Ketahuan Anak, Berdampak hingga Dewasa

HUBUNGAN intim suami istri hendaknya menjadi rahasia berdua. Apalagi bila sudah ada anak. Sebab, anak yang tanpa sengaja melihat aktivitas seksual kedua orang tuanya akan berdampak pada psikologis anak.

"Dampak terparah, anak akan menderita gangguan perilaku seksual," kata dr Dyan Pramesti SpAnd MKes, androlog dari RS Spesialis Husada Utama Surabaya. Dia mengatakan, gangguan perilaku tersebut bergantung persepsi anak ketika melihat orang tuanya melakukan hubungan intim. Misalnya, anak beranggapan ayahnya jahat karena menyiksa ibu. "Persepsi tersebut menjadi imprinting behavior," jelasnya.

Ketika dewasa, anak tersebut bisa jadi benci terhadap pria. Jika perempuan, mungkin dia akan suka sesama jenis. Bila anak tersebut berjenis kelamin pria, dampaknya bisa takut melakukan hubungan intim dengan istrinya, bahkan sulit ereksi dan penetrasi. "Sebab, dia takut hubungan intim akan menyakiti istrinya. Itulah persepsi yang terbentuk ketika melihat ayahnya berhubungan intim dengan ibunya," ungkap Dyan.

Dampak yang sama terjadi bila anak laki-kali menonton blue film (BF). Sebab, kata Dyan, dalam tubuh manusia, ada dua mekanisme pembelajaran. Yakni, intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik adalah bawaan secara genetik. "Berupa insting-insting tertentu berkaitan dengan seksual," paparnya.

Mekanisme pembelajaran ekstrinsik tergolong bisa dipelajari (learn behavior). Anak bisa mempelajari perilaku seksual dari intrinsik dan ekstrinsik. "Yang ekstrinsik itu, antara lain, menonton BF ataupun melihat orang tuanya melakukan hubungan intim," jelas dokter yang mendalami masalah kesehatan reproduksi di Unair itu.

Khusus BF, kata Dyan, orang tua harus benar-benar mengawasi. Sebab, BF sudah beredar secara luas. Anak-anak pun bisa membeli sendiri dengan leluasa bila tahu tempatnya. "Jika orang tua punya koleksi BF, jangan ditaruh di tempat penyimpanan kaset atau CD,'' ucapnya. ''Harus disimpan sendiri di tempat rahasia. Biar anak tak mengetahuinya," ujarnya.

Pengawasan juga bertujuan melindungi anak-anak. Sebab, mereka belum tahu betul mengenai berhubungan intim. Termasuk, risikonya. "Ada kemungkinan, anak malah jadi korban pelecehan seksual," kata Dyan. Itu bisa terjadi bila yang menonton BF adalah kalangan remaja atau dewasa muda. "Siapa yang menjamin bila ketika atau setelah nonton BF tak akan terjadi apa-apa. Di sinilah pentingnya pengawasan melekat orang tua terhadap sikap dan perilaku anak-anaknya," tuturnya. (ai/nda)

Sumber: Batam pos online

 
 

atatan Dirjen Pemasyarakatan 2008
JAKARTA (BP) - Persoalan over populasi di Rumah Tahanan (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) seolah tak ada habisnya.

Pembangunan rutan dan lapas baru untuk perluasan hunian orang bermasalah itu belum juga menuntaskan persoalan itu. Hingga kini, sedikitnya  41.476 tahanan dan narapidana belum mendapatkan tempat yang layak menjalani dalam masa hukuman.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Untung Sugiono kemarin mengungkapkan bahwa ruang tahanan yang disediakan pemerintah selalu tidak seimbang dengan membeludaknya jumlah tahanan. Tahun 2007, populasi tahanan dan nara pidana di Rutan dan Lapas seluruh Indonesia berjumlah 127.238, sementara ruang tahanan hanya menampung 86.550 orang. Di penghujung 2008, populasi tahanan juga membengkak. Dimana jumlahnya mencapai 130.075. Sementara kapasitas hanya bertambah untuk 2 ribu orang. Kondisi itu berlangsung sejak empat tahun lalu.

Menurut Untung kondisi itu memicu beragam masalah. ”Ini sudah pasti mengakibatkan menurunnya kualitas layanan hingga tingginya kematian,” jelasnya dalam laporan akhir tahun di kantor Direktorat Jenderal Pemasyarakatan kemarin. Betapa tidak, seorang petugas harus mengawasi 48 orang. Padahal rasio ideal yang ditetapkan 1: 25.

