrasi di mana beberapa perusahaan inudstri pariwisata bergabung bersama, soperti: Travel Agent, Transportasi, Hotel, Restoran dan lain-lain. Secara bersama mereka membentuk retail outlet yang berfungsi untuk melakukan penjualan. Contoh yang paling terkenal adalah Club Mediterranea di Eropa dan sepanjang Laut Tengah. 


Institutional Selling: Adalah salah satu bentuk sales dari suatu Tour Operator yang bertugas menjual paket wisata secara langsung pada lembaga, kantor-kantor, jawatan, Bank, departemen departemen dan perusahaan asuransi. Jadi sasarannya adalah kelompok formal dalam masyarakat dan tidak secara individu. 


New Mass Outlets: Adalah bentuk lain dari perusahaan yang menjualkan paket wisata melalui new mass outlet seperti: super market, hypermarket, toko buku, apotik, toko obat, toko alat alat olah raga, pelabuhan udara, stasion dan terminal atau pada arcade di hotel- hotel. 


______________________