Kematian dalam masa penahanan  juga bertambah. Setahun belakangan, tercatat 750 penghuni meninggal. Mereka mayoritas baru mendekam selama enam bulan di balik jeruji besi. ”Di tahanan itu kumpulan orang bermasalah. Apalagi  ditambah masalah dengan sesaknya tahanan,” ucapnya. Kondisi itu kemungkinan mempercepat kematian. Apalagi, di antara mereka yang meninggal itu kebanyakan sudahmengidap HIV dan TBC.
Bukan itu saja. Over populasi  juga memicu kaburnya para penghuni. Sampai akhir tahun, Dirjen Pemasyarakatan mencatat ada 111 tahanan kabur. Meskipun jumlah itu menurun dibandingkan tahun 2007, yakni 264 orang.
Untuk mengatasi persoalan itu, kata Untung, Dirjen Pemasyarakatan selama setahun belakangan sudah membangun tujuh Rutan dan Lapas. Di antaranya Lapas Cibinong, Lapas Kelas I Medan, Lapas Narkotika Yogyakarta, Rutan Yogyakarta, Lapas Salemba. Tapi, kapasitasnya hanya menampung 5.500 orang.  (git/jpnn)

 
 

Rumahtangga tanpa dukungan ekonomi, memang rawan selingkuh. Lihat nasib Ny. Nurul, 32, dari Jombang (Jatim) ini. Suami yang tak bisa memberikan jaminan materi, ditinggal pacaran 35, jadi stress. Begitu sutrisnya dia, meski santri tega juga bunuh diri. Mati sih tidak, hanya kepala benjol digetok palu sendiri.

Ekonomi yang mapan selalu menjadi dambaan setiap orang. Rejeki melimpah bisa membuat hablu minannas (hubungan dengan manusia) dan hablu minalloh (hubungan dengan Allah) seimbang. Tapi banyak juga orang yang tak mampu menjaga keseimbangan itu. Banyak manusia yang terlalu memburu rejeki melimpah, lupa beribadah. Tapi banyak pula, yang terlalu tekun beribadah lupa mencari rejeki di bumi Allah. Padahal hadits Nabi mengatakan: carilah rejeki seperti akan hidup selamanya, dan beribadahlah seperti akan mati besok pagi.

Untung lelaki muda dari Sumobito, Kabupaten Jombang, rupanya termasuk yang demikian ini. Dia dulu pekerja tekun demi kesejahteraan keluarganya. Tapi semenjak mengikuti sebuah aliran, dia lepaskan pekerjaannya dan lebih konsentrasi pada kegiatan keagamaan bersama komunitasnya. Kesejahteraan ekonomi anak istrinya tak diperhatikan benar. Prinsipnya, Allah akan selalu memberikan rejeki pada ummatnya. “Ana dina ana upa (ada hari ada rejeki),” begitu prinsipnya. Untung lupa bahwa rejeki takkan turun begitu saja, tapi harus dicari.

Nyonya Untung yang bernama Nurul ini, tentu saja tak siap punya suami model demikian. Sebab semenjak suaminya tak lagi seimbang membagi waktunya demi ibadah dan bekerja, ekonominya memang merosot drastis. Semboyan suaminya “ana dina ana upa” memang terwujud, tapi apa orang bisa kenyang makan upa saja? Orang yang dibutuhkan kan nasi sepiring berikut lauk pauknya, bukan sekedar upa yang cukup hanya untuk mengelem prangko. Kalau sekedar upa, minta tetangga juga pasti diberi.

Istri Untung ini malu jika kemudian selalu menjadi beban orangtua berikut jajarannya. Maka ketika kemudian ada lelaki lain memberi pertolongan jaminan ekonomi sehari-hari, dia tak mampu menolak. Tenyata di dunia ini memang tak ada yang gratis. Lama-lama lelaki itu mengajaknya dalam kehidupan rumahtangga normal, alias menikah resmi. Karena Nurul bukan orang bebas, Umar, 40, berharap wanita itu segera minta cerai pada Untung, kalau perlu talak tiga sekaligus.

Menatap hari depan yang lebih jelas, Nurul mencoba menanggapi tawaran duda tersebut. Mulailah dia pacaran dalam rangka penjajagan. Tapi namanya di kampung, baru jalan berdua saja belum sampai yang “macem-macem” orang sudah ribut macam lihat foto bugil Rahma – Sarah Azhari di internet. Nah, Untung yang masih sibuk dengan “komunitas”-nya, terperangah juga dengar kabar istrinya selingkuh. Dia rupanya baru sadar bahwa istrinya yang cantik dan disia-siakannya itu kini tengah ditaksir orang.

Apapun alasanya, dia tak rela Nurul jatuh ke pelukan lelaki lain. Tapi Nurul juga tak bisa punya suami yang tak mampu menjaga keseimbangan beribadah. Stresslah Untung. Sebagai santri, dia mencoba curhat pada ustadz Dawam guru panutannya di Surabaya. Celaka 13, sang guru sedang sakit sehingga tak bisa memberikan solusi. Bayangan Nurul segera lepas dari genggaman semakin nyata. Merasa tak ada harapan, daripada pusing Untung ambil palu dan digetokkan ke kepalanya. Pletakkkk…..! Tak mati dia, kecuali pingsan dan benjol. Gegerlah keluarga ustadz dan Untung dilarikan ke RSUD Dr. Sutomo.

Habis, istri cantik kalau tak diberi makan ya jelek juga akhirnya. (JP/Gunarso TS)

Sumber: Pos kota online